Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 40


__ADS_3

Kini widia tengah berada di ruang make up, dan dia juga telah berganti pakaian dengan pakaian yang telah di sediakan.


Dan tak beberapa lama widia keluar dari ruang make up, banyak pasang mata yang melihat ke arahnya.


"Kau sudah siap." Tanya riko.


"Iyah." Jawab widia.


"Baiklah kita mulai sekarang." Ucap riko pada semua orang yang ada di studio.


Kini widia tengah berpose, dan banyak yang berdecak kagum melihat fose widia yang nampak sempurna.


Skip.


Setelah selesai dengan pemotretan, widia dan mbak lala di panggil ke ruangan riko untuk membahas masalah kontrak.


"Aku sangat salut padamu widia, tak ku sangka jika kau sangat berbakat di dunia model." Puji riko.


"Terimakasih atas pujiannya." Jawab widia.


"Dan karena aku sudah melihat kemampuanmu, maka kontrak ini milikmu." Ucap riko.


"Terimakasih." Jawab widia senang.


Kring, kring, kring.


Terdengar telpon kantor berbunyi dan riko langsung mengangkat telpon tersebut.


"Hallo."

__ADS_1


"Bagaimana dengan model baru kita."


"Dia sudah saya tes tuan, dan hasilnya sangat memuaskan."


"Jika kau bilang begitu maka aku ingin melihat model pilihanmu itu."


"Baik tuan saya akan mengajak dia ke ruangan anda."


Setelah mengakhiri panggilan tersebut riko kembali mengalihkan perhatiannya pada widia.


"Baiklah sekarang kita mulai tanda tangan kontraknya." Ucap riko sambil mengeluarkan sebuah map. "Kau boleh baca-baca dulu."


Lalu mbak lala dam widia melihat-lihat isi kontrak tersebut.


"Tak ada yang aneh wi."


"Iyah mbak."


-Model harus menuruti semua perintah CEO perusahaan yang mengontraknya, jika melawan perintah maka gaji akan di potong.


-Dan jika melanggar kontrak atau berhenti sebelum kontrak selesai maka harus membayar denda senilai 50 juta.


"Apa maksud dari peraturan yang ini." Ucap widia sambil menunjukkan kedua peraturan terakhir.


"Oh, yang itu kau harus menuruti semua perintah CEO dan jika berhenti kau harus membayar denda." Jawab riko menjelaskan.


"Kenapa aku harus menuruti semua perintah CEO." Tanya widia tak mengerti.


"Ya karena CEO adalah bos di perusahaan ini jadi tak ada salahnya menuruti perintahnya." Jawab riko.

__ADS_1


"Masuk akal, baiklah aku akan menandatangani kontrak ini." Ucap widia.


"Silahkan." Jawab riko.


Lalu widia menandatangani kontrak tersebut tanpa ragu, dengan senyum senang widia menandatanganinya di atas matrai.


"Sudah." Ucap widia sambil menyerahkan kertas kontrak tersebut.


"Baiklah, senang bekerja sama dengan anda." Ucap riko sambil menjabat tangan widia dan mbak lala.


Dan widia hanya membalasnya dengan senyuman.


"Oh, iyah tadi saya mendapat pesan jika CEO ingin bertemu dengan kalian, sekalian mungkin dia ingin mengucapkan selamat atas kontrakmu." Ucap riko.


"Baiklah kami akan menemui CEO." Ucap mbak lala.


"Baiklah mari ikut saya." Ajak riko pada widia dan mbak lala.


Dan kini mereka berjalan menuju lift, dan riko langsung menekan lantai paling atas.


"Ruangan CEO rupanya paling atas." Ucap mbak lala.


"Iyah, dan di lantai itu hanya ada satu ruangan." Ucap riko.


"Kenapa hanya ada satu ruangan." Tanya mbak lala.


"Karena dia bukan tife orang yang suka di ganggu." Ucap riko menjelaskan.


Entah kenapa widia tak tertarik untuk bertanya dengan CEO yang riko maksud, paling kakek-kakek tua bangka yang perutnya bucit, pikir widia.

__ADS_1


Ting...


Pintu lift pun terbuka kini mereka sudah berada di lantai paling atas, dan benar hanya ada satu ruangan. Terlihat widia mengerutkan keningnya, entah kenapa ruangan ini seperti tak asing untuknya.


__ADS_2