
Di pagi hari yang cerah nampak angga, dan ibunda angga tengah duduk sambil menunggu sarapan datang, sonia dan ibunda angga datang berkunjung saat malam hari dan mereka juga menginap di rumah angga. Ibunda angga nampak sangat menyukai widia yang telaten dalam menyiapkan sarapan baginya widia sangat cocok di jadikan menantunya.
"Angga?" Tanya ibundanya.
"Iya bun." Jawab angga.
"Apa kamu gak ada niatan buat ngelamar widia?" Tanya ibundanya.
"Khuk, khuk, khuk.." Angga yang tengah minum langsung tersedak saat mendengar ucapan dari ibundanya. "Kenapa bundanya tanya kaya gitu?"
"Enggak, bunda cuman kepengen kamu cepet-cepet nikah, dan kasihan juga andi. Dan juga gak baik loh kalau widia tinggal 1 atap dengan kamu tapi kalian tak memiliki hubungan. Nanti apa kata tetangga coba." Ucap ibunda angga.
Terlihat angga sedikit melamun, benar apa yang di katakan oleh ibundanya. Mungkin angga harus membicarakan ini pada widia.
Sementara ibunda angga nampak senyum-senyum karena ucapannya bisa membuat angga mengambil langkah tegas.
"Nanti setelah sarapan kamu dan widia ke kamar bunda yah, ada yang ingin bunda omongin ke kalian berdua."
Dan angga hanya mengangguk saat mendengar ucapan dari ibundanya.
Lalu tak beberapa lama datang widia dan sonia membawa beberapa piring yang berisi makanan.
"Makanan udah jadi." Ucap sonia senang.
"Wih, siapa ini yang masak?" Tanya ibunda angga.
"Aku dong bun." Jawab sonia.
"Kamu yang masak? Dunia gak akan kiamat kalau kamu yang masak." Ucap angga.
"Apaan sih kak, ya udah kalau kamu gak suka jangan makan." Ucap sonia.
"Iyah, iyah maafin kakak tampanmu ini sonia." Ucap angga merayu.
"Dasar." Jawab sonia.
Sementara widia hanya tersenyum melihat pertengkaran kecil antara kakak beradik tersebut, dan andi sudah memulai makan tanpa memperdulikan ocehan dari tante dan ayahnya.
Skip.
Kini sarapan pun sudah selesai, terlihat angga dan widia tengah berjalan bersama menuju kamar ibunda angga.
"Apa yang ingin ibumu bicarakan?" Tanya widia.
"Aku tak tahu." Jawab angga.
Kini mereka sudah berada di depan pintu kamar ibunda angga. Lalu angga langsung mengetuk pintu kamar tersebut.
"Masuk." Ucap ibunda angga.
Lalu angga dan widia langsung memasuki kamar ibunda angga, terlihat sang ibunda tengah duduk di atas ranjang.
"Kemari, duduk di sini." Ucap sang ibunda kepada angga dan widia. Lalu angga dan widia langsung menuruti ucapannya.
__ADS_1
"Ada apa bunda menyuruh saya dan angga kemari?" Tanya widia memulai pembicaraan.
"Angga belum mengatakannya kepadamu?" Tanya ibunda angga kepada widia.
"Mengatakan apa? Kenapa kau tak memberitahu ku." Tanya widia pada angga.
"Baiklah-baiklah biar aku jelaskan dulu widia." Ucap angga.
"Cepat jelaskan." Ucap widia.
"Kau tahukan kalau kau sudah mengandung anakku." Ucap angga.
"Terus?" Tanya widia.
"Dan lagi kau tinggal di rumahku, tapi kita tak memiliki hubungan dan mungkin orang lain akan beranggapan berbeda." Ucap angga menjelaskan.
"Jadi maksudmu aku harus pindah?" Tanya widia.
"Bukan itu maksudku." Jawab angga.
"Lalu apa?" Tanya widia.
Angga nampak bingung harus mengatakan apa pada widia, entah kenapa mulunya sulit untuk mengeluarkan kata-kata dan terlihat keringat bercucuran dari tubuhnya.
Ibunda angga yang melihat putranya gugup, langsung angkat bicara membantu angga.
"Begini widia, bunda ingin kamu dan angga menikah." Ucap ibunda angga pada widia.
"Me...ni...kah?" Nampak widia kanget dengan apa yang dia dengar.
Widia nampak tak tega melihat ibunda angga yang memohon padanya, dan benar juga yang di katanya Andi pasti ingin memiliki keluarga yang lengkap.
"Baiklah widia setuju tapi widia tak tahu kalau angga, mungkin dia sudah memiliki calon." Ucap widia.
"Tidak angga tak memiliki calon. Benarkan angga?" Tanya ibundanya.
Dan angga hanya menganggu sebagai jawaban.
"Baiklah karena kalian sudah setuju untuk menikah maka kita akan adakan acara pernikahan yang meriah." Ucap ibunda angga senang.
"Tapi widia tak ingin ada pesta yang megah, widia hanya ingin pernikahan yang sederhana." Ucap widia.
"Baiklah, aku memang tak salah memilihmu menjadi menantuku." Ucap ibunda angga sambil membelai rambut widia. Dan widia hanya tersenyum saat mendengar ucapan ibunda angga.
Setelah pembicaraan tersebut angga dan widia langsung meninggalkan kamar ibunda angga, terlihat widia hanya bisa diam. Sekarang pikirannya tengah melayang ke banyak hal.
"Apa mungkin ini pilihan yang benar, apa aku tak akan menyesal dengan keputusan ku ini." Pikir widia.
Angga yang mengetahui widia tengah memikirkan suatu hal, langsung menarik tangan widia.
"Apa?" Tanya widia kaget.
"Aku tahu kau pasti memikirkan soal pernikahan kita." Ucap angga.
__ADS_1
Widia nampak diam tak menjawab pertanyaan dari angga. "Anu aku ada beberapa persyaratan untukmu."
"Persyaratan apa?"
"Kita bisa bicarakan di taman belakang." Pinta widia.
"Baiklah."
Lalu widia dan angga berjalan ke taman yang ada di belakang rumah angga, kini mereka berdua tengah duduk di sebuah bangku.
"Syarat apa yang ingin kau ajukan." Tanya angga.
"Karena kita hanya sebatas pernikahan di atas kertas maka kau harus mengikuti persyaratan yang ku ajukan."
"Iyah apa syaratnya widia."
"Yang pertama kau tak boleh menyentuhku."
"Syarat macam apa itu, terus untuk apa aku menikahimu jika aku tak boleh menyentuhmu. Itu sebuah kerugian besar untukku."
"Iyah aku hanya..." Widia nampak bingung harus menjawab apa.
"Aku tak setuju untuk syarat itu."
"Baiklah, lanjut ke syarat berikutnya kau tak boleh mengumumkan bahwa aku adalah istrimu."
"Apa-apaan itu, aku tak terima syarat seperti itu. Kenapa aku tak boleh mengumumkan pada orang bahwa kau istriku apa karena kau takut jika fans lelakimu menjauhimu karena mereka tahu kau sudah menikah."
"Kenapa jadi ke fansku sih?"
"Yang jelas aku tak setuju."
"Baiklah terserah kau saja."
"Kau harus beri syarat yang masuk akal, kedua syaratmu yang tadi tak masuk akal." Oceh angga.
"Baiklah jika aku ingin syarat yang masuk akal maka, aku ingin kau setia terhadapku kau tak boleh berdekatan dengan prempuan lain dan kau harus mematuhi semua ucapanku karena aku istrimu." Ucap widia sambil tersenyum karena dia yakin angga pasti tak akan setuju dengan syaratnya itu.
"Baiklah aku setuju." Jawab angga.
"What..." Ucap widia sedikit membentak.
"Kenapa?" Tanya angga.
"Kenapa kau setuju?"
"Karena syarat itu masuk akal."
"Baiklah."
"Dil?"
"Dil."
__ADS_1
Lalu angga menyetujui 1 syarat yang di ajukan oleh widia, dan kini mereka tinggal melaksanakan pernikahan.