
Kini Dewi pun sudah di makamkan, di komplek pemakan umum. Nampak Kila hanya bisa menangis saat melihat jasad ibunya sudah di kebumikan.
Dan Widia selalu berada di samping Kila untuk menenangkan dirinya.
"Ibu..." Panggil Kila pada ibunya yang sudah terkubur di dalam tanah.
"Sudah Kila, ayo kita pulang." Ajak Widia.
"Kila mau sama ibu... Kila mau di sini sama ibu." Ucap Kila sambil memeluk batu nisan milik ibunya.
"Ayo Kila, hari sudah sore." Ajak Widia.
"Kila udah gak punya ciapa-ciapa." Ucap Kila.
"Kamu tinggal sama tante sayang, sekarang ayo kita pulang." Ajak Widia.
"Gak mau, Kila mau sama ibu. Kila gak mau ninggalin ibu, ibu kasian cendilian di bawah sana." Ucap Kila.
Lalu Widia melihat ke arah Angga dan memberinya kode untuk memangku Kila, lalu Angga langsung memangku tubuh mungil milik Kila.
"Ibu..." Teriak Kila sambil terus melihat makan ibunya.
Kini Widia, Angga, Kila dan juga Andi sudah berada di rumah. Lalu Widia menyuruh Kila untuk masuk ke kamarnya dan begitu juga dengan Andi.
Sementara itu Angga dan Widia langsung masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
"Sayang." Panggil Widia.
"Ada apa?" Tanya Angga.
"Apa kau tidak bisa bersikap lembut pada Kila, meski begitu juga di anakmu loh." Ucap Widia.
"Dia bukan anakku, bahkan kita belum melakukan tes DNA dan untuk saat ini dia bukan anakku." Ucap Angga.
"Jika dia terbukti anakmu, bagaimana?" Tanya Widia. Lalu Angga langsung menatap Widia.
"Aku akan mengakuinya sebagai anakku." Jawab angga. "Tapi jika bukan, dia harus pergi dari rumah ini." Ucap Angga pada Widia.
Widia yang mendengar hal itu langsung mengerutkan halisnya. "Dia sudah tak punya siapa-siapa, apa kau tak kasihan dia hanyalah anak kecil." Ucap Widia.
"Kau tahu? Dari kecil aku sudah di ajarkan untuk tak memiliki rasa kasihan pada orang luar." Ucap Angga sambil menatap Widia.
Esok harinya...
Kini Widia dan Angga tengah berada di rumah sakit, mereka akan melakuy tes DNA Kila. Apakah dia anak Angga atau bukan.
"Tante, kita mau apa kecini?" Tanya kila.
"Kita mau periksa kesehatan Kila." Jawab Widia, dia tak mungkin menjelaskan maksud yang sebenarnya mereka kemari di tambah Kila pun pasti tak akan mengerti.
"Tapi Kila, sehat kok Tante." Jawab Kila. Dan Widia langsung tersenyum mendengar ucapan Kila, dia sangat gemas pada wajah Kila yang lucu.
__ADS_1
Lalu suster pun datang, dan menyuruh Kila dan Angga untuk masuk. Lalu Kila dan Angga langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah di sediakan.
Tak beberapa lama, Angga dan Kila pun sudah keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Widia.
"Hasilnya tak akan keluar sekarang paling besok atau lusa." Jawab Angga.
"Hmm.." Dan Widia hanya bergumam saja.
"Kalau begitu ayo pulang, aku masih banyak pekerjaan." Ajak Angga.
"Ya udah ayo." Ucap Widia sambil menggandeng tangan Kila, Kila yang melihat Widia sangat baik dan lembut padanya sangat senang.
Di dalam mobil...
Angga hanya diam dan terus pokus pada jalanan, sementara Widia terus melihat ke arah perutnya yang sudah mulai membesar.
"Apa kau sudah menyiapkan nama?" Tanya Angga.
"Belum, kalau kau?" Tanya Widia.
"Entahlah, kenapa tadi tidak sekalaian saja melakukan USG." Tanya Angga.
"Nanti aja kalau kandungan udah 7 atau 8 bulan." Ucap Widia.
__ADS_1
"Hem, iya deh. Kamu harus jaga kandungan ini dengan baik. ingat harus jaga pola makanmu." Ucap Angga sambil melihat ke arah perut milik istrinya itu.
"Iya sayang." Jawab widia, senang.