
Kini Widia, Angga, Andi dan Kila pun sudah sampai di rumah sakit tempat Dewi di rawat. Kila dengan wajah senang, berlari menuju ke kamar tempat ibunya di rawat.
Terlihat wajah Dewi semakin pucat, dan ada beberapa selang tertempel di tubuhnya.
"Ibu." Panggil Kila.
"Kila." Jawab ibunya pelan.
"Ibu kenapa?" Tanya Kila yang melihat kondisi ibunya.
"Ibu gak papah kok nak." Jawabnya. Lalu mata Dewi melihat ke arah Widia, dengan tatapan sendu dan penuh harap. "Kamu harus jadi anak baik nak, jangan nakal." Ucap Dewi menasehati anaknya.
"Iya Bu, Kila gak bakalan nakal." Ucap Kila.
Nampak air mata Dewi mengalir dari ujung matanya, dia tak sanggup jika harus berpisah dengan putrinya itu. Tapi mau bagaimana lagi takdir berkata lain.
"Ibu kok nangis?" Tanya Kila.
"Gak papah sayang." Jawabnya. Lalu Dewi berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya dan dia langsung memeluk Kila dengan sangat erat, setidaknya Kila masih bisa merasakan hangatnya pelukan dari ibunya untuk terakhir kalinya.
Tak beberapa lama, kepala Dewi sangat pusing. Dan dia seperti susah untuk bernafas. Widia yang melihat hal itu langsung memanggil dokter sementara Kila langsung menangis melihat ibunya.
__ADS_1
Tak beberapa lama dokter pun datang, dan semua orang yang ada di ruangan langsung di suruh keluar.
Nampak Kila hanya bisa menangis saat melihat ibunya seperti itu.
"Tante, ibu Kila kenapa?" Tanya Kila pada Widia.
"Ibu Kila gak papah kok." Jawab Widia, sambil dia sendiri tahu jika Dewi tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara Andi dan juga Angga hanya bisa diam, mereka seperti bersikap biasa saja, toh Dewi bagi Andi maupun Angga hanyalah pengganggu yang datang secara tiba-tiba.
Sementara Kila terus menangis di pelukan Widia, dan Widia pun ikut menangis. Dia membayangkan jika Kila adalah Andi yang kehilangan dirinya suatu saat nanti.
Lalu tak beberapa lama datang dokter yang menangani Dewi.
"Iya dok, bagaimana dengan keadaan pasien?" Tanya Widia.
"Maaf Bu, Bu Dewi sudah tak bisa di selamatkan, kami harap bapak dan ibu bisa tabah." Ucap dokter tersebut.
Kila yang mendengar hal itu langsung bertanya pada Widia.
"Tante, ibu kenapa?" Tanya Kila.
__ADS_1
"I..Bu..Ki..la..u..dah meningal." Ucap Widia.
"I..Bu..Kila gak mungkin meninggal Tante. Ibu udah janji gak bakalan ninggalin Kila cendirian di sini. IBU...." Kila Nampak shock saat mendengar tentang kematian ibunya.
"Kila harus sabar." Ucap Widia sambil memeluk Kila.
"Ibu.. Hiks, hiks, hiks.. Ibu gak boleh ninggalin Kila." Ucap Kila, lalu nampak mayat Dewi di bawa ke kamar mayat.
Kila yang melihat hal itu, langsung berlari dan memeluk ibunya yang sudah tak bernyawa.
"Ibu.. Bangun, ibu jangan ninggalin Kila cendilian. Ibu udah janji sama Kila gak akan ninggalin Kila. Ibu bangun.... Ibu jangan tidur... Ibu... Ibu... Hiks, hiks, hiks.." Teriak histeris sambil terus memeluk tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa.
"Sudah Kila.." Ucap Widia sambil menarik Kila, Angga yang melihat Kila memberontak langsung mengambil Kila dari Widia dia tak mau jika kandungan milik Widia terluka.
"Ibu... Jangan pelgi..." Teriak Kila yang melihat ibunya di bawa pergi oleh suster menuju kamar mayat.
Lalu Kila berusaha melepaskan diri dari tubuh Angga, dan dia berusaha kembali memeluk tubuh ibunya.
"Ibu gak boleh pelgi, jangan bawa ibu Kila." Ucap Kila pada perawatan yang membawa mayat ibunya.
"Sudah de, ikhlaskan ibunya untuk pergi." Ucap salah satu perawat.
__ADS_1
Kila terus menangis, dia tak mau kehilangan ibunya. Karena baginya ibunya itu adalah orang paling penting di hidupnya.