
"Aku tidak pernah menyangka rumah tangga kita yang baru seumur jagung akan berakhir seperti ini."
Suara lirih menggema di penjuru ruangan. Suara sarat akan luka yang begitu mendalam, tetapi mengandung penuh kebencian berhasil menghentikan langkah Tania. Perempuan berwajah oriental memaksakan diri untuk tersenyum meski sejujurnya ia pun merasakan sakit yang teramat perih akibat perpisahan ini. Berpisah dengan seseorang yang dicintai menyisakan kesedihan tersendiri bagi wanita muda itu.
"Aku pun tidak pernah menyangka kalau hubungan yang kita bina selama empat tahun berakhir seperti ini. Namun, inilah kenyataan yang harus kita hadapi bersama." Tania membalas perkataan pria berwajah blasteran Amerika Indonesia dengan suara datar. Mencoba untuk membuat dirinya terlihat baik-baik saja meski hatinya hancur berkeping-keping bagai vas bunga yang dilempar ke lantai.
Alexander Vincent Pramono, pria berusia dua puluh lima tahun mengepalkan kedua tangannya dengan begitu erat hingga memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangan. Rahang mengeras disertai dada kembang kempis. Amarah dalam diri pria itu telah mencapai ubun-ubun hingga tidak bisa ditahan lagi. Wanita yang selama empat tahun menjadi tempatnya berbagi keluh kesah sejak mereka sama-sama masih duduk di bangku kuliah semester tiga memutuskan mengakhiri pernikahan yang baru dibina selama tiga bulan.
"Seandainya saja kamu tidak selingkuh dengan Abraham, sepupuku mungkin saat ini kita--"
"Maafkan aku, Xander," sergah Tania cepat sebelum Xander menyelesaikan kalimatnya. Masih mengulum senyum di sudut bibirnya yang ranum. Kelopak mata mengerjap beberapa kali, menghalau buliran kristal yang nyaris meluncur tanpa meminta izin terlebih dulu. Hidung wanita itu terasa masam dan dada semakin sesak seakan udara sekitar tak mampu memenuhi pasokan oksigen di paru-parunya.
Xander melihat betapa tegarnya Tania menghadapi situasi ini jadi semakin hilang kendali. Ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa mantan istrinya itu bisa tegar menghadapi perceraian ini. Dalam hati berkata apakah memang Tania sudah tidak mencintainya lagi hingga ia sengaja berselingkuh di belakangku? Menggunakan trik licik itu untuk terlepas dari belenggu cintanya?
__ADS_1
"Aku pergi dulu, Xander. Jaga dirimu baik-baik. Kuharap, setelah perpisahan ini hidupmu menjadi lebih bahagia dapat bertemu dengan wanita baik-baik, dari keluarga terpandang dan tentunya dia setia."
"Pergilah! Jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku. Aku membencimu, Tania Maharani. Sangat ... membencimu!" Satu hal yang sangat dibenci oleh Xander di dunia ini adalah pengkhianatan dan Tania--istri tercinta melakukannya. Padahal, ia begitu percaya kalau Tania adalah istri setia yang akan menjaga kehormatan keluarga saat dirinya tidak ada di rumah.
"Aku senang bila kamu membenciku, Xander. Dengan begitu, kamu bisa melupakanku dengan cepat dan memulai hidup baru bersama wanita lain. Aku pastikan ini adalah pertemuan kita yang terakhir kali. Di kemudian hari kita tidak akan berjumpa lagi." Tania tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan putih. Meskipun hatinya terasa sakit bagai disayat-sayat, tapi dia mencoba tegar. "Selamat tinggal, Xander." Suamiku tercinta. Kalimat terakhir hanya mampu Tania ucapkan dalam hati.
Tanpa menunggu jawaban dari Xander, Tania membalikan badan sambil menarik kopernya keluar. Kemudian ia mengayunkan kembali kakinya yang sempat tertunda menuju sebuah taxi yang sudah menunggunya dengan setia sedari tadi.
Setiap ketukan heels sepatunya menyentuh lantai rumah mewah bergaya Eropa modern, di saat itu pulalah buliran air mata mulai berjatuhan membasahi pipi. Susah payah Tania mencoba tegar di hadapan Xander, tetapi usahanya sia-sia. Air mata itu terus meluncur tanpa bisa dihentikan.
Tania membuka pintu mobil, kemudian duduk di belakang kursi penumpang. Belum sempat meminta sang sopir melajukan kendaraanya, ia merasa ada sesuatu yang naik dari perutnya. Secepat kilat wanita itu membungkam mulutnya agar cairan bening tidak sampai keluar dari mulutnya.
"Jalan sekarang, Pak!" ucap Tania lirih. Setelah itu, ia menangis sekencang-kencangnya meluapkan isi hatinya lewat tangisan.
__ADS_1
Hati semakin sakit bagai ditusuk jarum oleh tangan tak kasat mata tatkala bola matanya yang buram dipenuhi air mata melihat sosok pria yang dicintainya tengah menatap kosong ke arahnya. Lalu, tanpa terasa beberapa tetes air mata menuruni pipi di wajah tampan sang lelaki. Melihat itu semua, membuat tangisan Tania semakin pecah, dada pun terasa sesak bagai dihimpit oleh sebongkah batu besar.
Ingin rasanya Tania berlari, memeluk pria itu dan mengatakan alasannya kenapa ia bisa sampai bersama Abraham malam itu. Akan tetapi, ia merasa semuanya percuma sebab sampai kapanpun Xander tidak akan pernah percaya lagi kepadanya. Di mata mantan suaminya, ia hanyalah seorang pengkhianat!
Perlahan, kendaraan roda empat yang dilajukan oleh sopir taxi melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota. Siang itu, Tania memutuskan pergi dari kehidupan Xander untuk selamanya. Ia pergi dengan membawa cinta dan sejuta kenangan indah saat mereka masih bersama.
Sebelah tangan Tania merangkat ke atas, lalu membungkam mulutnya agar tangisan itu tidak semakin kencang. Kembali duduk tegak dengan posisi menghadap lurus ke depan. Xander, mantan suami Tania, tidak mengetahui jika di dalam rahimnya kini telah tumbuh benih yang ia tanamkan selama tiga bulan belakangan ini.
Sayang, walaupun kita tidak tinggal bersama Papa, tapi Mama janji akan menjaga dan merawatmu dengan baik. Tania mengusap perutnya dengan lembut di sela isak tangis menyayat kalbu.
.
.
__ADS_1
.