Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Sebuah Kesepakatan


__ADS_3

"Adek kecil, katakan pada Kakek, apa maksudmu datang ke sini dan berniat menemui Xander, anakku?" Jonathan memulai percakapan setelah terjadi keheningan beberapa saat.


Oh ... jadi Kakek tampan ini adalah ayah dari Om jahat itu? kata Arsenio dalam hati. Ia perhatikan paras rupawan berambut keperakan di seberang sana. Sosok pria paruh baya itu masih terlihat begitu gagah berani meski usia tak lagi muda. Walaupun sebagian rambutnya mulai memutih, tapi aura ketampanan masih terpancar di wajahnya yang bule asli.


Arsenio meraih susu kotak yang ia minta kepada sang pemilik perusahaan, kemudian menyesapnya hingga susu rasa cokelat habis tak bersisa. Setelah itu barulah ia berkata, "Kedatanganku ke sini sebetulnya ingin menawarkan kesepakatan kerjasama antara aku dan Om jahat itu."


Mendengar Arsenio menyebut anak semata wayangnya dengan sebutan 'jahat' membuat kedua alis Jonathan mengerut petanda bingung. Ia tak mengerti kesalahan apa yang diperbuat Xander hingga sang putera dicap sebagai orang jahat oleh anak kecil imut di hadapanya. "Kesepakatan apa?" tanya pria itu penasaran.


Arsenio merosotkan badannya yang mungil dari kursi putar di seberang Jonathan, kemudian ia duduk di sofa dengan posisi kaki tersilang. "Kesepakatan kerjasama dong, Kek."


Tiba-tiba perasaan Jonathan menghangat saat mendengar Arsenio memanggilnya 'kakek'. Perasaan yang tadi sempat menghilang kini muncul kembali ke permukaan. Ingin sekali ia mencari tahu siapa ibu kandung bocah tampan bermata hazel itu, tapi rasa penasaran akan kedatangan Arsenio membuat lelaki itu terpaksa menunda keinginannya itu.


Lantas, Jonathan kembali berkata, "Adek kecil bisa jelaskan pada Kakek, kesepakatan apa yang kamu inginkan."


Sudut bibir Arsenio tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan seperti busur panah. "Aku mendengar bahwa data perusahaan V Pramana Group sempat diretas oleh seorang hacker dan bukan itu saja, sebagian data perusahaan pun tak bisa diselematkan akibat terkena virus bernama I hate you, Dad. Nah, kedatanganku ke sini ingin membantu Om jahat itu mengembalikan data perusahaan yang sempat diamuk virus beberapa hari lalu," tutur bocah itu.


"Mengembalikan data perusahaan, bagaimana bisa? Seluruh tim IT perusahaanku saja tak mampu memulihkan data yang terkena amukan virus tersebut." Jonathan menatap sangsi akan sosok bocah di seberang sana.


Arsenio berusia hampir enam tahun, kelas nol besar di salah satu taman kanak-kanak yang jaraknya tidak begitu jauh dari apartemen sewaan Tania. Penampilan bocah itu pun sama seperti anak-anak pada umumnya. Jadi, mana mungkin bisa membantunya mengembalikan data yang terlanjur kena virus. Aneh-aneh saja, begitu pikir ayah kandung Xander.


Jemari mungil itu kembali meraih snack ringan yang ada di atas meja kaca berbentuk persegi panjang. Ia merobek tepian bungkusan tersebut, kemudian mengunyah makana ringan itu. Kali ini pilihan bocah itu pada keripik kentang rasa rumput laut kesukaannya.

__ADS_1


"Kakek boleh aja enggak percaya sama aku dan menganggapku pembohong. Namun, aku berkata jujur bahwa aku bisa membantu perusahaan ini dengan memusnahkan virus tersebut dengan antivirus buatanku sendiri," ucap Arsenio santai sambil terus mengunyah snack. Ia tampak begitu menikmati hidangan yang ada di atas meja hingga tanpa sadar ada sebagian bumbu makanan ringan tersebut menempel di sudut bibir.


Bola mata Jonathan terbelalak sempurna tanda terkejut atas perkataan yang disampaikan oleh Arsenio. Belum usai keterkejutannya tatkala melihat sosok kecil mirip sekali dengan anak tercinta kini ia dikejutkan akan sesuatu yang sangat mustahil dicerna oleh orang dewasa.


"Kenapa kamu bisa yakin kalau antivirusmu dapat mengembalikan data perusahaan?" tanya mantan mertua Tania sembari memijat pelipisnya yang terasa pening mendadak.


"Karena akulah pencipta virus tersebut," sahut Arsenio santai. Ia gerakan kedua kakinya yang menjuntai di lantai seraya menggerakan kepala ke sana kemari.


Jonathan terlonjak kaget dan melompat bangun dari kursi kebanggannya. Kali ini bukan hanya matanya saja yang terbelalak, tapi rahangnya pun terbuka sempurna bahkan nyaris copot dari tempatnya. "T-tidak mungkin. K-kamu pasti berbohong, 'kan?" tanya lelaki itu tergagap.


Arsenio mengerucutkan bibir ke depan. Perkataan Jonathan yang mengatakan jika dirinya sedang bercanda membuat bocah itu tersinggung. Ia membuang begitu saja bungkusan snack yang masih tersisa beberapa kepingan kripik di dalamnya sebab sudah tak berselera lagi.


Pria berdarah Amerika tak tahu harus menjawab apa. Sungguh, ia dibuat terpana akan sikap anak kecil itu. "Dengan cara apa Kakek harus percaya bahwa kamu adalah pencipta virus I hate you, Dad?"


Arsenio mengeluarkan beberapa lembaran kertas putih dan satu buah flash disk dari dalam tas. Bocah kecil itu berjalan menghampiri Jonathan. "Ini adalah algoritma yang aku pecahkan kemarin sore dan di dalam sini ada antivirus yang sudah kubuatkan untuk membasmi virus I hate you, Dad." Ia menyodorkan lembaran kertas putih dan benda berbentuk kecil ke dapan sang kakek.


Bola mata lelaki paruh baya itu bergerak saat membaca isian dari lembaran kertas di hadapannya. Menghirup udara sebanyak mungkin guna mengisi pasokan oksigen di dalam paru-paru.


"Jadi ... kamulah hacker Little Baby B, itu?" tanya Jonathan dengan suara tercekat. Tatapan mata menatap lekat mata hazel jernih dan indah.


Arsenio mengangguk. "Benar, Kek. Akulah hacker yang telah meretas data perusahaan Kakek dan memporakporandakannya dengan virus yang kuciptakan."

__ADS_1


Jonathan menatap Arsenio dengan sorot mata yang tak terbaca. Ingin tak percaya, tapi semua bukti ada di depan mata. Naluri kecilnya pun mengatakan bahwa anak lelaki di sebelahnya bukanlah seorang pembohong.


Pria bertubuh jangkung berdehem untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering dan perih, seakan ada segerombolan kaktus bersemayam di dalam sana.


"Jika kamu berhasil mengembalikan data perusahaan dan membasmi virus itu, apa yang harus aku lakukan sebagai imbalannya?"


Anak semata wayang Tania dengan sang mantan suami tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih. Jemari tangan melambai memberi kode kepada Jonathan agar membungkuk. Lantas, ia mulai membisikkan sesuatu.


"Hanya itu permintaanmu, Adek kecil?" tanya Jonathan setelah si kecil Arsenio menyampaikan keinginannya.


Arsenio mengangguk. "Benar. Hanya itu saja. Imbalannya mudah, bukan?" Seringai nakal terlukis di sudut bibirnya yang mungil.


Jonathan terkekeh pelan. "Sangat mudah sekali. Baiklah, Kakek setuju dengan permintaanmu." Ia mengulurkan tangan ke depan, mencoba melakukan kesepakatan di antara mereka layaknya orang dewasa.


"Oke, deal!" balas Arsenio menjabat tangan pria paruh baya yang tak lain adalah kakeknya sendiri. Lalu, keduanya tersenyum bahagia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2