Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Penyesalan Amanda


__ADS_3

Acara pers conference dan lamaran yang dilakukan tuan muda Vincent menjadi berita utama pada laman pencarian. Berbagai akun gosip terus membahas tentang kesalahan Miranda dan prosesi lamaran yang dilakukan Xander kepada mantan istrinya, Tania. Para netizen tak luput memberi komentar mereka di kolom komentar pada berbagai akun gosip yang memuat berita tersebut.


Amanda yang baru saja tiba dari Jepang dibuat terkejut kala melihat Cleo berhambur ke arahnya. Wajah putri bungsunya itu terlihat pucat seperti baru saja melihat makhluk halus yang tak kasat mata.


"Syukurlah Mama sudah kembali. Sini deh, Ma, aku mau menunjukan sesuatu kepadamu." Cleo menarik tangan Amanda dengan tergesa menuju sofa di ruang tamu. Amanda yang masih jetleg karena baru saja tiba di tanah air hanya menuruti ke mana langkah anaknya melangkah. Membiarkan Cleo membantunya duduk di sofa.


Kening Amanda mengerut. Tatapan matanya tak pernah lepas dari sosok gadis cantik berambut panjang sebahu. Ada banyak pertanyaan muncul dalam benak wanita itu, tetapi ia tidak tahu harus memulainya dari mana.


Rasa penasaran itu perlahan mulai terjawab ketika Cleo mengeluarkan telepon genggam miliknya dari saku celana. Gadis itu menyerahkan gawai tersebut ke hadapan sang mama yang masih menautkan kedua alis petanda bingung.


"Lihatlah, Ma, apa yang sebenarnya terjadi kemarin pagi." Cleo membuka aplikasi YouTube ke hadapan Amanda. Kemudian jemari lentik itu menekan sebuah icon maka munculah sebuah video yang beredar di dunia maya.


Banyaknya para tamu undangan dengan membawa kamera serta mengenakan name tag yang melingkar di depan dada menjadi pemandangan pertama yang dilihat Amanda saat itu. Jepretan kamera berresolusi tinggi mengarah pada sesosok wanita yang tak asing dalam hidupnya. Seseorang yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya setelah Sarah Pramono dan Adam Pramono kembali kehadapan Sang Maha Kuasa.


"Mbak Miranda?" gumam Amanda saat melihat sang kakak kandung berada di atas panggung ditemani kakak iparnya yang merupakan pria berdarah Amerika. Namun, ada satu hal yang cukup mengejutkan wanita itu yaitu ... kehadiran Tania di tengah kakak serta kakak iparnya bernama Jonathan.


Kening Amanda berkerut, matanya memicing. Ia sampai memaksimalkan pencahayaan telepon genggam milik Cleo untuk memperjelas pandangan.

__ADS_1


Jantung memompa kencang ketika pembawa acara mulai membuka acara tersebut. Udara tercekat di tenggorokan ketika mendengar Miranda berbicara di hadapan semua orang. Mengerahkan kekuatan indera pendengaran demi mengetahui apa maksud Miranda mengadakan pers conference, turut mengundang wartawan dari berbagai media.


Bumi tempatnya berpijak seakan berhenti berputar tatkala telinganya mendengar sebuah kenyataan yang selama ini tidak pernah Miranda katakan kepadanya. Dada kembang kempis, pundak pun bergerak tak beraturan.


"Jadi, selama ini puteraku tidak bersalah? Mbak Mirandalah yang telah menjebak Abraham seolah-olah dia baru saja bercinta dengan Tania." Menggeleng kepala tidak percaya jika selama tujuh tahun Amanda hidup dalam sebuah kesalahpahaman.


Termakan hasutan Miranda, Amanda sampai tidak percaya kepada putera kandungnya sendiri, padahal saat itu Abraham sudah menjelaskan sejujurnya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Namun, ia justru lebih percaya ucapan Miranda karena saat itu ia pun melihat dengan mata kepalanya sendiri jika keadaan Abraham bertelanjang dada hanya mengenakan celana boxer, sementara Tania mengenakan jubah mandi tanpa mengenakan sehelai kain pun.


"Mama pasti terkejut, 'kan? Aku pun sama seperti Mama saat pertama kali melihat video ini. Aku masih belum percaya kalau Bibi Miranda tega memfitnah Kak Tania dan Kak Abraham, menjadikan menantu serta keponakannya sendiri sebagai korban keegoisannya. Apa Bibi Miranda tidak berpikir akibat keegoisannya itu banyak orang menjadi korban?"


Amanda tidak sanggup menyaksikan video itu sampai selesai. Lemas merambat dari ujung kaki dan terus bergerak. Sesuatu ikut merayap naik, dari lambung menuju hati. Ia memilih menghentikan semuanya sebelum hati semakin terluka dalam.


Kala itu, Amanda meminta Abraham pulang ke rumah berniat menginterogasi putera tertuanya itu. Karena malu, ia memutuskan pulang ke rumah dan meminta Abraham menjelaskan kronologinya secara jelas.


"Demi Tuhan, aku dan Tania tidak melakukan hubungan terlarang. Yang kuingat saat itu aku memakan cake pemberian salah satu pelayan di rumah Bibi Miranda. Kepalaku terasa pusing dan setelah itu, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi kepadaku dan Tania," tutur Abraham saat itu.


"Saat terbangun, aku mendapati Tania sedang menangis sambil mencoba menjelaskan sesuatu kepada Xander. Karena posisiku masih belum sadar sepenuhnya, aku hanya melihat mereka bertengkar tanpa berniat mengatakan apa pun kepada Xander."

__ADS_1


Amanda memandang tajam kepada Abraham. "Semua bukti menunjukan kalau kamu bersalah, Abraham. Jadi jangan pernah mengelak lagi! Mama cuma minta kamu berkata jujur, itu saja."


"Berkata jujur bagaimana, Ma? Aku sudah mengatakan yang sejujurnya kepada Mama, bahwa aku dan Tania tidak melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri." Menjeda kalimat, menghirup udara di sekitar sebanyak-banyaknya guna mengisi pasokan oksigen di paru-paru. "Aku memang mencintai Tania, tapi bukan berarti tega merebut istri dari Kakak Sepupuku sendiri."


Semakin mendidihlah kepala Amanda mendengar penuturan Abraham. Merasa jika dirinya tidak pandai mendidik sang putera sehingga anak pertamanya itu jatuh cinta kepada istri orang.


"Cukup! Mama tidak mau lagi mendengar apa pun dari mulutmu. Karena kamu telah mempermalukan nama keluarga, sebaiknya pergi dari rumah ini. Mama tidak sudi tinggal satu atap dengan pembohong besar sepertimu."


Abraham tersentak kemudian menatap nanar pada sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. "Jadi Mama mengusirku? Mama lebih percaya dengan apa yang dilihat daripada perkataan anaknya sendiri?" Ada perasaan hancur ketika mengetahui Amanda tidak mempercayainya.


Di saat semua orang menghujat dan ia membutuhkan dukungan dari orang terdekat, sang mama justru tidak mempercayainya. Hati anak mana yang tidak sakit hati melihat ibunda tercinta termakan hasutan orang lain.


Sejak saat itu, Abraham tak lagi menginjakkan kakinya di rumah tersebut. Pria itu memutuskan tinggal di apartemen dan bekerja di perusahaan lain daripada bekerja di perusahaan milik mendiang sang kakek.


Menyenderkan punggung di sandaran sofa seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat jelas kalau Amanda saat ini tengah frustasi.


"Bagaimana aku bisa tak mempercayai anakku sendiri? Puteraku mengatakan yang sejujurnya, tapi aku justru mengusirnya dari rumah ini. Ya Tuhan, berdosa sekali aku selama ini karena telah menuduh anakku yang macam-macam." Lalu Amanda menatap langit-langit ruangan. Hati semakin sakit bagai ditusuk sebilah pisau tajam ketika melihat bayangan wajah sang suami tercinta tersenyum manis ke arahnya.

__ADS_1


Sebelum mendiang suaminya meninggal dunia, Amanda pernah berjanji kepada sang suami untuk menjaga dan merawat Abraham serta Cleo dengan baik. Selalu mendukung dan terus berada di belakang mereka. Namun, ternyata ia ingkar janji. Ia malah meninggalkan Abraham di saat semua orang membenci dirinya.


...***...


__ADS_2