Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Bukan Mertua, tapi Mantan Mertua!


__ADS_3

"Yeah, Mama! Hore, Mama udah kembali!" Arsenio memekik kegirangan tatkala Tania berjalan ke arahnya. Bocah laki-laki itu sampai berhambur mendekati sang mama. "Mama dari mana aja, kok lama sekali?"


"Maafin Mama, Sayang. Tadi Mama ada urusan sebentar." Tania mengusap puncak kepala Arsenio dengan penuh cinta. "Kamu enggak nakal, 'kan, selama Mama tinggal?" Jemari tangan wanita itu masih mengelus-elus helaian rambut anak tercinta.


Masih dalam pelukan Tania, Arsenio menjawab, "Enggak. Dari tadi aku sibuk baca buku kok. Benar, 'kan, Mbak Surti?" Bocah laki-laki itu menoleh ke samping seakan meminta dukungan dari pengasuhnya.


Surti tersenyum lebar. "Benar, Bu. Den Arsen patuh sekali. Sejak tadi membaca buku yang baru aja dibeli." Wanita itu memandangi sepasang ibu dan anak yang sedang berpelukan. Akan tetapi, bola matanya membulat sempurna saat mendapati warna kemerahan di wajah Tania.


Kenapa pipi Bu Tania merah? Apa ada orang yang berani menamparnya? Kalau memang benar, siapa? tanya Surti dalam hati. Ia cukup penasaran, tapi tidak berani bertanya langsung kepada yang bersangkutan. Biarlah Tania sendiri yang bercerita, toh selama ini mereka saling terbuka satu sama lain.


"Surti, kita pulang sekarang. Tubuhku lelah sekali dan ingin segera istirahat," ujar Tania yang mana dijawab anggukan kepala sang pengasuh.


Keesokan harinya, Tania kembali disibukan dengan rutinitas sehari-hari. Wanita yang wajahnya mirip dengan salah satu aktris Mandarin bernama Zhang Yu Xi begitu sibuk mengurusi anak semata wayangnya yang hendak berangkat sekolah. Walaupun sudah ada Surti yang mengurusi segala keperluan sekolah Arsenio, tetapi wanita bermata sipit dan berkulit indah bagai pualam tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.


"Nah, Arsen, selama Mama masak kamu duduk dulu di sini sambil menonton kartun kesayanganmu. Kalau sudah jadi, nanti Mama panggil kamu. Mengerti?" ujar Tania sambil melepaskan genggaman tangannya dari tangan mungil Arsenio. Wanita itu membantu sang anak duduk di sofa ruang tamu.


Bocah kecil yang sebentar lagi masuk sekolah dasar mengangguk. "Oke, Mama!" jawabnya antusias. "Hari ini aku mau sarapan omlette, boleh 'kan, Ma?"


"Of course, Sayang. Mama akan buatkan omlette spesial khusus untuk kamu." Tania mengecup kening Arsenio. "Ya udah, Mama buatkan sarapan dulu untuk kita semua."


Tania melangkah menuju dapur. Wanita itu membuka lemari pendingin, kemudian mengambil beberapa telur dan mulai memecahkannya ke dalam wadah mangkok. Tidak sadar jika sedari tadi Surti mencuri pandang ke arah majikannya. Tania tampaktak bersemangat dibandingkan hari kemarin sebelum insiden penamparan yang terjadi di mall.


"Bu Tania, baik-baik saja? Kemarin sepertinya hari yang berat untuk Ibu?"


Gerakan tangan Tania terhenti, lalu menoleh pada pengasuh Arsenio. "Saya enggak ngerti maksudmu, Mbak."

__ADS_1


"Maafkan saya, Bu. Kemarin saya enggak sengaja lihat pipi Bu Tania merah seperti habis ditampar orang. Kalau boleh tahu, apa kemarin Ibu habis bertengkar dengan seseorang?" Seketika Surti beralih profesi dari pengasuh menjadi seorang wartawan dadakan yang mencari informasi dari sumber terpercaya.


Menghela napas panjang dan tersenyum kecil. "Ya, saya baik-baik saja, Mbak. Hanya saja kemarin memang ada insiden tak terduga." Tania mengalihkan perhatian pada sosok anak kecil di depan sana.


Tampak Arsenio begitu girang melihat kartun kesayangannya muncul di layar televisi. Sesekali ia melompat tinggi sembari menepuk tangan. Hal itu membuat hati Tania kembali tenang dan sedikit terhibur. Memang benar kata orang, obat penawar dari segala penderitaan yang dialami seorang ibu adalah anak dan Tania mengakui itu semua. Walaupun hati hancur berkeping-keping dan merasa harga diri kembali diinjak, tapi melihat keceriaan anak tercinta membuat wanita itu kembali bersemangat.


"Kemarin saat kita di mall, aku tak sengaja bertemu dengan mantan mertuaku, Mbak. Kupikir mantan mertuaku enggak sadar kalau aku ada di sana, tapi ternyata dugaanku salah. Kami bertemu kembali setelah enam tahun tak bersua. Ia amat marah karena menduga kedatanganku ke kota ini untuk rujuk lagi dengan puteranya. Padahal kedatanganku ke sini hanya ingin mencoba peruntungan, siapa tahu kehidupanku di kota ini lebih baik dari sebelumnya."


"Kamu tahu sendiri, Mbak, sebagai single parents saya harus bekerja keras, membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Terlebih sebentar lagi tahun ajaran baru, saya harus mencari cara bagaimana mengumpulkan uang untuk biaya sekolah Arsenio," tutur Tania panjang lebar. Sengaja mengecillan volume suara agar percakapan mereka tak didengar Arsenio.


Bola mata Surti terbelalak sempurna saat mendengar cerita Tania. "Jangan bilang kalau mantan mertua Bu Tania yang menampar wajah Ibu!"


Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Tania. "Namun sayangnya, mantan mertuakulah yang menampar wajahku kemarin sore, Mbak."


"Gila! Benar-benar gila! Mertua macam apa yang tega menampar wajah menantunya sendiri," dengkus Surti kesal. Ia menjadi naik pitam mendengar perkataan Tania. Tak menduga jika hubungan antara Tania dan Miranda tak begitu akur layaknya orang di luaran sana.


***


Setelah mengantarkan Arsenio ke sekolah, Tania melajukan kendaraan roda dua miliknya ke sebuah gedung pencakar langit yang ada di kawasan Jakarta Selatan. Mengendarai motor bebeknya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang cukup ramai di hari Senin. Terjebak lampu merah beberapa kali, asap kenalpot dari kendaraan lain dan suara bising bersumber dari klakson para pengendara tak menyurutkan niatan wanita itu untuk mencari rezeki halal baginya serta anak tercinta. Walaupun hidup seorang diri, tapi ia terus berusaha membiayai Arsenio tanpa pernah meminta-minta kepada sang mantan suami.


"Pagi, Tania. Bagaimana akhir pekanmu? Apakah mengasyikan?"


Sapaan rekan kerja Tania di meja kerja harus membuat wanita itu menahan ******* senyum. Khansa yang selalu bersemangat di hari Senin.


"Alhamdulillah lancar, Sa. Kemarin aku ngajak Arsen pergi ke mall, berbelanja bulanan, bermain di arena permainan dan membeli buku baru. Dia tampak bahagia sekali."

__ADS_1


Khansa menyalakan layar monitor dan mulai mengerjakan pekerjaannya. "Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya," ucap wanita itu tulus. "Aku salut sama kamu, Nia. Kamu itu enggak pernah menyerah untuk terus memberikan yang terbaik untuk Arsenio. Aku yakin, jika dia dewasa nanti pasti akan bangga mempunyai Mama sepertimu."


Tania mengulas senyuman lebar. "Kamu terlalu berlebihan menilai aku, Sa. Aku enggak seperti yang kamu bayangkan. Aku pernah merasa down saat seluruh dunia membenciku karena tak mengetahui masa laluku, tapi semangatku kembali membara setiap kali memandang wajah anakku. Jika aku lemah, lalu siapa yang akan berdiri kokoh di depan anakku? Enggak ada, Sa. Untuk itulah aku harus kuat demi anakku."


Khansa kembali mengulum senyum di wajah, ada rasa bangga karena mempunyai teman seperti Tania. Wanita itu menepuk pundak Tania lembut. "Semoga perjuanganmu kelak membuahkan hasil, ya, Nia. Arsenio bisa tumbuh menjadi anak pintar, sehat dan bisa membahagiakanmu."


Terjadi keheningan beberapa saat. Khansa tampak sibuk dengan pekerjaannya, begitu pun dengan Tania. Mantan istri Xander kembali berkutat dengan layar monitor di depannya.


"Tania, kamu diminta Pak Johan ke ruangan sekarang." Sekretaris pemimpin perusahaan tempat Tania bekerja berdiri di sebelah meja kerja ibunda Arsenio.


Mendengar namanya dipanggil, Tania menghentikan sejenak kegiatannya. Lantas, ia mendongakan kepala menatap manik coklat wanita di sebelahnya.


"Emangnya ada apa, Mbak? Bukannya laporan yang diminta Pak Johan udah aku kasih kemarin," jawab Tania keheranan. Kedua alis wanita itu saling tertaut satu sama lain.


Sekretaris Johan menggelengkan kepala. "Bukan urusan kerjaan."


"Lalu?"


"Entahlah, aku juga enggak tahu. Udah sana temuin Pak Johan." Tanpa membuang waktu Tania pun bangkit dan berjalan menuju ruangan CEO.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2