
WARNING! Adegan dilakukan khusus untuk pasangan suami istri.
"T-tapi ... a-aku belum mandi, Xander. Aku takut kamu tidak bisa mencapai puncak kenikmatan saat kita bercinta nanti. Aku takut kamu tidak nyaman dengan aroma tubuhku," kata Tania lirih seraya memalingkan wajahnya yang merona akibat mengatakan hal tabu di hadapan sang suami.
Sebenarnya Tania menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar ciuman ketika mereka bercumbu. Apalagi selama tujuh tahun wanita itu tak mendapat belaian kasih sayang dari seorang pria. Tania Maharani menyibukan diri dengan bekerja sehingga tak mempunyai waktu untuk memikirkan urusan peranjangan. Saat itu yang ada dalam pikiran Tania adalah mencari uang sebanyak mungkin untuk membiayai anaknya yang telah beranjak besar dan mulai bersekolah.
Sebagai seorang single parents, tentu saja Tania harus bekerja keras mencari tambahan uang agar dapat memenuhi semua kebutuhan anak semata wayangnya. Ia tak bisa berpangku tangan, berdiam diri sambil terus mendambakan sentuhan lembut dari yang namanya seorang lelaki. Ia harus beraksi demi masa depan Arsenio.
Xander menempelkan hidungnya yang mancung di hidung milik Tania dengan gemas. "Kamu begitu menggemaskan sekali, Sayang, sampai membuatku ingin mengigitmu."
Ia menangkup wajah sang istri dan menatap penuh cinta pada wanita itu. "Tania, dengarkan aku. Aku tidak peduli dengan aroma tubuhmu saat ini. Mau aroma tubuhmu menguarkan semerbak harum bagai bunga mawar di taman bunga ataupun bau kecut sekalipun, aku tak peduli. Aku tetap mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Jadi, berhentilah memikirkan sesuatu hal tidak penting saat kita sedang bermesraan begini. Mengerti?"
Tania mengangguk patuh. "Baik, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Xander memandang sendu pada sosok wanita di hadapannya. Kabut gairah itu masih terlihat di sepasang mata hazel yang indah, menandakan bahwa hasrat untuk bercinta masih menggebu.
"Nia, bagaimana dengan pertanyaanku tadi? Bolehkah aku menyentuhmu sekarang? Aku ingin bercinta denganmu, membawamu melayang bersama menuju nirwana. Aku dan kamu bergelung di bawah selimut yang sama sampai fajar kembali menyingsing," ucap Xander dengan suara serak. Ada hasrat yang terpendam ketika melihat bibir merah muda Tania sedikit terbuka.
Selama resepsi, bibir ranum yang dipoles lipstick merah muda terus menggodanya membuat tuan muda Vincent Pramono tak dapat mengalihkan perhatiannya dari benda kenyal milik Tania. Berkali-kali menelan saliva susah payah guna mengisi tenggorokan yang terasa kering. Belum lagi rasa nyeri pada bagian area pangkal paha akibat sesuatu yang tertidur selama ini seketika bangkit ketika melihat seseorang yang didamba berada di dekatnya.
Lembutnya permukaan kulit, merdunya suara Tania serta kecantikan alami sang istri membangunkan singa ganas yang tertidur selama ini. Dan kini, saat mereka berduaan wajar jika Xander ingin segera menerkam hidangan lezat yang ada di hadapannya.
"Sayang, tidakkah kamu merasa kasihan kepadaku? Selama tujuh tahun tak pernah merasakan sentuhan lembut dari seorang wanita? Selama ini aku menahan hasrat yang menggelora dalam tubuhku. Lalu, setelah bertemu denganmu, haruskah aku menahannya lagi? Kalau begini terus, lama-lama dia bisa karatan." Jemari Xander membawa tangan Tania menuju tempat di mana Arsenio dulu tercipta.
__ADS_1
Xander terlihat frustasi akan sikap Tania yang sok jual mahal, padahal ia tahu jika istrinya itu pun menginginkan hal yang sama dengannya. Namun, Tania malu mengakui.
Tania menggigit bibir dan menahan napas. Menyentuh area tersebut membuat sekujur tubuhnya menegang. Desiran aneh datang menghampiri, desiran yang sama saat Xander pertama kali menyentuh tubuh usai janji suci pernikahan terucap tujuh tahun lalu.
"Kamu bisa merasakannya, bukan? Dia ... sudah tidak sabar ingin bertemu dengan belahan jiwanya yang selama ini terpisah," bisik Xander di telinga Tania. Memberi sedikit embusan napas di area tersebut guna memberi sedikit rangsangan agar istrinya luluh dan bersedia mengabulkan keinginannya.
Tania terpejam, merasakan sentuhan jemari kekar Xander di pahanya yang terbuka. Dress yang dikenakan wanita itu tersingkap beberapa centi sehingga membuat kulit putih itu terekspose ke mana-mana.
"Nia, mari berikan adik perempuan yang cantik untuk Arsenio!"
Perlahan Xander menyenderkan punggung Tania di sandaran sofa. Dua pasang mata saling beradu pandang. Degup jantung keduanya berdetak tak beraturan, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Xander, tapi aku-"
"Sst! Jangan risau! Aku bisa mencapai puncak kenikmatan asalkan kamu tulus melayaniku," sergah Xander sebelum Tania menyelesaikan kalimatnya.
Tak kuasa dibombardir dengan ciuman panas yang semakin lama semakin intens, Tania melenguh di sela-sela ciuman. Erangan kecil semakin memercikan hasrat untuk bercinta. Dalam sekejap, api gairah sudah melingkupi keduanya. Sepasang suami istri itu merasa panas dan terbakar oleh napsu.
Xander melepaskan pagutan mereka. Matanya yang hazel bertatapan dengan Tania, menyelam jauh ke dalam sana. Napas mereka terengah. Melihat bibir sang istri terbuka semakin membangkitkan hasrat untuk segera menyatu dengan wanita di hadapannya.
Perlahan, Xander menurunkan ritsleting dress yang dikenakan Tania sampai sebatas pinggang hingga memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus tanpa cela sedikit pun. Ketika melihat sumber kehidupan Arsenio sewaktu masih bayi, Xander menelan saliva susah payah. Pemandangan itu sungguh sangat indah dan sulit untuk dilukiskan.
Tania menyilangkan kedua telapak tangan di depan dada yang sedikit memperlihatkan kain berenda berwarna hitam sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang berwarna putih. Ia merasa malu ditatap sedemikian intens oleh Xander, walau saat itu kamar tidur mereka dalam keadaan temaram.
__ADS_1
Xander tersenyum, kemudian menyingkirkan telapak tangan Tania. Dengan lembut ia berkata, "Jangan sembunyikan keindahan itu dari pandanganku, Nia. Aku menyukainya, terlebih sekarang bentuknya lebih besar dibanding dengan saat pertama kali aku melihatnya."
Tanpa banyak cakap, Xander mengulurkan tangan ke depan menyentuh dua benda bundar padat berisi yang dilapisi kain tebal. Meremasnya sekali seperti sedang meremas squishy. Akibat kelakuan Xander, Tania tak kuasa menahan diri untuk tidak mendesaah.
"Eum, Xander." Mata Tania terpejam menikmati remasan yang diberikan sang suami.
"Ya, Sayang. Aku di sini, Nia." Xander kembali meremas dan terus meremas hingga semakin lama remasan itu semakin kencang dan membuat Tania kembali mendesaah nikmat. Sampai tiba di mana Tania mencapai puncak kenikmatan, di situlah Xander baru memulai permainan inti.
Xander tersenyum karena berhasil membuat Tania terbang ke langit ke tujuh. "Tania, persiapkan dirimu, Sayang, karena malam ini aku tidak akan membiarkanmu tidur sampai matahari kembali terbit."
Pria itu membaringkan Tania di sofa, kemudian melepaskan helai pakaian yang melekat di tubuh keduanya. Tania menutup mata menggunakan kedua telapak tangan saat melihat tubuh kekar Xander tanpa sehelai benang pun. Dada yang ditumbuhi bulu-bulu halus, enam otot kotak kokoh membuat Tania Maharani tergila-gila akan sosok pria bermata hazel itu.
Xander menumpu tubuh dengan kedua siku di samping kanan kiri tubuh Tania. Sebelum memulai inti permainan, pria itu mengusap pucuk kepala sang istri, kemudian mencium kening, ujung hidung dan menempelkan bibirnya di bibir istri tercinta. Ada doa yang ia panjatkan kepada Tuhan untuk pernikahannya kali ini.
Setelah dirasa saling menginginkan, barulah Xander melakukan penyatuan. Ia tidak mengalami kesulitan sama sebab sebelum ini mereka sering melakukannya hingga hadirlah si bocah genius penyuka es krim rasa cokelat.
Xander menghentakkan tubuhnya dengan lembut sambil sesekali menciumi bibir Tania. Erangan merdu lolos dari mulut sang wanita semakin membuat Xander bersemangat.
Tubuh Tania menegang dan kembali mendapatkan puncak kenikmatan berkali-kali. Mengetahui ibu dari anaknya telah mencapai puncak, Xander pun ingin segera menyusul. Maka pria itu menaikan tempo permainan.
Semakin lama hentakan di inti tubuh Tania semakin cepat ... semakin cepat ... dan semakin cepat hingga Xander merasa ada sesuatu yang ingin meledak detik itu juga.
"Aah!" pekik Xander seraya mendongakan kepala ke atas. Mata memicing tajam menatap langit-langit kamar hotel. Dan di waktu bersamaan, rupanya Tania pun kembali mencapai puncak untuk kesekian kali.
__ADS_1
"Terima kasih, Nia. Aku mencintaimu. Kini, esok dan seterusnya hanya dirimu yang kucintai." Xander mendaratkan kecupan di kening Tania dengan posisi tubuh masih berada di atas sang istri. Ia pandangi wajah Tania, mematrinya dengan indah di sanubari yang terdalam.
...***...