Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Dua Orang Asing?


__ADS_3

Jonathan tertawa mencairkan suasana yang terasa canggung. Hati kecil pria itu seolah-olah berkata ada hal yang disembunyikan oleh keponakan serta Aura, sekretaris baru CMO perusahaan V Pramono Group. Karena tak mau terlalu ikut campur dalam urusan pribadi keponakannya tersebut, Jonathan mencoba mencairkan suasana yang dirasa berbeda dari sebelumnya.


"Sudah, sudah, jangan terlalu tegang begitu. Kalau memang tidak bersedia memberitahu maka jangan memaksa diri sendiri. Saya tidak memaksa kalian untuk berceria. Apa pun yang terjadi di antara kalian, saya cuma minta bersikaplah profesional jangan sampai masalah pribadi mempengaruhi kinerja kalian berdua." Jonathan menepuk pundak Abraham pelan. "Ayo, paman antarkan kamu ke ruangan. Sekalian ingin paman kenalkan kamu kepada yang lain."


Abraham mengangguk patuh, tak banyak membantah perintah Jonathan. Pun demikian dengan Aura. Wanita itu mengekori kedua atasannya, ia melangkah sambil mengatur napas agar tidak gugup saat berdekatan dengan Abraham.


Tuhan, mengapa Engkau pertemukan kembali aku dengan Kak Abraham? Susah payah aku melupakan dia, tapi Engkau justru mempertemukanku lagi dengannya. Sebenarnya, apa rencana Mu, Tuhan? batin Aura. Tidak mengerti kenapa setelah sepuluh tahun berlalu takdir mempertemukannya kembali dengan sosok lelaki yang dulu sangat ia cintai.


'Andai saja aku tahu jika Kak Abraham yang menjadi atasanku, sudah pasti aku mengurungkan niatanku untuk bekerja di sini.' Diam-diam Aura menyesali keputusannya untuk melamar pekerjaan di perusahaan V Pramono. Ingin berhenti, tetapi ia tak bisa sebab sudah tanda tangan kontrak. Jika melanggar maka dikenai denda yang sangat besar. Dari mana mendapatkan uang, ia saja hidupnya serba kekurangan sehingga terpaksa bekerja membanting tulang demi mencukupi kebutuhannya.


Selang sepuluh menit kemudian, Jonathan baru mengantarkan Abraham ke ruangan yang berada di lantai delapan. Dulu ruangan tersebut ditempati Bagaskara, tetapi karena pria itu dipindah ke kantor cabang di Surabaya maka jabatan CMO diberikan kembali Abraham.


"Nah, Abraham, sekarang ruangan ini menjadi milikmu. Kamu bebas merubah dekorasi atau menambah hiasan maupun ornamen di dalamnya. Buatlah ruangan ini senyaman mungkin sebab sebagian waktumu akan dihabiskan di sini. Paman ingin kamu merasa betah dan segala urusan pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik."


"Paman tenang saja, aku pasti menjalankan tugas dan tanggung jawabku dengan baik."


"Ya sudah, kalau begitu paman kembali ke ruangan dulu. Semua file peninggalan Bagaskara ada di dalam laptop, kamu bisa mempelajarinya terlebih dulu sampai benar-benar mengerti. Jika menghadapi kendala, segera minta Ibrahim mengurusinya."

__ADS_1


Kini pandangan mata Jonathan tertuju pada wanita cantik berkulit bersih seperti porselen. "Dan kamu Aura, meja kerjamu berada di luar sana. Mulai detik ini tugasmu membantu Abraham, pastikan pekerjaannya selesai tepat waktu."


Setelah memberi sedikit wejangan, barulah Jonathan meninggalkan ruangan Abraham. Ia ditemani Ibrahim menuju ruangan CEO perusahaan. Langkah kaki semakin dipercepat tatkala mendengar kabar bahwa little bos V Pramono Group sedang dalam perjalanan.


Ya, sejak Xander resmi mempersunting Tania untuk kedua kali maka status Arsenio berubah menjadi little bos atau bos kecil dari perusahaan milik sang kakek. Kelak, setelah Xander pensiun, perusahaan yang didirikan dengan susah payah akan jatuh kepada Arsenio, si bocah genius penyuka kantur Thomas and Friends.


Berdiri di seberang meja, kedua telapak tangan Aura saling meremas satu sama lain. Keringat sebesar biji jagung muncul di kening lalu meluncur turun ke lehernya yang jenjang. Walaupun ia telah melupakan kejadian di masa lalu, tapi nyatanya kenangan tersebut masih menari indah dalam benaknya.


Menarik napas panjang, menahannya sebentar kemudian mengembuskan secara perlahan. Tidak ada jalan untuk kembali jadi lebih baik Aura bekerja dengan baik dan tak mengecewakan Jonathan yang telah menaruh harapan kepadanya.


"Pak Abraham, karena semua urusan telah selesai maka saya undur diri dari hadapan Anda. Saya masih harus mengerjakan tugas yang ditinggalkan sekretaris sebelumnya." Menundukan kepala seraya mengulum senyum di bibir. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat pagi." Tanpa menunggu jawaban, Aura melengos begitu saja dari hadapan Abraham.


Namun, dengan gerakan cepat Abraham mencekal pergelangan tangan wanita itu. "Tunggu dulu, Ra! Aku masih ingin berbicara denganmu!" kata Abraham tanpa melepaskan cengkeraman tangannya.


Aura bergeming tatkala permukaan kulitnya disentuh oleh Abraham. Kedua kulit saling bersentuhan menciptakan sensasi berbeda dalam diri wanita itu. Angan melambung tinggi ke awang hendak mencapai nirwana ketujuh, tetapi saat sebuah kesadaran menghantam kepala ia harus merasakan kesakitan yang teramat menyakitkan.


Menatap pada tangan kekar tersebut dengan tatapan tajam. Kalau saja dulu Abraham menyentuh kulitnya seperti sekarang ini, pasti Aura akan meloncat kegirangan karena saking bahagianya. Namun sekarang, tentu saja ia tak mau disentuh oleh lelaki yang pernah menorehkan luka di hatinya.

__ADS_1


Berkata dengan dingin. "Ingin membicarakan apa? Soal pekerjaankah? Jika memang iya, kita bisa bicarakan baik-baik, tetapi Anda tidak perlu menyentuh tangan saya seperti ini. Saya tidak mau ada orang lain melihatnya, kemudian tersebar gosip tidak sedap tentang kita. Saya masih ingin bekerja di perusahaan ini, Tuan, jadi tolong kerjasamanya."


Abraham tertegun, jawaban anak buahnya terasa sangat asing. Sebutan tuan seperti menciptakan jarak terbentang luas di antara mereka. Kalau boleh jujur, sebetulnya ia lebih suka Aura memanggilnya dengan sebutan kakak. Itu jauh lebih nyaman dan enak didengar.


"Tuan Abraham, bisakah Anda melepaskan cengkeraman tanganmu ini?" kata Aura saat tak mendapat respon apa pun dari Abraham.


"Hm, baik. Maafkan saya, tadi tidak berniat lancang kepadamu." Lantas Abraham melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Aura.


"Tidak masalah. Oh ya, tadi Tuan berkata ingin berbicara dengan saya. Ada masalah apa, Tuan?" Aura kembali menanyakan tujuan Abraham meminta dirinya terus berada di ruangan tersebut.


Melihat sikap dingin serta ekspresi wajah datar membuat Abraham ragu, haruskah ia mengutarakan isi hatinya yang selama ini membuat hidupnya merasa tidak tenang di depan Aura, perempuan yang wajah serta senyumannya tak pernah menghilang dari benaknya. Sungguh Abraham tak tahu harus berbuat apa sekarang.


Menghela napas panjang dan berat. "Tuan, jika memang tidak ada yang mau dibicarakan, bisakah saya meninggalkan ruangan ini? Saya ingin ke meja, mengerjakan pekerjaan yang tengah menanti saya di sana."


Mengerjapkan mata beberapa kali. Abraham dibuat kebingungan akan perubahan sikap Aura yang terkesan tengah menghindarinya. Apakah kelakuannya di masa lalu telah menyisakan kesedihan teramat sangat dalam sehingga Aura tak mau lagi berdekatan dengannya?


"Ehm, ya. K-kamu ... boleh kembali sekarang," sahut Abraham tak mengerti mengapa sikap Aura berubah 180° dibandingkan saat mereka masih sama-sama duduk di bangku kuliah.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Aura meninggalkan Abraham yang masih membeku di tempat. Ia tak mau rasa cinta yang telah dikubur dalam kembali muncul ke permukaan, tumbuh dan bersemi seperti sepuluh tahun lalu. Ia tak mau lagi terluka untuk kedua kali. Cukuplah kejadian di masa lalu memberinya pelajaran dan ia tidak semua kesakitan itu terulang untuk kedua kali.


...***...


__ADS_2