
Pelayan wanita bercelemek hitam kembali dengan membawa nampan berisi aneka macam hidangan yang dipesan oleh Tania sebelumnya. Hari ini ia membebaskan anak serta pengasuh Arsenio memilih makanan apa saja yang diinginkan. Ia secara khusus mentraktir Surti sampai perut wanita itu tak lagi mampu menampung semua makanan yang tersedia di restoran tersebut.
"Semua pesanan sudah lengkap. Jadi Ibu, adek serta Mbak-nya bisa langsung menikmati semua hidangan ini. Namun, apabila rasanya dirasa kurang pas, bisa langsung melapor ke kami. Saya beserta rekan yang lain akan menggantinya dengan yang baru," kata pelayan itu disertai senyuman ramah.
Usai mengucapkan kalimat tersebut, pelayan itu undur diri dari hadapan Tania, membiarkan pelangaannyaa menikmati sajian yang tersedia di atas meja.
Pendar bahagia terpancar jelas di bola mata hazel. Arsenio menatap dua buah paha ayam goreng layaknya seseorang yang baru saja mendapat harta karun, bernilai milyaran rupiah. "Wuah ... ayam goreng. Pasti rasanya lezat," berkata tanpa mengedipkan mata.
Tangan mungil itu hendak meraih dua potong paha goreng di depan sana, tapi suara lembut Tania menghentikan aksinya. "Arsenio, harus ngapain dulu sebelum makan? Coba diingat dulu pesan Miss Anisa apa?"
Arsenio terdiam sejenak saat mendapat pertanyaan dari Tania. Kecerdasan bocah kecil itu seakan sirna saat berhadapan dengan satu potong paha ayam goreng.
Jemari mungil itu menjentik, sesaat setelah Arsenio mengingat perkataan wali kelas di sekolahnya dulu. "Kata Miss Anisa, sebelum makan harus berdo'a dulu, Ma, agar setan tidak ikut memakan semua makananku. Selain itu sebagai bentuk rasa syukur kita karena diberi nikmat hingga tak kelaparan."
Kedua sudut bibir Tania tertarik ke atas, merasa bangga karena semua didikan serta ilmu yang didapat selalu diingat dan ditanamkan di memori ingatan Arsenio. "Anak pintar," pujinya tulus. Tangan mengusap puncak kepala lembut. "Kalau begitu kita berdo'a dulu sebelum makan."
Sementara itu, tampak Abraham sedang menikmati waktu kebersamaannya dengan teman-teman kuliahnya dulu. Pria jangkung berparas rupawan sibuk bercengkrama dengan Indra, teman dekatnya itu.
"Abra, jadi gimana nasib percintaanmu setelah ditolak oleh kekasih dari sepupuhmu itu? Apa kamu tidak menjalin kasih dengan siapa pun?" ulik Indra penasaran. Ia memang sedikit penasaran akan cinta segi tiga yang melibatkan kedua keluarga Pramono yang terkenal kaya raya dan termasyhur di tanah air.
Mata Abraham memicing, menatap Indra begitu tajam. Sejak dulu teman dekatnya itu selalu saja kepo akan kehidupan pribadinya. Apa saja selalu ditanya hingga tak jarang membuat kepala terasa pening seketika.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!" sahut Abraham ketus. Ada perasaan sedih, kecewa dan menyesal di relung hati yang terdalam bila membicarakan soal Tania dan Xander. Ia memang tak begitu menyukai sepupunya itu, tapi mendengar rivalnya berpisah dengan Tania karena ia dan wanita itu ketahuan tidur bareng di kamar hotel membuat dadanya terasa sesak bagai dihimpat bongkahan batu besar.
Indra menyesap minuman dingin hingga tersisa setengahnya. Lantas, ia dorong gelas tersebut ke depan. "Dari caramu berbicara, tampaknya memang benar jika kamu tidak berhubungan dengan siapa pun setelah kejadian itu. Kamu lebih memilih hidup menyendiri tanpa ditemani oleh siapa pun. Benar-benar menyedihkan."
"Hidup di dunia ini terlalu singkat jadi untuk apa kamu terus meratapi kesendirianmu. Lebih baik buka hatimu untuk wanita lain dan lupakan Tania. Anggap saja kalian memang tidak berjodoh," lanjut Indra. Entahlah kenapa ia jadi kasihan mendengar kisah asmara teman dekatnya itu. Dulu ia pikir, Abraham akan memenangkan hati Tania, tapi rupanya Xander-lah yang berhasil mendapatkan sang primadona berwajah cantik jelita.
Menghela napas panjang, Abraham terdiam beberapa saat mendengar perkataan Indra. Semua yang dikatakan oleh Indra ada benarnya. Namun, apakah dia mampu membuka hati dan mempersilakan wanita lain untuk singgah di sana, sedangkan di dalam sana sudah ada nama Tania yang bersemayam selama sembilan tahun lamanya.
"Aku mau ke kamar kecil dulu." Tanpa memberi kesempatan kepada Indra untuk menjawab, Abraham bangkit dari posisinya saat ini. Ia menuruni anak tangga, kemudian berjalan menuju toilet yang ada di sudut sana.
***
Terdengar suara sendawa bersumber dari Arsenio. Tangannya yang mungil menepuk pelan perutnya yang mulai membuncit akibat terlalu lahap menyantap semua hidangan lezat di atas meja. "Kenyangnya!" Ia meluruskan kakinya yang mungil seraya bersandar di pinggiran gazebo.
"Kamu sudah kenyang? Tidak ingin memesan makanan lain, seperti es krim rasa cokelat atau rasa strawberi? Tadi Mama lihat mereka menjual es krim dalam enak rasa yang tampak begitu lezat," goda Tania. Entahlah kenapa ia senang sekali menggoda anak semata wayangnya itu.
Arsenio cemberut, wajahnya yang lucu dan menggemaskan ditekuk ke dalam. "Mama sengaja menawariku es krim karena tahu aku sudah kenyang, iya, 'kan?" Bibirnya yang mungil mengerucut ke depan.
Tania tertawa kecil. "Sebenarnya sih, iya. Namun, jika kamu memang masih sanggup menghabiskan satu cup es krim, Mama akan pesankan. Bagaimana?" Kedua alis bergerak turun naik disertai seringai menggoda sengaja ia berikan kepada Arsenio.
Arsenio melirik sekilas ke arah Tania dengan malas. "Enggak ah, Ma. Aku enggak sanggup lagi makan sesuatu. Nanti perutku meledak seperti balon kalau kebanyakan makan."
__ADS_1
Tania menyesap jus mangga kesukaannya hingga tandas, kemudian menggeser gelas kosong tersebut ke samping. "Ya udah, kalau kamu enggak mau, enggak apa-apa. Mama enggak akan paksa."
Ekor mata Tania, dialihkan kepada Surti. "Mbak Surti, titip Arsenio sebentar. Saya mau ke kamar kecil sekaligus cuci tangan. Dalam keadaan apa pun, jangan biarkan Arsenio pergi sendirian," pesannya kepada pengasuh sang putera.
Surti yang baru saja selesai makan, menganggukan kepala mantap. "Baik, Bu!"
Meraih sling bag yang disimpan di sebelah badan, dengan sangat perlahan Tania turun dari gazebo yang terbuat dari anyaman bambu dipadu dengan kayu papan. Berjalan di antara hilir mudik manusia yang tengah sibuk lalu lalang.
Tania masuk ke dalam salah satu bilik kamar kecil. Di sana ia membuang hajat sambil mencuci tangan.
Berdiri di depan cermin, memperhatikan pantulan dirinya. Seulas senyuman terlukis di wajah saat teringat bayangan wajah Xander. "Rasanya pasti bahagia bila seandainya kita merayakan bersama ulang tahun Arsenio. Tapi sayang, kamu lebih percaya akan semua yang ada di depan mata tanpa ingin tahu semua kebenarannya hingga akhirnya hidup rumah tangga kita hancur begitu saja."
Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Sudah terlalu lama aku berdiam diri di sini. Sebaiknya aku keluar sekarang, Arsenio pasti sudah menunggu sejak tadi."
Lantas, Tania keluar hendak menuju gazebo yang ada di taman belakang restoran. Akan tetapi, langkah kaki terhenti saat tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf, aku tidak sengaja!" ucap pria itu.
.
.
__ADS_1
.