
Seorang lelaki tampan turun dari mobil, setelah memastikan bahwa kendaraan roda empat miliknya terparkir dengan rapi. Siang ini ia berencana menghadiri acara reuni yang diselenggarakan di sebuah restoran keluarga. Meskipun restoran itu tidak mewah, tetapi dari segi rasa tak kalah dari restoran bintang lima yang sering dikunjungi oleh para orang berdompet tebal.
Mengayunkan kaki memasuki ruangan yang didominasi warna merah, lelaki itu menoleh kanan kiri mencari teman kuliahnya dulu. Ia berdecak kesal saat tak menemukan satu orang pun panitia yang bertanggung jawab terhadap acara tersebut. "Tadi katanya tinggal masuk nanti ada panitia yang menyambut. Giliran sudah sampai malah enggak ada orang sama sekali."
Ada rasa kesal dalam diri pria itu sebab informasi yang diberikan oleh salah satu teman sekelasnya dulu tak begitu valid. Kepala terasa pening tatkala suara bising, teriakan anak kecil saling bersahutan di dalam restoran itu. Maklum saja, hari itu adalah hari sabtu dan bertepatan dengan jam makan siang hingga suasana ramai dan tak kondusif.
Lantas, pria itu mengeluarkan telepon genggam dari dalam saku celana kemudian menekan nomor seseorang. Baru saja sambungan telepon terhubung, suara bariton seseorang terdengar dari arah belakang. "Woy, ngapain bengong di sini. Ayo masuk! Teman-teman udah nungguin di dalam," kata pria berperawakan tinggi nan kekar seraya menepuk pelan bahu sang pria tampan yang tak lain bernama ... Abraham.
Abraham menoleh ke sumber suara dan mendapati Indra tengah berdiri gagah berani di belakangnya. Seringai menyebalkan kembali ia lihat tatkala bertemu dengan teman sekelasnya dulu. "Bengong apaan? Lah wong aku di sini menunggu salah satu panitia yang akan membawaku menuju meja yang telah kalian reservasi," bela pria itu sembari menghunuskan tatapan tajam. Ia tidak terima jika dituduh sebagai orang yang suka mengaret alias tidak tepat waktu.
Indra terkekeh pelan mendengar perkataan Abraham. Sejak dulu teman sekelas sekaligus teman dekatnya itu selalu dingin dan terkesan cuek hingga tak heran sampai sekarang ia masih jomblo meski teman kuliahnya telah hidup berumah tangga.
"Iya, maaf. Tadi panitia acara sedang sibuk menyiapkan tambahan kursi, kebetulan peserta lebih banyak dari yang ditargetkan," tutur Indra memberi alasan kenapa tak ada satu panitia pun menyambut kedatangannya. "Ya udah, daripada nunggu lama lebih baik gabung dengan yang lain."
Sementara itu, di tempat yang berbeda tampak Arsenio terlihat begitu rapi mengenakan kaos warna putih dengan jaket denim dipadu celana jeans selutut. Hari ini ia akan pergi ke sebuah restoran bersama Tania dan Surti, untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-6.
"Mama, ayo pergi! Aku udah enggak sabar ingin makan ayam goreng!" seru Arsenio sembari mengetuk pintu kamar Tania. Bocah kecil itu tampak begitu bersemangat karena waktu yang hari yang tunggu akhirnya tiba.
__ADS_1
Surti yang telah mendandani Arsenio mencoba membujuk anak majikannya. "Sabar, Den Arsen. Mungkin aja Mama Aden masih mengganti pakaian. Lebih baik kita tunggu di sofa aja sambil main lego," bujuk wanita berseragam merah maju.
Akan tetapi, perkataan Surti seakan tak mempan membendung antusiasme si bocah genius bermata hazel. "Mbak Surti, kalau mau duduk di sofa, duduk aja deh, jangan gangguin aku!" ucap anak tampan itu dengan memasang wajah cemberut. Kedua tangan terlipat di depan dada, bibir mengerucut ke depan nyaris mengejar hidungnya yang mancung.
Surti yang khawatir kena tegur Tania tampak kebingungan. Wajah wanita itu pucat pasi dengan sorot mata tak terbaca. "Tapi, Den--"
"Ish, Mbak Surti, ganggu aja deh," keluh Arsenio. Tak menghiraukan perkataan pengasuhnya, tangan mungil itu kembali mengetuk daun pintu dengan tidak sabaran. "Mama, ayo jalan!"
Tania yang sedari tadi tengah memulas wajahnya dengan make up flawless hanya menyunggingkan seulas senyuman di sudut bibir. Tingkah tak sabaram Arsenio mengingatkannya akan sikap Xander, sosok lelaki yang pernah merajai semua pikiran dan hati wanita itu.
"Ada apa sih, kok kamu ribut terus sedari tadi." Tania baru saja keluar dari kamarnya. Ibu kandung Arsenio tampak begitu anggun mengenakan dress warna milo dengan bagian dada berbentuk V neck. Rambutnya yang panjang hitam dan legam dibiarkan tergerai begitu saja.
Tania tersenyum bahagia karena tepat di tanggal dan jam ini, ia melahirkan seorang anak pintar, tampan dan menggemaskan seperti Arsenio. Meskipun awal kehamilannya dihadapkan sebuah pilihan sulit dan banyaknya rintangan menghadang, tapi buktinya ia mampu melewati itu semua dibantu oleh salah satu tetangga Tania yang berhati baik seperti malaikat.
"Oke, Sayang. Let's go!" seru Tania tak kalah bersemangat. Ia menggenggam jemari mungil itu berjalan bersama keluar dari gedung apartemen. Sementara Surti tetap mengekori di belakang majikan serta anak asuhnya yang begitu menggemaskan.
Tak berselang sama, taxi pun berhenti tepat di depan restoran yang Tania maksud. Ia sebenarnya bisa saja membawa anak tercinta ke restoran itu mengenakan motor yang ia peroleh dari perusahaan, tapi karena hari ini adalah hari istimewa tentu saja wanita itu ingin memberikan hal istimewa pula untuk buah cintanya bersama sang mantan suami.
__ADS_1
"Ye ... ye ... aku mau makan ayam goreng." Arsenio bersenandung sepanjang jalan tanpa henti. Jari tangan bocah lelaki itu tak pernah lepas dari genggama tangan sang mama tercinta.
Tania membungkukan sedikit badannya, kemudian membenarkan rambut Arsenio yang terlihat sedikit berantakan. "Arsen, Sayang, kamu mau duduk di mana?" tanya Tania saat mereka tiba di dalam restoran. Ia melimpahkan semuanya keputusan kepada sang empunya hajat.
Tampak Arsenio mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Suasana restoran cukup ramai dan meja di tempat itu pun hampir terisi semua. "Ma, outdoor aja deh. Kayaknya akan seru kalau makan sambil melihat ikan di sana." Tangan bocah itu menunjuk salah satu gazebo dari jendela kaca besar di depan sana.
Di luar sana ada beberapa gazebo, disediakan khusus bagi pengunjung yang memang ingin merasakan suasana alami berbaur dengan alam. Walaupun tak mengenakan pendingin ruangan ataupun kipas angin, angin akan tetap berembus dan memberikan kesejukan kepada para pengunjung restoran.
Mereka duduk di meja dengan pemandangan hijau dan banyak pepohonan hingga membuat tempat duduk di luar ruangan menjadi lebih teduh meski matahari tersinar terik.
"Arsen mau makan apa, Sayang?" tanya Tania setelah seorang pelayan menyerahkan buku menu kepadanya dan memberi waktu untuk memesan.
Dengan antusias dan penuh semangat Arsenio menjawab, "Ayam goreng dong, Ma, bagian paha bawah."
"Oke, siap!" Lantas, Tania menuliskan pesanan Arsenio di secarik kertas putih sambil menunggu Surti memilih menu yang hendak dimakan oleh wanita itu.
.
__ADS_1
.
.