Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Arsenio Memang Anakmu


__ADS_3

"Aku sadar sudah melakukan kesalahan besar karena menuduhmu selingkuh di belakangku. Aku benar-benar menyesali perbuatanku di masa lalu, Tania. Seharusnya aku mencari tahu dulu kebenarannya, baru setelah itu mengambil keputusan. Bukan malah menjatuhkan talak di saat sedang emosi." Terbesit rasa penyesalan di dalam diri Xander tatkala memori ingatan lelaki itu kembali akan kejadian lima tahun silam. Akibat cemburu dan emosi yang menggebu-ngebu membuat lelaki itu tak dapat berpikir jernih hingga menyebabkan pernikahan yang dibangun susah payah harus kandas di tengah jalan.


Tania tersenyum masam mendengar perkataan Xander. Luka lama yang dikubur dalam-dalam kembali terkoyak. Hati terasa sakit bagai ditusuk sebilah pisau tajam, menembus hingga ke sumsum tulang belakang.


"Ya, memang seharusnya begitu. Kamu cari dulu kebenarannya sebelum memutuskan sesuatu." Menghela napas panjang, menahannya sejenak kemudian mengembuskan secara perlahan. "Tapi sudahlah, nasi udah menjadi bubur, enggak perlu disesali. Terpenting saat ini kamu udah tahu selama kita menikah aku enggak pernah sekalipun selingkuh di belakangmu. Aku tetap menjaga kesucian pernikahan kita walau saat itu kamu enggak ada di sampingku."


Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada sepatah kata pun terucap dari bibir keduanya. Tania sibuk menyendokkan kue yang baru beberapa menit lalu dibawakan oleh pelayan. Sementara Xander hanya mengaduk-ngaduk kopi kesukaannya dengan kepala menunduk sembari mengingat kembali kenangan pahit lima tahun silam.


Sendok kecil terbuat dari stainless Xander letakkan di sebelah cangkir kopi kesukaannya. Teringat sesuatu yang harus ditanyakan pada mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Tania, ada hal lain yang ingin kutanyakan tentang Arsenio." Xander menjeda sejenak ucapannya. "Apa bocah kecil itu adalah ... anakku?" tanya lelaki itu ragu-ragu. Walaupun sudah membaca hasil tes DNA, tapi ia ingin mendengar sendiri dari bibir Tania.


Gerakan tangan Tania terhenti saat mendengar pertanyaan Xander. Cukup terkejut, tapi ia tahu akan ada masa di mana semua kebenaran terungkap. Tak ada bangkai yang tidak tercium. Selamanya ia tidak dapat menyembunyikan kebenaran yang mengatakan bahwa Arsenio adalah anak kandung Xander--mantan suaminya.


Tania mengangguk. "Benar. Anak kecil yang selalu berada bersamaku adalah anak kandungmu. Namanya adalah Arsenio, tapi aku biasa memanggilnya dengan mana Arsen."


Hati Xander bergemuruh hebat saat Tania mengatakan bahwa anak kecil pemilik mata hazel adalah anak kandungnya. Tidak menduga jika setetes air kenikmatan yang pernah ia semburkan di rahim Tania, telah tumbuh seorang anak laki-laki tampan dan juga genius macam Arsenio.


Lagi dan lagi Tania tersenyum masam. "Untuk apa aku memberitahumu? Bukankah kamu sendiri enggak pernah percaya dengan semua kata-kataku?" sindir wanita itu. "Jika seandainya saat itu aku memberitahumu bahwa aku mengandung anakmu, apakah kamu akan percaya padaku? Tentu aja kamu enggak akan percaya, 'kan? Kamu pasti menuduh anak itu adalah anak Abraham. Jadi, daripada aku terluka karena harus kembali mendengar hinaan dan cacian bersumber dari bibirmu lebih baik aku sembunyikan berita kehamilanku. Membesarkan bayi itu dengan jerih payahku sendiri."

__ADS_1


"Tapi aku merasa seperti lelaki berengsek yang lepas dari tanggung jawab, Tania. Seharusnya aku berada di sisimu saat kamu mengandung, menemanimu menjalani masa kehamilan dan memberikan dukungan bukan malah sibuk memupuk rasa benci yang mendarah daging," tutur Xander.


Sepasang mata hazel yang indah dan jernih berkaca-kaca saat membayangkan perjuangan Tania ketika mengandung Arsenio. Ia bisa merasakan bagaimana susahnya seorang perempuan tatkala mengandung selama sembilan bulan. Pergi ke mana-mana membawa perut yang besar, tidur tidak nyenyak karena merasakan perut yang terasa tak nyaman dan masih banyak lagi keluhan yang dirasakan saat seorang wanita tengah hamil.


Tanpa memedulikan tatapan mata lekat yang ditujukan Xander kepadanya, Tania menjawab, "Enggak perlu merasa bersalah toh aku sendiri yang memutuskan untuk enggak ngasih tahu kamu ataupun keluargamu. Aku udah terbiasa hidup menderita. Jadi, saat aku harus mengandung Arsenio seorang diri, aku enggak ngerasa kesulitan sedikit pun karena itulah resiko yang harus kutanggung sendiri apabila menyembunyikan berita kehamilanku padamu," tandasnya sedikit berbohong. Mana mungkin berani berkata bahwa selama ini hidup menderita, membesarkan Arsenio seorang diri. Banyak cibiran dan cemoohan ia terima karena hamil tanpa ada suami di sisinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2