
Tujuan pertama destinasi wisata Arsenio adalah Little Venice yang terletak di Kota Bunga Kabupaten Cianjur. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam akhirnya mobil yang dikendarai Xander tiba di lokasi tujuan.
Little Venice sendiri merupakan salah satu tempat wisata asyik yang intagramable bagi pecinta foto. Tempat wisata ini mengusung konsep Eropa seperti kota asalnya yaitu, Venesia, Italia. Banyak wahana permainan, spot foto menarik dan taman bunga yang terlihat begitu indah.
"Wah ... indah sekali." Arsenio mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejauh mata memandang pepohonan hijau menjulang tinggi ke awang, aneka warna bungan tumbuh subur dan udara pun segar, beda sekali dengan di Jakarta.
Tania membungkukan sedikit tubuhnya hingga sejajar dengan anak tercinta. "Arsen, suka?"
Arsenio menjawab dengan anggukan kepala. "Suka banget. Thank you, Mama." Bocah kecil itu mencium pipi kanan Tania, kemudian mengalungkan kedua tangan di leher sang mama. "And I love you."
Xander yang baru saja membeli tiga tiket masuk tertegun dengan mata berkaca-kaca menatap pemandangan yang mengharukan itu. Ia merasa beruntung dapat menyaksikan sendiri momen langka anak dan mantan istrinya saat berpelukan, mengungkapkan rasa sayang terhadap masing-masing.
Alangkah bahagianya aku jika seandainya statusku masih menjadi suami Tania. Mungkin aku berhambur dan bergabung dengab mereka, saling berpelukan satu sama lain. Pasti rasanya bahagia sekali bisa menjadi salah satu bagian dari mereka. Xander menarik napas dalam seraya memejamkan mata. Namun sayang, aku masih harus meluluhkan kerasnya benteng tinggi di hati Tania dan Arsen.
Kepala menggeleng ke kanan dan kiri, mengenyahkan pikiran negatif yang muncul di benaknya. "Bukan saatnya untuk mengeluh. Terpenting saat ini aku menjalankan semua misi yang sudah kususun rapi dan jangan sampai gagal. Aku enggak boleh membiarkan Abraham ataupun pria lain masuk dalam kehidupan mereka." Lantas, Xander berjalan menghampiri Tania dan Arsenio.
Xander berdehem sebelum menginterupsi kegiatan Tania dan Arsenio. "Aku sudah membeli tiga tiket masuk. Saat di dalam sana, kita bebas memilih wahana mana yang ingin dinaiki. Kamu ataupun Arsen, enggak perlu cemas sebab aku telah membeli tiket langsungan tanpa batas."
"Pemborosan!" celetuk Arsenio. Kendati kesal, tapi bocah itu bahagia karena dia bisa main sepuasnya tanpa takut uang Tania habis. Biarlah uang Xander habis asalkan uang hasil jerih payah Tania selama bekerja tetap utuh. Yah hitung-hitung sebagai nafkah yang harus diberikan Xander kepada darah dagingnya.
Sementara itu, Tania pun turut kesal akan sikap Xander yang terkesan sering menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak berguna. Kemarin menyewa arena permainan selama lima jam dan kini membeli tiket masuk dengan akses semua permainan bebas pilih.
"Jangan terlalu berlebihan dalam menggunakan uang, Xander. Mencari uang itu sulit dan kamu enggak boleh menghambur-hamburkan uang untuk hal tak berguna. Aku enggak mau Arsen tumbuh jadi anak manja karena terlalu kamu sayangin," tegur Tania.
Bukannya Tania tidak tahu terima kasih hanya saja sejak dulu ia dididik untuk sangat menghargai namanya uang. Terlebih ia telah merasakan bagaimana sulitnya menjadi single parents, bekerja membanting tulang demi menghidupi Arsenio. Tak jarang wanita itu lembur dan keluar kota untuk mendapat pemasukan tambahan.
__ADS_1
Mulut Xander terbuka sempurna, hendak berkata sesuatu. Namun, lambaian tangan mungil Arsenio menghentikan niatannya.
"Mama jangan bilang begitu, nanti Om jahat enggak mau ngeluarin uangnya lagi untuk kita." Arsenio berbisik lirih di telinga Tania. "Selagi ada Om jahat di sini, lebih baik kita kerjain aja dia. Biarin aja uang Om jahat habis, kalau nanti habis, aku yakin Kakek Jo pasti marahin dia." Ujung dagu Arsenio mengarah kepada Xander.
Entah kenapa perasaan Xander seketika tidak nyaman saat melihat tatapan mata sinis ditujukan kepadanya. Walaupun tidak mendengar pasti akan apa yang dibicarakan Arsenio dan Tania, ia merasa kedua manusia itu tengah membicarakannya.
Sial, kenapa tiba-tiba perasaanku enggak enak? Apa Arsen tengah menyusun rencana untuk melawanku? batin Xander.
Masing-masing orang membawa satu tiket masuk. Arsenio, Tania dan Xander berjalan beriringan sudah seperti keluarga cinta yang tampak bahagia. Mereka memandangi pemandangan sekitar dengan takjub bahkan bola mata Arsenio berbinar bahagia saat melihat sendiri betapa indahnya keadaan di dalam sana.
"Mama, kita foto di sana yuk!" ajak Arsenio menunjuk salah satu spot bagus dengan background miniatur menara Eiffel.
Saat ini Tania dan Arsenio sudah berdiri di depan miniatur menara Eiffel. Wanita cantik dengan tinggi semampai dan bertubuh bak gitar Spanyol mengambil beberapa foto dengan pose berbeda. Ada yang sendirian dan berdua dengan Arsenio. Keduanya tampak bahagia terlihat jelas dari wajah yang berseri bagai sinar mentari di pagi hari.
"Kurang seru ah. Masa dari tadi fotonya cuma setengah badan doang. Aku 'kan mau kita foto bersama, tapi full body." Bibir Arsenio mengerucut ke depan, wajahnya pun ditekuk ke dalam.
Tania mengernyitkan alis petanda bingung. "Bukannya sama aja, Nak? Yang penting kita bisa selfie berdua."
Kepala Arsenio menggeleng. "Beda dong, Ma. Hasilnya enggak sebagus jika kita minta orang lain fotoin."
"Maksudmu, Mama minta orang untuk fototin kita, begitu?" Arsenio menganggukan kepala sebagai jawaban. "Siapa?"
Seketika wajah Arsenio berseri kembali. Sudut bibir bocah itu tertarik ke atas hingga membentuk sebuah lengkungan menyerupai busur panah.
__ADS_1
"Tunggu sebentar." Arsenio melambaikan tangan dan berseru, "Om jahat, sini!"
Suara menggelegar dan suasana ramai membuat para pengunjung menoleh hampir bersamaan pada orang yang dimaksud. Seketika mereka memandang dengan tatapan waspada sesaat setelah mendengar Arsenio mengatakan kata 'jahat' di sebelah kata 'om'.
Astaga, Arsen. Kenapa anak itu malah memanggilku dengan sebutan jahat, sih? Lihatlah, gara-gara kelakuan anak itu, aku menjadi bahan tontonan semua orang. Mereka pasti berpikir kalau aku ini adalah orang jahat.
Ingin marah, tapi sadar bahwa anak kecil di depan sana adalah darah dagingnya sendiri. Akhirnya Xander hanya tersenyum kaku sembari melangkah mendekati sang putera.
Sementara itu, Tania mengatupkan kedua bibir agar ketawanya tidak pecah. Sumpah demi apa pun, melihat ekspresi wajah Xander yang memendam amarah membuat perutnya terasa seperti digelitik tangan tak kasat mata.
Jemari mungil Arsenio menyodorkan telepon genggam milik Tania. "Om, tolong fotoin aku dan Mama dong. Ambil angel yang bagus agar hasilnya juga bagus."
Xander dibuat melongo akan sikap anak semata wayangnya itu. Seumur hidup baru kali ini ada seseorang yang berani memerintahnya bahkan Jonathan dan Miranda pun tidak pernah melakukan itu.
Tania yang sedari tadi menahan tawa akhirnya tidak dapat menahannya lagi. Tawanya pecah detik itu juga. Hal itu justru membuat kekesalan Xander bertambah kali lipat.
Xander mendelik tajam ke arah Tania, tapi Tania bersikap cuek dan seakan tidak merasa jika dirinya sedang diplototi mantan suaminya itu.
Apes banget dah hidup gue. Udah mah enggak dianggap Bapak sama anak sendiri, dituduh orang jahat sama semua orang dan kini diminta jadi tukang foto sama Arsen. Xander ... Xander ... karma loe sungguh nikmat. Xander bermonolog.
Tidak ingin emosinya terpancing, Xander segera menuruti permintaan Arsenio. Memberi arahan kepada Tania dan anak kesayangan agar berpose semenarik mungkin untuk mendapat hasil jerpretan yang menarik pula.
Enggak apa-apalah jadi tukang foto, selama Arsenio bahagia apa pun akan kulakukan demi jagoanku yang tampan dan menggemaskan itu.
...***...
__ADS_1