
Mengeluarkan telepon canggih pemberian Tania dari dalam tas ransel miliknya, Arsenio memilih tempat duduk di pojokan. Ia memutuskan untuk tidak pergi beristirahat bersama Ayra, sahabatnya sejak kecil sebab mempunyai rencana besar untuk membungkam mulut Haikal serta teman sekelas yang ikut mem-bully-nya di hadapan semua orang.
"Kita lihat saja nanti apakah kalian akan tetap mengoceh setelah melihat apa yang kulakukan kepada kalian semua," ucap Arsenio seraya menyeringai sinis. Sudah tertekad memberi sedikit pelajaran kepada Haikal dan teman-teman lain agar berhenti mengatakan kalau dia anak haram.
Bermodalkan kecerdasan yang dimiliki serta telepon genggam pemberian Tania, Arsenio bersiap meng-hack kamera pemantau atau lebih dikenal dengan istilah CCTV demi memuluskan aksi balas dendamnya kepada teman sekelasnya yang nakal.
Sebelum memulai aksinya, Arsenio memastikan terlebih dulu kamera android miliknya telah terhubung dengan koneksi hot spot wifi yang disediakan oleh pihak sekolah. Tanpa mengalami kendala sama sekali, ia berhasil log in dengan mudah sebab sebelumnya Tania pernah menggunakan fasilitas wifi gratis saat menghubungi rekan kerjanya sehingga kata sandi itu tetap tersimpan dengan aman.
Jemari tangan mungil itu bergerak dengan lincah, mencari aplikasi pendukung yang biasa digunakan untuk menyadap kamera CCTV. Ada dua aplikasi yang bisa digunakan. Akan tetapi, Arsenio lebih memilih aplikasi berbayar sebab mempunyai keunggulan lebih banyak dibanding aplikasi yang lain. Meskipun berbayar, tapi pada kenyataanya ia sama sekali tidak mengeluarkan uang sepersen pun.
Proses pengunduhan selesai mencapai 100%. Setelah itu, Arsenio langsung membuka aplikasi tersebut kemudian menghubungkan koneksi wifi pada telepon seluler miliknya.
Setelah terkoneksi, Arsenio langsung memilih dan menekan tanda plus pada bagian kiri bawah lalu muncul pop up dan dia menekan tanda tersebut secara manual hingga menampilkan title, alamat IP, port, username dan kata sandi. Untuk mengetahui alamat IP, ia kembali mengunduh sebuah aplikasi secara gratis.
"Alamat IP-nya adalah 192. 000.000. Untuk title ... apa ya?" gumam Arsenio seraya mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuk. Lalu, sebuah ide terlintas dalam benak bocah itu. Ia menuliskan 'mama tercinta' sebagai title-nya. Selanjutnya Arsenio tinggal mengisi user name dan kata sandi saja.
__ADS_1
Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja, Arsenio berhasil mematikan kamera CCTV yang ada di ruang kelas.
Seulas senyum mengembang di sudut bibir bocah kecil itu. "Let's enjoy the show!" ucap Arsenio. Setelah itu, ia mulai melancarkan aksinya tanpa perlu khawatir gerak geriknya dipantau oleh seseorang lewat kamera pengawas.
***
Jam istirahat telah usai, kini saatnya para murid sekolah masuk ke kelas masing-masing. Mereka berhamburan memasuki ruang kelas dan duduk manis di kursi sambil sesekali bersenda gurau dengan teman-teman. Satu di antara murid itu adalah Arsenio. Ia bergegas menyusul Ayra serta Lulu dan Lili yang sedang menyantap bekal kue buatan Yasmin, ibunda Ayra.
"Selamat siang, anak-anak." Suara merdu Anisa menggema memenuhi penjuru ruangan. Suasana ramai disebabkan oleh gelak tawa anak-anak seketika hening saat mendengar suara Anisa.
Dengan suara lantang anak-anak yang ada di kelas kelinci menjawab secara bersamaan. "Selamat siang, Bu Anisa."
"Hore! Yeah! Mewarnai gambar!" pekik salah satu murid. Ia tampak bahagia karena hari yang dinanti untuk berkreasi dengan aneka warna akhirnya datang.
Pendar bahagia terlukis jelas di sorot mata mereka. Wajah sumringah sambil sesekali berteriak dan melompat kegirangan menandakan kalau murid-murid itu begitu bahagia.
__ADS_1
Tanpa diperintah untuk kedua kali, semua murid di kelas kelinci bergegas mengeluarkan alat tulis serta pensil warna ataupun krayon kemudian meletakkannya di atas meja.
"Arsen, tadi kamu mengerjakan apa sampai aku tidak boleh tahu," bisik Ayra ketika ia mengeluarkan pensil warna dari dalam tas.
Arsenio tersenyum samar. "Rahasia dong! Pokoknya kamu tidak boleh tahu." Bocah lelaki bermata hazel bersikeras untuk tidak memberitahu apa yang sebenarnya dia lakukan saat semua orang tidak ada di ruang kelas.
Ayra mengerucutkan bibir, kesal karena Arsenio tetap menyembunyikan sesuatu darinya. "Main rahasia-rahasiaan! Bikin aku penasaran saja."
Arsenio terkekeh pelan mendengar jawaban Ayra. "Tanpa aku beritahu, kamu pun akan mengetahuinya Ayra. Tunggu saja sebentar lagi."
Dan benar saja, tak berselang lama, Haikal serta si kembar Arsya dan Arka berseru hampir bersamaan. "Bu Anisa, pensil warna dan kotak pensil kami hilang!"
"Rasakan kalian! Memang enak aku kerjain!" gumam Arsenio.
.
__ADS_1
.
.