
Enam Tahun Lalu ....
[Sayang, aku izin pergi ke rumah Mama sebentar, ya? Kebetulan hari ini di rumah Mama sedang ada acara arisan bareng teman geng sosialitanya. Aku enggak enak kalau enggak bantu-bantu di sana.]
Tania mengirimkan pesan singkat berwarna hijau kepada sang suami yang saat itu masih berada di Bandung. Xander sedang sibuk memantau perkembangan pembangunan rumah sakit bersama Jonathan.
Acara arisan yang dikocok sebulan sekali sengaja diadakan dengan tujuan untuk mempererat tali silaturahmi antara seluruh geng sosialita. Semua teman arisan Miranda, berkumpul dalam satu tempat, menghabiskan waktu bersama untuk berbincang hangat sambil melepas rindu.
Biasanya mereka mengadakan acara tersebut di restoran mewah yang hanya dikunjungi orang berdompet tebal, tapi entah kenapa kesempatan kali ini Miranda ingin diadakan di rumahnya. Katanya biar ada suasana berbeda.
Setelah menunggu beberapa saat, pesan balasan masuk ke telepon genggam milik Tania. [Iya, Sayang. Hati-hati di jalan. Kamu minta aja Pak Soleh mengantarkanmu ke rumah Mama. Jangan memaksakan diri untuk membawa mobil sendiri, mengerti?]
Tania tersenyum simpul membaca pesan yang dikirimkan suami tercinta. Sikap Xander sejak dulu hingga saat ini, tidak pernah berubah sedikit pun. Selalu perhatian dan sangat penuh kasih sayang. Mungkin karena sikap itulah membuat wanita cantik bermata sipit dan berkulit putih bagai susu bersedia menerima lelaki itu sebagai pendamping hidup.
Jemari tangan Tania menari indah di layar ponsel. [Oke, Sayang. Kamu enggak usah mengkhawatirkanku. Cepat pulang kalau semua urusanmu udah selesai. Love you, Sayang.]
Setelah meminta izin kepada Xander, Tania segera mengambil sling bag yang ada di dalam lemari. Kemudian memasukan dompet, telepon genggam serta alat make up miliknya.
"Pak Soleh, tolong anterin saya ke rumah Mama," ujar Tania pada sang sopir.
Pria setengah baya yang dipercaya mengantarkan Tania pergi ke mana pun mengangguk dan berkata, "Baik, Bu." Lantas, ia segera mengantarkan Tania menuju tempat yang dimaksud.
Tiba di pekarangan rumah orang tua Xander, Tania tidak langsung turun. Wanita itu mengatur napas beberapa kali guna mengendalikan debaran jantung yang terus memompa lebih kencang sejak meninggalkan istananya bersama suami tercinta.
Soleh yang mengetahui hubungan antara Tania dan Miranda tak pernah akur, melirik wanita di belakangnya lewat kaca spion di depan. "Bu Tania, apa kita kembali saja ke rumah? Saya khawatir terjadi sesuatu kepada Ibu jika memaksakan diri untuk tetap menemui Nyonya Miranda."
Tania menarik napas dalam seraya memejamkan mata. Lalu, setelah itu ia menjawab, "Enggak perlu, Pak. Lagipula kita udah jauh-jauh ke sini, masa iya mau pulang lagi sih."
__ADS_1
Raut kecemasan masih terlihat jelas di wajah Soleh. Namun, ia tidak bisa memaksa Tania jika wanita itu keukeh ingin tetap mengunjungi sang ibu mertua.
"Pak, tampaknya saya akan lama di sini. Bapak boleh pulang ke rumah dulu. Nanti saya hubungi lagi kalau udah mau pulang," pesan Tania setelah ia turun dari mobil. Soleh hanya mengangguk patuh sebagai jawabannya.
Suasana kediaman mertua Tania siang itu cukup ramai. Terdengar suara gelak tawa berasal dari bibir teman-teman Miranda. Tampak semua orang larut dalam suasana. Alunan musik instrumen lawas berasal dari tim band indie membuat suasana semakin syahdu.
"Selamat siang, semua." Suara lembut Tania menghentikan sejenak kegiatan semua orang yang ada di ruang tamu. Mereka menoleh hampir bersamaan ke sumber suara.
Salah satu teman Miranda menatap tajam akan sosok menantu satu-satunya di keluarga Vincent. "Kupikir siapa, eh enggak tahunya menantu kesayangan Jeng Miranda," cibir wanita itu tanpa mengalihkan perhatiannya pada Tania.
Entah apa yang dibisikan Miranda ke telinga mereka hingga membuat hampir semua teman geng sosialita ikut membenci Tania. Padahal selama ini istri Xander selalu bersikap baik, ramah dan sopan kepada semua orang. Namun, tetap saja di mata semua orang Tania ibaratkan sebutir debu yang tak berarti apa-apa.
"Benar. Dikirain saya Jeng Miranda mengundang artis papan atas, enggak tahunya malah mengundang menantu kesayangan." Mama Lidya mengakhiri kalimatnya dengan senyuman menyindir, tapi mampu membuat hati Tania terkoyak bagai dihujam oleh sebilah pisau. Sakit hingga ke ulu hati.
Mendengar gurauan ibu kandung Lidya, semua teman arisan Miranda tertawa terbahak. Perut terasa geli seakan ada tangan tak kasat mata tengah menggelitik mereka.
Sikap Amanda memang berbanding terbalik dengan sang kakak. Setiap kali ada pertemuan keluarga besar Pramono, tatkala Tania dirundung kesedihan akibat pandangan sinis yang ditujukan kepadanya, wanita setengah baya itu selalu membela istri keponakannya.
***
"Eh ... Mbak Tania. Kirain aku enggak bakal datang ke sini." Cleo, adik Abraham menyambut hangat kedatangan Tania. Ia berjalan mendekati kakak sepupunya, lalu membawa tubuh wanita itu dalam dekapan. "Udah lama banget ih, baru ketemu lagi."
Tania memaksakan diri untuk tersenyum meski jauh di lubuk hati yang terdalam ada perasaan tidak nyaman berada di lingkungan asing. "Iya nih, Mbak kemarin sibuk dengan urusan pekerjaan hingga enggak bisa ketemuan sama kamu. Maaf, ya."
Cleo tersenyum lebar memperlihatkan dedetan giginya yang putih dan rapi. "Ya udah, duduk dulu, Mbak. Biar aku buatkan minuman untukmu." Gadis cantik bertubuh semampai mengayunkan kaki menuju dapur, meninggalkan Tania dan Abraham yang terlihat begitu canggung.
Terjadi keheningan beberapa saat selepas kepergian Cleo. Baik Tania maupun Abraham tak ada satu orang pun berniat membuka suara. Ini merupakan pertemuan pertama bagi mereka setelah pernyataan cinta Abraham ditolak Tania dan wanita itu lebih memilih menerima pinangan Xander--kekasih tercinta.
__ADS_1
"Ehm ... bagaimana kabarmu, Tania?" Akhirnya Abraham berinisiatif membuka pembicaraan. Sedikit kikuk sebab sudah lama tak bertemu dengan wanita itu.
"Alhamdulillah, baik," sahut Tania singkat.
Abraham menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Syukurlah. Aku ... ikut senang mendengarnya."
***
Acara arisan di kediaman Miranda berlangsung dengan sangat meriah. Meskipun kehadiran Tania sempat membuat suasana tidak nyaman, tapi acara berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali.
Seorang pelayan memberikan cake kepada Tania. "Mbak Tania, dimakan dulu cake-nya. Ibu pasti capek, 'kan, karena sejak tadi wara wiri ke sana kemari membantu kami. Anggap aja cake ini sebagai tanda terima kasih saya karena udah dibantuin Mbak Tania."
Seulas senyuman terlukis di wajah Tania. "Padahal kamu enggak usah repot-repot, Mbak. Saya ikhlas kok melakukan itu semua." Wanita itu meraih salah satu piring cake yang disodorkan oleh pelayan berseragam navy. "Terima kasih, ya. Kebetulan saya emang sedang lapar."
Pelayan itu mengangguk. Lalu, pandangan matanya tertuju pada Abraham. "Dan kalau cake ini untuk Mas Abraham. Tadi Nyonya Amanda menitipkannya pada saya."
Ekor mata Abraham menyipit, menatap tajam pada pelayan itu. Mengernyitkan alis seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Heum. Terima kasih," kata Abraham sembari menerima cake tersebut.
Setelah semua pekerjaannya selesai, pelayan itu pamit undur diri dari hadapan Tania dan Abraham.
"Pertunjukan akan segera dimulai," ujar pelayan itu sambil menyungingkan senyuman smirk di sudut bibir. Sangat yakin bahwa sebentar lagi akan ada tontonan menarik yang kelak menggegerkan semua orang.
.
.
__ADS_1
.