Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Arsenio si Bocah Genius


__ADS_3

"Arsenio. Untunglah kamu ada di sini." Jonathan bangkit dan bergegas menghampiri bocah kecil berseragam TK.


"Aku dengan dari Paman asisten kalau perusahaan sedang diserang Dark Devil. Apa itu benar, Kek?" tanya Arsenio dengan tatapan mata penuh selidik.


Jonathan mengangguk. "Benar. Perusahaan V Pramono sedang diserang, seluruh tim IT telah memperkuat firewall dipadukan dengan VPN. Bandwidth juga sudah diperbesar, tapi tetap saja sistem DDoS mereka berhasil membobol pertahanan. Sistem sudah kena, data perusahaan sebesar sepuluh persen telah dikunci oleh mereka."


"Jalan satu-satunya adalah segera memasang antivirus I miss you, Dad, untuk menghentikan pergerakan mereka sebelum terlambat. Sayangnya, hingga sekarang keberadaan hacker Little B, belum juga ditemukan," imbuh Fadil. Pria muda itu belum mengetahui jika bocah kecil di hadapannya adalah seorang hacker yang pernah bertarung dengannya beberapa waktu lalu.


Kepala menggeleng cepat. "Kalau hanya memasang antivirus, yang ada dia akan terus semena-mena, menyerang perusahaan lain dan meminta imbalan yang sangat besar, Paman. Menurutku sebaiknya kita basmi mereka biar kapok!" imbuh Arsenio.


"Dibasmi bagaimana? Hacker Dark Davil merupakan seorang hacker terkenal di bidang IT, tak ada satu orang pun yang dapat mengalahkannya. Jika kita melawannya yang ada data perusahaan terkunci semua dan perusahaan milik Tuan Jonathan bisa bangkrut," jawab Fadil. Ada keraguan dalam diri pria itu saat mendengar perkataan Arsenio. Sifat sombong dsn jumawa dalam dirinya telah sirna tatkala kemampuannya tak bisa menandingi kemahiran si Little B.


Tanpa menjawab perkataan Fadil, Arsenio berjalan mendekati Farhan. "Paman, boleh enggak aku pinjam laptopnya?" kata bocah itu dengan wajah sedikit memelas.


Farhan tak serta merta menuruti permintaan Arsenio. Ia mendongakan kepala, menatap bocah kecil bermata hazel di sebelahnya. Kemudian beralih pada sosok lelaki paruh baya yang tengah berdiri sekitar dua meter dari posisinya saat ini. Dari sorot matanya seakan ia tengah meminta pendapat sang pemimpin perusahaan.


Lantas, Jonathan menganggukan kepala lemah sebagai jawaban. Meskipun ada sedikit keraguan menyelimuti diri, tapi ia mencoba percaya jika Arsenio dapat menyelesaikan masalah ini dengan mudah.


"Paman berkacamata, tolong bantu aku carikan alamat IP mereka!" minta Arsenio setelah duduk di kursi Farhan.


Merasa bahwa Arsenio membutuhkan pertolongannya, Farhan bergegas menghempaskan bokongnya di kursi sang kakak. Jari tangan lelaki itu mulai menuliskan kode-kode unik di layar laptop.


"Tampaknya mereka menggunakan beberapa server untuk mengelabui kita. Mereka tidak ingin alamat IP asli diketahui oleh siapa pun," tutur Farhan. "Saya udah masuk ke root mereka."

__ADS_1


Jonathan hanya menyaksikan Arsenio dari kejauhan. Bocah lelaki berusia enam tahun serta salah satu anak buahnya tampak begitu fokus sambil sesekali berkomunikasi menggunakan istilah asing yang sering digunakan dalam bidang IT. Air muka pria berwajah bule tampak begitu cemas sebab ia mempertaruhkan semua yang dimiliki di tangan Arsenio. Entahlah kenapa ia begitu percaya pada anak kecil itu padahal mereka baru bertemu beberapa kali. Mungkinkah karena wajah serta matanya yang hazel mirip Xander hingga ia langsung mempercayai orang asing itu?


"Hongkong!" suara teriakan Farhan membuyarkan lamunan Jonathan. "Singapura, Indonesia dan ... Malaysia!"


"Yes!" pekik Arsenio kegirangan. Kedua kaki yang menjuntai ke bawah bergerak secara bergantian. Ia teramat bahagia karena berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. "Paman, tolong kirimkan alamat IP mereka kepadaku," pinta Arsenio.


Seulas senyum tipis terlukis di sudut bibir Farhan. Ia mulai menikmati permainan yang diciptakan Arsenio. Ini merupakan pengalaman kedua bagi pria berkacamata melawat seorang hacker. Saat pertama kali berhadapan dengan Little B, ia cukup ketar ketir dibuatnya. Keringat dingin muncul ke permukaan pori, telapak tangan terasa dingin dan udara sekitar seakan tak mampu menyuplai oksigen ke paru-paru. Akan tetapi, semua berbeda saat ia bekerjasama, bahu membahu melawan seorang hacker terkenal bersama Arsenio.


Tatkala jemari mungil itu menari indah di atas keyboard, Jonathan serta semua orang yang ada di ruangan itu dapat menyaksikan kode unik serta simbol aneh yang hanya diketahui oleh Arsenio melawat sebuah layar di depan sana.


"Tuan, sebentar lagi mereka akan mengambil semua data perusahaan. Jika tidak secepatnya memasang antivirus tersebut maka perusahaan Anda tinggal kenangan," lirih Fadil bagai suara desau angin di musim gugur. Kendati begitu, Arsenio dapat mendengar jelas perkataan ketua tim IT milik sang kakek.


Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop di depannya, Arsenio menjawab, "Paman tenang aja, sebentar lagi permainan ini segera berakhir. Kita pasti menang." Tampang Arsenio terlihat santai seakan ia tak mempunyai beban sama sekali.


"Paman asisten, tolong mintakan susu cokelat pada pengasuhku di luar. Aku haus," ucap Arsenio yang mana permintaan itu membuat semua mata terbelalak sempurna. Pun begitu dengan Jonathan.


"Bocah kecil, Paman sudah menemukan IP C&C. Paman sedang mencoba melumpuhkan server itu," ujar Farhan.


Jonathan yang sedari tadi terdiam, tampak terkejut saat melihat sesuatu yang asing di depan sana. "Farhan, yang di depan sana apa?"


Sambil menyesap susu cokelat kesukaannya, Arsenio menjawab, "Itu sistem zombie yang mengontrol dan memerintahkan serangan DDoS dari jarak jauh, Kakek."


"Sudah saya analis, rupanya server itu berasal dari Singapura. Dari salah satu gedung tertinggi di negara tersebut." Kali ini salah satu anak buah Fadil ikut menimpali. Ia turut terlibat dalam permainan yang diciptakan Arsenio.

__ADS_1


"Paman, jangan dulu dilumpuhkan. Aku masih ingin main-main dengan mereka."


"Heh, bocah kecil! Jangan main-main! Kamu tahu, virus itu akan semakin ganas jika seandainya server C&C tidak segera dihentikan!" bentak Fadil dengan suara lantang. Ia sudah tidak tahan berada dalam ketegangan hingga tanpa sadar telah membentak seorang anak kecil di hadapan semua orang.


Detik itu juga Jonathan menghunuskan tatapan tajam kepada Fadil karena seenaknya saja membentak Arsenio. Ia memelototi anak buahnya seakan meminta pria itu untuk diam dan tak banyak bicara. Cukup menunggu dan berdo'a semoga semua baik-baik saja.


Melihat sorot mata tajam seperti seekor harimau buas yang tengah hendak menerkam musuhnya, seketika Fadil bungkam, tak lagi berbicara. Bibir mengatup, lidah pun terasa kelu tak mampu berkata apa-apa.


Arsenio menolehkan kepala sekilas ke samping, lalu tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih karena rajin disikat saat bangun tidur dan sebelum tidur. "Paman tenang aja, aku enggak bakal membuat Kakek Jonathan rugi." Usai mengucapkan kalimat tersebut ia kembali fokus ke depan.


"Paman, tolong kirimkan alamat servernya ke aku."


Asisten Xander mendekati Jonathan, dan berbisik, "Tuan, jika seandainya bocah kecil itu gagal maka kita harus bersiap-siap memberikan tebusan yang cukup besar."


Jonathan menelan saliva susah payah. Sebenarnya ia bisa saja memberikan uang dua milyar dollar sebagai imbalan kepada Dark Davil, meminta orang di seberang sana menghentikan aksinya. Namun, keputusannya itu akan berdampak pada kesejahteraan karyawan perusahaan dan ekonomi V Pramono.


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Mata terpejam mencoba mengenyahkan kegundahan di dalam dada. "Aku tahu. Namun, percaya jika Arsenio mampu mengalahkan hacker Dark Davil."


.


.


.

__ADS_1


Halo semua, sambil nunggu update-an karya ini, mampir dulu yuk ke karya teman author. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇



__ADS_2