
Flash Back On
Xander tiba di Jakarta tepat pukul 16.00 WIB. Lelaki itu segera meminta sopir suruhan Miranda untuk mengantarkannya ke rumah sang mama. Katanya ada hal penting yang ingin disampaikan Miranda kepadanya. Lelaki itu sudah bertanya hal penting apa yang ingin disampaikan, tapi Miranda enggan memberitahunya. Oleh karena Tania masih berada di rumah sang mama, lelaki itu pun menuruti keinginan Miranda sekalian mengajak istri tercinta pulang ke rumah.
"Pa, tolong lebih cepat lagi. Saya ingin segera menemui Tania di rumah Mama," ujar Xander dengan menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya yang seksi. Matanya yang indah berbinar bahagia sebab sebentar lagi akan melepas rindu setelah satu minggu lamanya berpisah dengan istri tercinta.
Sopir pribadi Miranda yang sudah bertahun-tahun bekerja di kediaman Vincent Pramono tersenyum melihat rona kebahagiaan terpancar jelas di sorot mata anak majikannya. Semenjak menikah dengan Tania, wajah Xander tampak lebih berseri dari biasanya. Dan itu membuat mang Dudung turut berbahagia.
"Aduh si Aden, udah enggak sabar, ya, ingin bertemu Neng Tania?" goda lelaki paruh baya itu sembari menatap Xander dari kaca spion.
Xander yang memang pada dasarnya selalu ramah terhadap orang lain membalas perkataan lelaki di depan sana. "Benar, Mang. Maklum, namanya juga pengantin baru jadi kangen terus bawaannya." Mengusap tengkuknya menggunakan tangan kanan, merasa sedikit malu karena isi pikirannya dapat ditebak oleh mang Dudung.
Mang Dudung tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang kekuningan. "Mamang do'akan semoga pernikahan Aden dan Neng Tania langgeng sampai maut memisahkan."
Mendengar do'a tulus yang dipanjatkan Dudung, membuat Xander meng-aamiinkannya. Berharap kelak Tuhan mengabulkan do'a dari sopir pribadi Miranda.
Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih tiga puluh menit, akhirnya Xander tiba di kediaman orang tuanya. Ketika mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk rumah mewah bergaya Eropa, ia langsung melompat keluar dan berderap masuk ke dalam rumah.
"Tania! Sayang, aku pulang!" seru Xander sembari berjalan setengah berlari menuju ruang tamu. Beruntungnya saat itu suasana rumah sepi sebab acara arisan sudah berakhir tiga puluh menit yang lalu sehingga Xander tidak perlu merasa canggung apabila tanpa sengaja bertemu dengan teman geng sosialita Miranda.
Miranda yang saat itu sedang asyik berbincang dengan Amanda menoleh ke sumber suara. Anak pertama keluarga Pramono tampak begitu kesal saat mendengar nama Tania yang pertama kali diucapkan oleh sang anak.
Sialan! Kenapa Xander malah memanggil nama Wanita murahan itu terlebih dulu ketimbang aku? Padahal aku adalah Mamanya, wanita yang udah melahirkannya ke dunia ini. Tapi kenapa dia malah memanggil nama Tania? gerutu Miranda dalam hati. Akan tetapi, ia tidak berani protes di hadapan Xander.
"Eeh ... anak Mama udah pulang. Duduk sini. Kamu pasti capek habis bepergian, 'kan?" ucap Miranda dengan seulas senyuman penuh arti.
Dididik dan diajarkan untuk bersikap ramah dan sopan santun kepada orang yang lebih tua, Xander menghampiri mama serta Amanda yang tengah duduk di sofa. "Bagaimana kabar, Tante? Udah lama enggak ketemu."
Amanda mengusap punggung Xander saat keponakannya itu mencium punggung tangannya. "Alhamdulillah baik. Kamu mau ketemu Tania?" Xander menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Terakhir kali Mama lihat dia masuk ke kamar tamu, Nak. Tadi istrimu sempat mengeluh sakit kepala. Mama udah suruh dia tidur di kamar kamu, tapi keukeh ingin tidur di kamar tamu. Ya udah deh, karena Mama enggak mau maksa, Mama biarin aja istrimu tidur di sana," cerocos Miranda tanpa henti. "Udah sana temui Tania. Dia pasti kangen banget sama kamu."
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Miranda dan Amanda, Xander berjalan menuju salah satu kamar tamu yang ada di lantai satu. Kamar itu khusus disediakan bagi sanak keluarga yang ingin menginap.
Tak membutuhkan waktu lama, Xander telah tiba di depan kamar tamu. Dengan tidak sabaran, ia memutar handle pintu hingga terbuka lebar.
"Tania, Sayang. Aku pu--"
Belum selesai Xander berbicara, sepasang mata tajam menangkap sosok perempuan cantik yang tengah terbaring di bawah selimut tebal. Akan tetapi, wanita itu tidak sendiri melainkan ada seseorang yang ikut tertidur di sebelah istri tercinta. Dan lelaki itu adalah ... Abraham.
"Tania!" seru Xander dengan suara menggelegar. Sorot mata lelaki memancarkan kekecewaan saat mendapati kondisi Tania yang kacau sekali. Rambut perempuan itu berantakan, begitu pun dengan polesan make up di wajahnya.
Tania yang masih lamat-lamat membuka kelopak mata secara perlahan, memijat pelipis yang terasa sakit sekali. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar dan netranya beradu pandang dengan sosok lelaki yang begitu dirindukan selama seminggu ini.
"Sayang, kamu udah pulang?" tanya Tania. Wanita itu belum menyadari bahwa ada Abraham di sebelahnya.
Lantas, Tania menyingkap selimut tebal itu dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati tubuhnya hanya mengenakan jubah mandi sedangkan semua pakaiannya berserakan di lantai. Keterkejutan Tania tidak sampai di situ, suara bariton seseorang di sebelahnya mengalihkan perhatian wanita itu dari sosok lelaki berparas rupawan di depan sana.
"Berisik sekali!" ujar seseorang yang tak lain adalah Abraham. Tangan kirinya meraih sebuah bantal di sebelahnya. Sontak, pergerakan tangan itu membuat bola mata Tania membulat sempurna.
"Sayang?" cicit Tania saat menyadari tatapan penuh kekecewaan terpatri indah di wajah Xander.
Tania menggeleng. "Enggak, Sayang. Ini salah paham. Aku bisa jelasin ke kamu." Dia bangkit dari tempat tidur dan meraih tangan Xander.
"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu, Tania Maharani! Aku enggak sudi disentuh oleh perempuan jalaang dan murahan macam kamu!" hardik Xander sembari menepis kasar tangan Tania.
Mendengar suara ribut-ribut, membuat Abraham terbangun dari tidurnya yang panjang. Lelaki itu mencoba duduk sambil menyenderkan punggung di headboard tempat tidur.
"Kalian berdua kenapa ribut di sini, sih? Mengganggu aja!" gerutu Abraham seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit bagai dihantam sebuah gada sangat besar.
Enam kotak roti sobek tercetak jelas di bagian perut Abraham. Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus memberikan kesan jantan pada lelaki itu. Sangat yakin akan banyak perempuan jatuh hati tatkala melihat pemandangan langka yang ditampilkan oleh sepupu Xander. Namun, pemandangan indah itu justru memicu amarah yang berkecamuk di dalam diri Xander.
"Bajingan! Berengsek! Berani-beraninya kamu selingkuh dengan istriku!" Xander berhambur ke atas ranjang, kemudian melayangkan sebuah pukulan keras di wajah mulus Abraham. "Dasar Bajingan!"
__ADS_1
"Siapa yang selingkuh dengan istrimu, Xander? Aku mana ada main api dengan Tania," elak Abraham di tengah gempuran kepalan tangan kakak sepupunya itu.
"Asalan! Mana ada maling ngaku!"
Sebuah pukulan keras melayang ke wajah dan perut Abraham hingga lelaki itu nyaring terjatuh dari tempat tidur. Meringis kesakitan merasakan nyeri yang teramat di area sekitar wajah dan perut. Xander berniat melayangkan tinjuan lagi, tapi suara teriakan Tania menghentikan gerakannya.
"Berhenti memukulnya, Xander!" teriak Tania.
Tangan Xander mengepal di udara, menahan diri agar tidak kembali menghajar Abraham. Rahang lelaki itu gemetaran, merasakan emosi bercampur kesedihan akibat pengkhianatan yang dilakukan istri dan adik sepupunya.
"Sayang, aku dan Abraham enggak melakukan apa pun. Sungguh!" ucap Tania bersungguh-sungguh. Berharap amarah dalam diri Xander meredup jika seandainya dia memberi penjelasan pada lelaki itu.
"Kalau emang enggak melakukan apa-apa, lalu kenapa kamu bisa tidur satu ranjang dengannya?" tanya Xander sinis.
"Seingatku tadi aku lagi duduk di taman belakang sambil makan cake, tapi enggak tahu kenapa tiba-tiba aja kepalaku pusing dan aku minta izin sama Mama untuk tidur. Setelah itu aku enggak tahu apa yang terjadi menimpaku."
Xander menghunuskan tatapan tajam. "Kamu pikir aku bodoh bisa percaya begitu aja?"
"Tapi aku berkata yang sejujurnya. Aku dan Abraham ... kami ...."
"Astaga, Tania! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tega selingkuh di belakang Xander?" Miranda memandang tak percaya pada sang menantu. Akan tetapi, di dalam hati sangat bahagia karena rencananya berjalan lancar.
"Jadi ini alasan kamu enggak mau tidur di kamar Xander karena ingin lebih leluasa memadu kasih dengan Abraham. Begitu?"
Bola mata Tania melotot mendengar perkataan Miranda. "Enggak, Ma. Mama salah paham. Aku--"
"Cukup, Tania! Aku udah enggak mau dengar apa pun lagi dari mulutmu. Aku kecewa sama kamu. Kamu udah menodai kesucian pernikahan kita. Kamu tega selingkuh di belakang aku." Ada rasa sakit setiap kali mengucapkan kalimat tersebut. Hatinya hancur berkeping-keping mendapati Tania tidur satu ranjang dengan Abraham. "Aku enggak bisa hidup dengan perempuan murahan seperti kamu. Maka dari itu, aku talak kamu!"
Amanda hanya bergeming melihat pemandangan yang menyesakan di depan mata kepalanya sendiri.
.
__ADS_1
.
.