
"Kamu yakin enggak ada barang-barang yang kelupaan? Saya enggak mau pas sampai di apartemen ternyata ada bahan makanan ataupun barang-barang yang lupa dibeli," kata Tania saat dia, Arsenio dan Surti sedang mengantri di kasir.
Surti kembali memperhatikan troli berisi semua bahan makanan serta keperluan sehari-sehari terutama kebutuhan Arsenio--anak yang diasuh olehnya. "Enggak ada kok, Bu, semuanya sudah dibeli. Susu kotak, vitamin dan alat tulis Den Arsen sudah di dalam troli semua."
"Ya udah kalau emang enggak ada yang kelupaan," balas Tania sembari mendorong troli mendekati kasir.
Wanita cantik dengan kulit putih bagai pualam melirik Arsenio yang berdiri di sebelahnya. Tangan terulur ke samping, mengusap puncak kepala sang anak sambil berkata, "Arsen enggak mau beli mainan ataupun buku bacaan? Mumpung Mama baru dapat bonus jadi kita bisa membeli apa pun yang kamu inginkan."
Semenjak pindah ke Jakarta, kehidupan Tania memang mengalami sedikit peningkatan. Semua yang dikatakan Akmal mengenai masa depan cerah benar adanya, terbukti kini Tania dipercaya Johan menangani beberapa proyek yang dimenangkan oleh perusahaan. Itu semua tidak terlepas dari campur tangan Tania Maharani, wanita yang dulu pernah menjadi salah satu dari bagian keluarga Vincent.
Arsenio menyeringai hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Kalau boleh, aku ingin beli buku cerita, Ma. Kemarin Zoya cerita kalau di toko buku GM ada koleksi buku menarik yang sangat cocok buatku. Aku jadi penasaran dan ingin membuktikannya sendiri."
Tania terkekeh dan mencubit pipi Arsenio pelan. "Boleh dong, masa iya enggak! Setelah ini kita mampir toko buku terdekat dan kamu bisa pilih buku manapun yang diinginkan."
Ibu jari dan jari telunjuk Arsenio terangkat ke udara, membentuk huruf O. "Oke, Mama!"
Menuruti keinginan Arsenio, Tania mengajak anak semata wayangnya menuju salah satu toko buku terkenal di mall tersebut. Pendar kebahagiaan terpancar jelas di sorot mata Arsenio. Sesekali terdengar senandung lirih bersumber dari anak tercinta.
"Nah, Sayang, kamu boleh memilih buku apa pun yang diinginkan. Tapi ingat enggak boleh aji mumpung, mentang-mentang Mama memperbolehkanmu memilih, kamu jadi menuruti hawa napsu dan membeli semua buku tanpa ada keinginan untuk membacanya. Belilah buku yang benar-benar kamu butuhkan, mengerti?" pesan Tania sebelum melepaskan tangan Arsenio, berkeliling mencari buku yang diinginkan.
Mengangguk kepala dan menjawab, "Mama tenang aja, aku enggak akan menghambur-hamburkan uang pemberian Kakek Johan." Lantas, Arsenio ditemani Surti masuk ke dalam toko buku yang dimaksud sedangkan Tania duduk di kursi tunggu depan toko tersebut.
Tania memperhatikan putera kesayangannya yang tampak bahagia di dalam sana. Wajahnya yang sumringah membuat wanita itu semakin semangat melanjutkan hidupnya yang penuh dengan cobaan.
__ADS_1
Mengeluarkan telepon pintar dari dalam sling bag miliknya, kemudian membaca email masuk yang dikirimkan oleh Johan maupun anak buahnya. "Nasib jadi karyawan, hari libur pun masih disuruh kerja." Menjeda sejenak kalimatnya. "Namun, aku enggak boleh mengeluh toh segala sesuatu akan ada resiko yang kutanggung. Jika diriku ingin masa depan cerah untuk Arsenio maka aku harus bekerja keras, enggak bisa berpangku tangan begitu aja. Emang rezeki itu akan datang begitu aja tanpa dijemput?"
Tangan kanan Tania menggandeng Arsenio, sedangkan tangan kirinya menenteng satu kantong belanja ukuran sedang. Dua kantong lain dibawa Surti. Mereka berjalan beriringan keluar mall, dengan bocah kecil bermata hazel terus berceloteh mengungapkan perasaan bahagianya karena mendapat koleksi buku baru pemberian sang mama.
Namun, seperti keriangan itu tidak bertahan lama, ketika tanpa sengaja pandangan Tania tertuju akan sosok perempuan yang paling ingin ia hindari. Seseorang yang turut andil dalam retaknya rumah tangga Tania dan Xander.
Langkah kaki Tania terhenti seketika. Jantung berdetak tak beraturan, kepingan kejadian di masa lalu kembali berputar dalam benak wanita itu.
Kamu cuma orang miskin, asal usalmu enggak jelas. Jadi jangan harap aku mau menerimamu sebagai menantuku. Selamanya, kamu cuma seonggok sampah tak berguna!
Kata-kata yang pernah diucapkan Miranda lima tahun lalu kembali terngiang di telinga Tania. Sungguh, ia tidak menduga jika wanita yang telah melahirkan Xander ke dunia ini tega berbicara begitu. Ia pikir Miranda akan menerimanya setelah akad nikah berlangsung, tapi ternyata nyonya besar Vincent sama sekali tak menganggapnya sebagai salah satu bagian dari anggota keluarga Vincent.
"Bu, Ibu baik-baik aja?" tanya Surti keheranan sebab sedari tadi majikannya mematung sambil terus memandangi lurus ke depan.
"Mbak Surti, tolong bawa Arsenio sekarang. Nanti kita ketemuan di lobi saja, saya masih ada urusan sebentar." Tanpa basa basi, Tania melepaskan genggaman tangan Arsenio dan menyerahkannya ke Surti. "Cepat, Surti!"
"Loh, emangnya Bu Tania mau ke mana? Kenapa kita enggak sama-sama saja?" Surti masih bersuara, menyampaikan kebingungan yang menderanya.
"Saya enggak bisa cerita ke kamu. Pokoknya bawa Arsenio pergi dari sini, sekarang!"
Meskipun Surti masih dilingkupi rasa penasaran, tetapi melihat air muka penuh keseriusan bercampur ketegangan, wanita berusia dua puluh lima tahun menuruti perintah sang majikan. Ia segera memindahkan satu kantong plastik ke tangan sebelah kiri, sedangkan tangan kanannya diperuntukan khusus untuk menggenggam tangan Arsenio.
"Mbak Surti, kenapa kita pergi tanpa Mama? Emangnya Mama mau ke mana dulu? Kenapa aku enggak diajak?" tanya Arsenio setelah melihat Tania tertinggal di belakang.
__ADS_1
Surti mengulas senyuman manis di sudut bibir. Meskipun ia sendiri tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada majikannya, tetapi mencoba tetap tersenyum dan bersikap tenang seperti biasa. "Oh itu, Mamanya Den Arsen mau beli sesuatu katanya tadi ada yang ketinggalan. Kita diminta menunggu Mama di lobi."
Surti melirik ke Arsenio. "Lebih baik kita tunggu Mama di bawah. Den Arsen pasti udah enggak sabar, 'kan baca buku yang baru dibeli tadi," bujuknya. Menggunakan kelemahan Arsenio agar bocah kecil itu patuh dan menuruti perintahnya.
Telapak tangan mungil itu menepuk kening pelan. "Oh iya, aku lupa kalau tadi baru aja beli buku baru." Wajah Arsenio kembali bersinar terang saat mendengar perkataan Surti. "Ya udah, ayok, Mbak. Aku udah enggak sabar ingin membaca buku itu."
Menghela napas panjang. Untung saja Den Arsen patuh dan enggak banyak tanya. Kalau enggak, aku bakal bingung sendiri harus ngasih penjelasan apa kepada anak asuhku ini, batin Surti.
Sementara itu, Tania tengah mengatur napasnya. Sedari tadi irama jantung wanita itu berdetak tak beraturan. Telapak tangan basah, keringat dingin pun mulai muncul ke permukaan. Berharap semoga Miranda tak mengetahui kehadirannya di mall tersebut.
Akan tetapi, rupanya semesta tak mengabulkan harapan Tania. Miranda, mantan mertuanya itu malah mendekat sambil menghunuskan tatapan mata tajam sama seperti saat pertemuan pertama mereka.
"Masih berani kamu menampakkan batang hidungmu di kota ini!" seru Miranda dengan meninggikan nada suara.
.
.
.
Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Nama pena dan judulnya ada di bawah. 👇
__ADS_1