Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Undangan Makan Malam


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Xander melaju tenang memecah jalanan ibu kota. Bila biasanya Xander mengemudi sendirian tanpa ada seseorang yang menemani, kali ini berbeda, saat ini ia duduk bersebelahan dengan Tania, mantan istrinya. Xander mengantarkan Tania ke kantor setelah mereka selesai makan siang.


Sebenarnya Tania sudah menolak tawaran Xander sebab tidak mau merepotkan mantan suaminya, tetapi pria itu memaksa dan mengancam akan melakukan hal bodoh apabila keinginannya tidak dituruti. Tania tahu jika Xander dapat berbuat nekad apabila keinginannya tidak dikabulkan. Oleh karena itu dia setuju dan menerima tawaran meski dengan setengah hati.


"Apa?" tanya Tania saat Xander mencuri pandang ke arahnya. Tania masih sangat kesal karena Xander menciumnya di saat ia sedang dirundung kesedihan. Xander memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk mengecup manisnya madu di bibir Tania. Walaupun Tania sadar jika ia pun salah, membiarkan sang kumbang kembali menikmati rasa manis itu, tetap saja di mata wanita itu, Xanderlah yang bersalah.


Xander tertawa kecil. Ia genggam tangan lembut dan membawa ke bibirnya. Ia kecup jemari tersebut sambil menikmati keharuman yang ada. Seluruh tubuh Tania memang dipenuhi dengan keharuman.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memandangi salah satu keindahan ciptaan Tuhan saja. Memangnya salah?" ucap Xander melirik dan tersenyum teduh.


Bibir merah sang wanita masih cemberut. "Dasar gombal! Sejak dulu hingga sekarang, kamu tidak pernah berubah sedikit pun. Masih sama seperti dulu, tukang gombal."


"Selain tukang gombal, kamu pun pria yang gemar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sudah tahu aku sedang khawatir, tapi kamu justru menciumku di saat pikiranmu sedang kacau. Benar-benar menyebalkan!" gerutu Tania sembari melipat kedua tangan di depan dada. Ia alihkan pandangan ke luar jendela.


"Kendati begitu, kamu menyukainya, 'kan? Kamu menikmatinya juga, 'kan?" goda Xander sambil menarik turunkan kedua alis. Wajah cemberut Tania saat sedang merajuk terlihat semakin menggemaskan.


Tania tak menjawab. Ia hanya memutar bola matanya dengan malas. Sejujurnya ia pun menikmati permainan lidah yang Xander berikan saat mereka berciuman. Namun, mana mungkin ia berkata jujur. Bisa-bisa Xander besar kepala dan semakin bersemangat untuk menggodanya.


Lampu lalu lintas menunjukan warna merah, secara otomatis semua kendaraan berhenti dan menunggu hingga berubah warna. Kesempatan itu digunakan Xander untuk mengutarakan isi hatinya kepada Tania.

__ADS_1


"Tania, maafkan aku karena memanfaatkan situasi untuk bisa mencium lagi bibirmu yang manis itu. Namun, demi Tuhan, aku tak bermaksud lancang dengan cara memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," ujar Xander berkata jujur. Dia tidak mau dianggap sebagai pria berengsek karena menggunakan kesedihan Tania untuk menuntaskan hasratnya.


"Aku ... tidak mampu mengendalikan diri saat sedang berada di dekatmu. Seluruh tubuhku bereaksi tanpa bisa kuhentikan." Xander mendongakan kepala, memperhatikan angka pada layar lampu lalu lintas. Masih tersisa tiga puluh detik hingga berubah warna hijau. "Entah kenapa, aku jadi hilang kendali hingga tanpa sadar mendaratkan bibirku di bibirmu yang manis bernuansa strawberry segar. Sungguh, aku sama sekali tidak berniat melecahkanmu, Tania. Jadi kumohon, maafkan aku."


Tania memutar tubuhnya hingga kini posisinya berhadapan dengan Xander. Dipandanginya lekat pemilik mata hazel indah nan jernih itu. Ia mematri wajah rupawan itu di memori ingatannya.


"Tidak perlu meminta maaf. Toh itu semua bukan salahmu. Kita terlalu larut dalam suasana hingga membuatmu dan aku sama-sama tak dapat mengendalikan diri. Jadi lupakan saja, anggaplah semua itu tak pernah terjadi."


Xander tersenyum getir mendengar ucapan Tania. Ia pikir dengan mereka saling memanggut dan menyesap satu sama lain maka hubungan yang sempat kandas dapat dirajut kembali, tapi ternyata tidak. Ciuman itu tak berarti apa pun di mata Tania.


Kecewa? Tentu saja. Pria mana yang tidak kecewa mendapat penolakan dari wanita yang masih sangat ia cintai. Namun, Xander akan terus berusaha mendapatkan kembali apa yang pernah ia miliki.


Menarik napas panjang, pewaris tunggal V Pramono Group berusaha sabar menerima kenyataan bahwa saat ini hati Tania masih tertutup rapat.


Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata yang terucap di bibir keduanya. Xander tampak begitu fokus dengan jalanan di depan sana, sedangkan Tania sibuk dengan pikirannya sendiri.


Kenapa Xander terdiam? Apa ada kata-kataku yang menyinggung perasaannya? batin Tania.


Menggeleng cepat, mengenyahkan pikiran negatif yang bersemayam di kepalanya. Aah! Kenapa pula aku harus memikirkan Xander. Sudahlah, lebih baik aku fokus memikirkan urusan pekerjaan daripada mikirin sesuatu yang tidak penting. Lantas, Tania mengeluarkan telepon genggam miliknya dari dalam tas, kemudian membuka materi presentasi yang akan disampaikan di hadapan klien.

__ADS_1


Siang ini Tania kembali diajak Johan bertemu klien, mempresentasikan rancangan desain pembangunan sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak. Komisi yang didapat apabila proyek ini 'goal', cukup besar. Untuk itulah Tania berusaha keras agar proyek kali ini jatuh ke tangannya.


***


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka tiba di depan sebuah gedung pencakar langit di kota Jakarta. Xander menepikan mobilnya tepat di depan pintu pos security. Ia sengaja melakukan itu atas permintaan Tania.


Tania melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuh. "Terima kasih sudah mengantarkanmu. Dan ... terima kasih juga sudah mentraktirku. Kapan-kapan gantian, aku yang akan mentraktirmu."


Xander mengangguk-angguk. "Terserah kamu saja. Oh ya, besok malam aku datang ke apartemenmu, kita akan bahas rencana masa depan Arsenio. Aku akan membawa brosur dari beberapa sekolah bagus di kota ini. Jadi nanti kita bisa berdiskusi bersama, menentukan sekolah mana yang cocok bagi Arsenio. Sebentar lagi, 'kan, tahun ajaran baru, jadi kita bisa mempersiapkannya sejak sekarang. Saat pendaftaran sudah dibuka, aku maupun kamu tinggal mendaftar saja tanpa perlu repot mencari-cari lagi," tutur Xander panjang lebar.


Untuk urusan yang menyangkut masa depan Arsenio, Xander tidak mau setengah-setengah. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi sang putera. Karena itu ia mempersiapkan segalanya secara matang. Tidak hanya memberi uang untuk digunakan biaya hidup dan pendidikan Arsenio, Xander pun turut serta memilih sekolah terbaik bagi anak kesayangannya itu.


Tania termenung sesaat, sebelum akhirnya menjawab perkataan Xander. Tidak menyangkan bahwa mantan suaminya itu akan bersungguh-sungguh memilihkan sekolah terbaik untuk buah cinta mereka.


Dia melirik pada lelaki di sebelahnya. Sorot mata pria itu memancarkan kesungguhan, tak terlihat sedikit pun keraguan di sana.


"Oke. Datanglah sebelum pukul tujuh malam agar kita bisa makan malam bersama."


Seusai Tania keluar, Xander tak bisa lagi menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia memandangi punggung Tania yang mulai menghilang dari pandangan mata.

__ADS_1


"Aku pasti datang, Gwiyomi."


...***...


__ADS_2