
Acara pesta yang seharusnya berakhir penuh suka cita kini hancur berantakan karena insiden tak terduga. Para tamu undangan terpaksa meninggalkan ballroom hotel karena merasa mereka memang tak seharusnya tetap berada di sana sebab sang pemangku hajat tak lagi menampakkan batang hidungnya. Akibat syok bercampur malu dalam waktu bersamaan, Nathalia dan Martin pergi dari ruangan dan tak kembali lagi sampai detik ini.
"Mas, bagaimana kamu bisa tahu kalau kecelakaan yang menimpaku ada campur tangan Lidya di dalamnya. Apa kamu meminta seseorang menyelediki kecelakaanku?" tanya Miranda ketika dia beserta keluarganya melangkah bersama meninggalkan ballroom.
"Apa gunanya aku kaya, Ma, jika tidak bisa menggunakan kekuasaanku untuk menyelidiki kasus ini. Selain itu, sepertinya Lidya tidak tahu kalau ada orang hebat dan pintar berdiri di kubu kita sehingga dengan mudahnya menemukan bukti kejahatan wanita itu walaupun barang bukti telah dimusnahkan."
Kening Miranda mengerut, tak mengerti maksud perkataan Jonathan. "Maksudmu, apa? Siapa seseorang itu? Apa orang yang kamu maksud adalah Ibrahim, asisten pribadi putera kita?"
Jonathan tersenyum samar begitu pun dengan Xander dan Arsenio. Hanya Tania saja yang tidak tersenyum sebab dia sendiri tak tahu jika bocah kecil yang tengah menggandeng jemarinya adalah orang yang dimaksud. Yah, dia belum mengetahui kalau anak tersayang turut andil mengungkap kejahatan Lidya.
"Memangnya Mama tidak tahu jika cucumu yang tampan dan menggemaskan ini adalah anak genius? Dia sangat ahli di bidang IT, apa pun yang berkaitan dengan dunia pemprograman merupakan makanan sehari-hari baginya," celetuk Xander ikut terlibat dalam percakapan kedua orang tuanya. Ada perasaan bangga saat dia mengatakan kalimat tersebut. Bangga karena buah cintanya dengan Tania tumbuh menjadi anak cerdas dan hebat.
Kerutan di kening Miranda semakin terlihat jelas, benar-benar bingung ke mana arah percakapan mereka. Wajar saja sebab nyonya besar keluarga Vincent Pramono belum mengetahui kalau Arsenio adalah seorang hacker kecil yang kerjaannya membuat orang ketar ketir.
Dengan lemah lembut Jonathan berkata, "Ma, cucu tersayang kita terlahir dengan kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya. Tuhan menganugerahkannya IQ 180 yang bisa dikatakan bahwa Arsenio adalah anak genius. Kebetulan dia gemar sekali segala sesuatu yang berkaitan di bidang IT dan berkat bantuannyalah aku berhasil mendapatkan semua bukti yang sengaja Lidya hilangkan untuk menghilangkan jejak kejahatannya."
"Apa!" Miranda terbelalak mendengarnya. Kenapa tidak ada satu orang pun memberitahunya perihal ini?
"Jadi kamu ikut berperan dari terbongkarnya kejahatan Tante Lidya, iya?" tandas Tania tak kalah terkejut dari sang mantan mertua.
__ADS_1
Arsenio cengegesan saat sepasang mata sipit menatapnya tajam. Tania selalu bersikap demikian apabila anak semata wayangnya melakukan suatu hal tanpa sepengetahuannya.
"Iya, Ma. Habis Arsen kesal karena Tante Jahat itu telah menyakiti Nenek," jawab bocah kecil berusia enam tahun. "Lagi pula Mama pernah bilang kalau Arsen harus melindungi Mama, Nenek dan juga adik perempuan Arsen kalau lahir nanti. Nah jadi waktu Kakek Jo minta bantuan maka Arsen bantuin karena berpikir kalau Tante Lidya itu salah dan harus mendapat hukuman dari Om Polisi. Begitu, Mama."
Hati Miranda tersentuh akan jawaban yang diberikan Arsenio. Cucunya itu baru saja masuk sekolah dasar (SD), tapi jiwa tanggung jawabnya tinggi seperti orang dewasa, tak gentar membela yang lemah meski berhadapan dengan orang yang terkenal licik dan jahat. Miranda yakin jika Arsenio dewasa nanti akan menjadi pemimpin yang tegas dan nasib perusahaan V Pramono Group semakin berjaya di bawah kendalinya kelak.
Tania memijat pelipisnya dengan perlahan. Tingkah laku Arsenio memang terkadang sering membuatnya sakit kepala tiba-tiba.
Xander merengkuh pundak Tania hingga tubuh mantan istrinya mendekati dada. "Sudahlah, Nia, jangan terlalu dipikir. Sebagai orang tua, seharusnya kita bangga karena mempunyai anak genius seperti Arsenio. Dengan kemampuannya dia bisa membongkar kebusukan Lidya dan akhirnya polisi dapat meringkus wanita sialan itu lalu memasukannya ke penjara."
"Kalau tidak ada Arsen, mungkin saat ini Lidya masih hidup bebas, pergi ke mana pun dia suka tanpa merasa berdosa telah mencelakai Mamaku." Xander mencoba membela Arsenio agar jagoannya itu tidak mendapat omelan ketika mereka kembali ke rumah masing-masing. Akan merasa berdosa karena tidak dapat melindungi anak kesayangannya itu.
Tania memandangi wajah mantan suami dan mantan papa mama mertuanya secara bergantian. Sorot mata ketiga orang dewasa di depannya penuh pengharapan. Lalu mengalihkan perhatian pada sosok kecil yang wajahnya mirip dengan lelaki yang begitu dia cintai.
Bola mata jernih dan indah itu mengerjap beberapa kali membuat hati Tania luluh dengan wajah rupawan yang merupakan foto copy-an sang papa, sosok pria yang berhasil menguasai seluruh hatinya walau pernah disakiti, tetapi perasaannya tak pernah berubah sedikit pun.
Menghela napas kasar. Terpaksa tak memperpanjang masalah ini. Berpikir toh Arsenio melakukannya demi menegakkan keadilan bagi Miranda.
"Hmm, ya sudah tidak apa-apa. Kali ini mama tidak memarahimu. Namun, ingat selalu agar menggunakan keahlianmu untuk membantu sesama bukan untuk merugikan orang lain apa lagi memeras mereka. Mengerti?" Mencubit kedua pipi Arsenio dengan gemas.
__ADS_1
"Iih, Mama, sakit!" Arsenio tergelak tawa, mencoba protes pada sang mama yang terus mencubiti pipinya dengan gemas.
Xander, Jonathan dan Miranda ikut terkekeh mengiringi tawa Arsenio yang ceria. Merasa lega akhirnya semua masalah telah terselesaikan.
***
"Tania, tante berencana mengadakan konferensi pers, mengundang wartawan agar menjadi saksiku saat meminta maaf kepada Amanda beserta Abraham atas kesalahanku di masa lalu. Akibat kejadian itu hubunganku dengan Mamanya Abraham renggang bahkan selama ini kamu sudah tak lagi saling berkomunikasi."
"Banyak isu beredar di luaran sana hingga memperburuk hubungan kami. Oleh sebab itu, tante ingin meluruskan masalah yang ada dan memperbaiki semuanya. Walaupun nanti Abraham dan Amanda tak bisa memaafkanku, tapi setidaknya nama baik keponakanku dan kamu kembali bersih seperti sedia kala."
Tania mengusap punggung tangan Miranda. "Aku hargai usaha Tante untuk mengembalikan lagi nama baikku yang pernah dicoreng oleh Tante. Terima kasih, Tante."
Miranda mengulum senyum lebar di wajahnya yang cantik jelita. "Memang sudah menjadi kewajibanku untuk membersihkan nama baikmu, Tania. Semoga tak ada lagi ibu mertua jahat dan kejam sepertiku, melakukan segala macam cara untuk mendepak menantunya karena dianggap tak sepadan mendampingi anak lelakinya."
"Tante tidak mau ada mertua di luaran sana mengikuti jejakku. Cukup tante saja yang pernah melakukan kesalahan, orang lain jangan sampai mengalaminya."
Xander dan Jonathan yang sedang duduk di kursi depan hanya memperhatikan dua wanita itu dari kaca spion. Kemudian saling melirik dan tersenyum penuh arti.
...***...
__ADS_1