Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Aku ... Menyesal!


__ADS_3

Setelah meninggalkan restoran, Miranda memutuskan pulang ke rumah. Ia memesan ojek online sebagai satu-satu transportasi terpercaya untuk mengantarkannya pulang. Selain harganya jauh lebih murah dibanding memesan taxi online, menurut Miranda, kendaraan roda dua jauh lebih praktis digunakan sebab dapat diandalkan dalam kondisi jalanan ibukota yang terjebak macet di mana-mana.


“Menyebalkan! Bisa-bisanya aku ditipu oleh Atikah. Kupikir dia mengundangku karena merindukan kebersamaan kami, eh ... enggak tahunya malah menjadikanku bahan bully-an mereka semua. Benar-benar sial!” gerutu Miranda sambil berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Sepanjang jalan, Miranda terus menggerutu karena terlalu geram akan sikap Atikah dan teman yang lain. Miranda pikir, mereka tidak akan berani menghina dirinya karena selama ini ia selalu bersikap baik, mentraktir teman-temannya itu makan di restoran, memberi oleh-oleh setiap kali pulang dari luar negeri. Namun, ternyata itu semua tak bisa menutup mulut Tuti, Atikah dan Endang. Mereka justru memanfaatkan kesempatan untuk menghinanya di depan semua orang.


Miranda memutar handle pintu dan membukanya hingga terbuka lebar kemudian ia membantingnya dengan kencang hingga menimbulkan bunyi yang sangat kencang. Jonathan yang sedang menuang air dingin ke dalam gelas terlonjak kaget ketika mendengar bunyi pintu yang dibanting seseorang.


"Astaga!" pekik Jonathan, tanpa sadar air yang dituang ke gelas tumpah ke baju dan bercecer di lantai. Lalu tak lama kemudian ia mendengar suara teriakan seseorang dari ruang tamu rumah kontrakan miliknya.


Jonathan meletakkan gelas beserta botol air minum ke atas meja dan berjalan setengah berlari menuju ruangan di mana istrinya berada.


"Ada apa, Ma? Kenapa kamu marah-marah dan membanting pintu kontrakan? Bagaimana jika pintu itu rusak, memangnya mau ganti pakai apa?" ujar Jonathan dengan menekan setiap kalimat yang terucap di bibirnya.

__ADS_1


Miranda melirik sekilas ke arah sang suami, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar. "Aku benci mereka, Pa! Mentang-mentang aku jatuh miskin, mereka seenaknya saja menghina dan mengolok-olokku di depan semua orang. Mereka pikir aku akan diam saja, menerima ocehan tak bermanfaat yang keluar dari mulut busuk mereka? Cih, enggak mungkin! Aku bukan wanita lemah yang akan menundukan wajah saat dihina semua orang."


Meledak sudah amarah yang sempat padam beberapa saat lalu. Miranda tak bisa lagi mengendalikan diri untuk tidak meluapkan kekesalannya di hadap sang suami. Deru napas wanita itu memburu seolah dia baru saja selesai lari maraton, berkeliling lapangan bola di dekat rumah kontarakannya itu.


Jonathan segera duduk di dekat Miranda dan mengusap pundak istrinya dengan sangat lembut. "Emangnya apa yang mereka bicarakan? Coba pelan-pelan ceritakan padaku."


Miranda mendengkus kesal. "Ini semua karena Jeng Atikah, dia sengaja mengundangku makan siang di restoran tempat biasa kami kumpul. Tadinya aku pikir Jeng Atikah mengundangku juga teman yang lain karena merindukan kebersamaan kami, tapi ternyata itu semua hanya alasan dia saja untuk mengumpulkan semua orang. Dia ingin pamer ke semua orang bahwa sebentar lagi punya menantu juragan batu bara asal Kalimantan. Cuih, baru juragan batu bara aja sombong minta ampun apalagi kalau punya menantu crazy rich asal Surabaya, bisa kejang-kejang dia."


"Lalu Bu Tuti dan Bu Endang, mereka berdua kompak menyindirku seakan aku ini datang ke sana hanya ingin makan enak secara gratis. Emangnya salah kalau aku ikut kumpul bareng mereka? Toh Jeng Atikah sendiri mengundangku. Ya, walaupun tujuannya mengundangku karena ingin mempermalukanku di depan semua orang, tapi tetap aja kehadiranku di sana karena diundang sang pemangku hajat bukan atas keinginanku sendiri."


Bibirnya yang merah menyala cemberut. Kendati demikian, Miranda meresapi setiap kalimat yang diucapkan Jonathan. Ia sadar jika selama ini sudah membuang waktu secara percuma untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal hidup di dunia ini hanya sementara, tapi ia justru menyia-nyiakan waktu selama delapan tahun untuk hal tak berguna.


"Maka dari itu, aku memutuskan keluar dari geng itu, Pa. Aku udah enggak sreg berteman dengan mereka. Selain karena faktor itu, aku juga sadar diri bahwa saat ini hidupku tidak seperti dulu yang hidup dalam kemewahan. Sekarang aku hanya orang miskin, hidup serba pas-pasan. Jangankan bayar arisan, untuk makan sehari-hari saja sulit. Jika aku memaksa bertahan yang ada justru hidupku tersiksa karena dituntut untuk tampil sempurna padahal modal enggak ada."

__ADS_1


"Bisa aja sih aku pinjam uang ke rentenir untuk memenuhi gaya hidupku yang glamour, tapi aku pikir emangnya kita mampu membayar pinjaman pokok dan bunga yang setiap hari semakin membengkak? Daripada ngutang, mending aku keluar dari geng itu dan menyibukkan diri mengurusi rumah. Meskipun capek, tapi setidaknya hidupku jauh lebih tenang karena enggak memikirkan bagaimana caranya bayar hutang."


Sontak Jonathan menyemburkan tawanya detik itu juga. Tubuh pria itu bergerak turun dan naik. "Jadi sekarang kamu sudah sadar, Ma, bahwa teman gengmu itu bukanlah orang baik? Kamu sadar bahwa kekayaan bukan tolak ukur kebahagiaan bagi seseorang?"


Miranda berdecih dan memalingkan wajah ke arah lain. "Hanya orang bodoh aja yang enggak sadar, Pa."


"Lalu, apa kamu juga sadar akan perbuatanmu di masa lalu? Apa kamu juga sadar jika dulu kamu ... pernah menyinggung perasaan seseorang? Apa kamu menyesal telah menghancurkan rumah tangga puteramu sendiri karena wanita pilihannya terlahir bukan dari keluarga ningrat dan kaya raya?" cecar Jonathan, ingin sekali mengetahui apakah Miranda benar-benar menyadari semua kesalahannya.


Tampak Miranda terdiam mendengar pertanyaan Jonathan. Sejujurnya ia menyesal karena pernah menghina Tania dan memfitnah menantunya itu hingga rumah tangga Xander dan wanita itu berakhir di pengadilan. Namun, haruskah ia berkata jujur di depan Jonathan? Lalu, bagaimana jika Jonathan menertawakannya setelah mengetahui jika ia benar-benar menyesal?


Semakin lama memikirkan itu, kepala Miranda rasanya mau pecah. Banyak pertanyaan hinggap di benak wanita itu yang membuat pelipisnya berkedut kencang. Kemudian sekelebat kejadian di masa lalu saat Tania mengiba dan memohon kepadanya untuk menjelaskan pada Xander kembali berputar seperti rekaman film di bioskop. Tetesan air mata Tania saat kata talak jatuh masih teringat jelas di memori ingatan Miranda.


Aku ... menyesal!

__ADS_1


...***...



__ADS_2