Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Arsenio adalah Anakku?


__ADS_3

Xander membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Detik itu juga mata lelaki itu terbelalak. Napas berhenti sampai sekian detik lamanya. Bibir lelaki itu terbuka tanpa ia sadari.


"Pa ... ini?" gagap Xander saat membaca isi surat keterangan yang menyatakan bahwa Arsenio adalah anak kandung tuan muda Vincent Pramono. "B-bagaimana bisa terjadi? A-aku ...."


Pria bermata hazel dengan tinggi badan sekitar 180 cm tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Lidah lelaki itu tiba-tiba terasa kelu hingga membuatnya tak bisa berkata-kata. Sungguh, ia tak menduga jika bocah kecil berusia enam tahun yang pernah ditemuinya di toilet beberapa waktu lalu adalah darah dagingnya sendiri, buah cintanya bersama Tania Maharani.


Jonathan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. Kedua tangan terlipat di depan dada, memandang sinis kepada sang anak. "Dasar bodoh! Tentu saja bisa terjadi memangnya selama menikah dengan Tania, kamu enggak pernah sekalipun menjamah istrimu itu, hem?" katanya sinis. "Kehadiran seorang anak di dunia ini tentu aja ada peran dari kedua orang tuanya. Kalau enggak, mana mungkin tiba-tiba aja mereka hadir dan terlahir ke bumi ini."


Masih dengan pandangan kosong, Xander menatap Jonathan. "Papa mendapatkan informasi ini dari mana? Apa Papa secara diam-diam memerintahkan seseorang untuk menyelidiki bocah kecil itu?" tanyanya penasaran. Sampai detik ini ia belum mengetahui bagaimana cara Jonathan bisa mendapat sampel Arsenio, kemudian mencocokan dengannya. Semua itu masih menjadi misteri bagi Alexander Vincent Pramono.


Jonathan menyeringai. Sudut bibir bagian kanan terangkat ke atas. "Memang benar, Papa secara diam-diam mengambil helaian rambut Arsenio tanpa diketahui oleh siapa pun termasuk bocah genius itu. Papa menggunakan moment di saat dia datang ke perusahaan. Ketika ada kesempatan, barulah Papa melancarkan aksi dan memberikan sample itu kepada asisten pribadimu untuk mengirimkannya ke laboratorium rumah sakit. Kedua sample dicocokan dan hasilnya, kamu bisa baca sendiri. 99% menyatakan bahwa kalian berdua mempunyai kecocokan."


Xander menatap nanar pada secarik kertas berwarna putih dalam genggaman tangannya. Ia kembali membaca hasil laporan tersebut. Tulisan di bagian bawah itu cukup mencolok mata.


Menahan deburan haru serta sebuah rasa penyesalan kembali menelusup ke relung hatinya yang terdalam. "Jadi, di saat aku menjatuhkan talak padanya, di saat itu pulalah Tania sedang mengandung buah cinta kami?"


Jonathan mengangguk mantap. "Benar!"


"Lantas kenapa Tania enggak pernah memberitahuku soal kehamilannya? Kenapa dia seakan ingin menyembunyikan kebenaran bahwa ada Arsenio di antara kami, Pa?" Xander menatap nanar ke arah Jonathan. Terdapat buliran kristal menggenang di sudut mata pria itu. Hati seakan diremat tangan tak kasat mata saat membayangkan bagaimana sulitnya Tania membesarkan Arsenio seorang diri dalam keadaan lemah tak berdaya.


Terdengar helaan napas kasar berasal dari Jonathan. Lelaki paruh baya itu membenarkan posisi duduknya menjadi tegak. "Kalau alasan itu, Papa enggak bisa jawab. Itu semua bukan ranah Papa, Nak."


Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada satu pun dari mereka membuka suara. Tampak Xander tengah mencoba mencerna semua kejadian yang baru saja ia alami, sedangkan Jonathan hanya memperhatikan gerak gerik anak semata wayangnya.


Sebagai seorang ayah, tentu saja Jonathan merasa prihatin akan pernikahan Xander yang hancur karena campur tangan Miranda. Namun, ia juga cukup kecewa atas sikap Xander yang terlalu gegabah mengambil keputusan secara sepihak di saat tengah emosi.


Xander mendongakan kepala dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit wajah tampannya menghadap ke seberang.

__ADS_1


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, Pa? Aku merasa seperti lelaki berengsek yang tak bisa bertanggung jawab terhadap bayi dalam kandungan Tania. Aku ... menyesal telah memperlakukan Tania dengan tidak adil." Suara Xander tercekat seakan ada sebuah kaktus menyangkut di tenggorokan. Dada terasa sesak seolah udara di sekitar tak mampu memberikan pasokan oksigen ke dalam paru-paru.


Menarik napas panjang. Jonathan mengalihkan perhatian ke sembarang tempat. Lelaki itu tidak sanggup menatap sorot mata Xander yang memancarkan sebuah penyesalan besar karena menyia-nyiakan wanita baik, setia dan penuh kasih sayang seperti Tania.


"Saran Papa, sebaiknya kamu temui Tania dan berbicaralah secara empat mata. Selesaikan masalah kalian berdua sampai tuntas. Papa enggak mau masalah kalian semakin berlarut-larut hingga membuat kesalahpahaman antara kalian bertiga semakin rumit."


Mengernyitkan kedua alis, menatap tanda tanya ke seberang sana. "Bertiga? Yang Papa maksud, siapa? Bukannya hanya melibatkan aku dan Tania, saja, Pa?"


Menggelengkan kepala sembari menjawab, "Kamu salah, Nak. Selain kalian ada satu orang lagi yang salah paham akan kejadian enam tahun lalu." Jonathan menjeda sejenak kalimatnya. Rasanya berat sekali untuk mengatakan kepada Xander, siapakah seseorang itu. "Orang itu adalah ... Arsenio, anak kandungmu sendiri."


Sontak, kedua mata Xander terbelalak sempurna saat mendengar jawaban sang papa. "Kenapa Arsenio bisa ikut terlibat dalam permasalahan kami? Bukankah dia masih kecil, belum bisa nalar akan masalah apa yang menimpa orang dewasa?"


Jonathan terkekeh pelan. Ia kembali memandangi wajah tampan nan rupawan Xander dengan tatapan mengejek. "Xander ... Xander ... rupanya kamu belum tahu jika Arsenio itu adalah bocah genius. Anakmu itu terlahir dengan kepintaran di atas rata-rata anak seusianya. Dia bisa mengetahui apa yang sedang terjadi antara kamu dan Tania."


"Apa kamu tahu kalau anakmu itu adalah seorang hacker? Seseorang yang telah memporakporandakan data perusahaan beberapa waktu lalu. Dia jugalah yang mengirimkan sebuah virus hingga membuatku menarik kembali tongkat kepemimpinan yang pernah kuberikan padamu," sambung Jonathan.


Makin tercenganglah Xander mendengar bahwa Arsenio adalah seorang hacker yang pernah memberikan sebuah pertunjukan seru di saat dirinya masih menjabat sebagai CEO perusahaan.


"Cucuku itu ingin memberikan pelajaran karena kamu telah membuat hidup Tania menderita. Banyak kejadian buruk menimpa mantan menantu kesayanganku pasca perceraian kalian. Oleh karena itu, Arsenio memutuskan menggunakan kecerdasan dan kesempatan untuk membuatmu ikut merasakan bagaimana rasanya mengalami kesulitan. Walaupun tidak sebanding, tapi setidaknya cukup membuatmu frustasi."


Kedua sudut Jonathan tertarik ke atas saat mengingat kembali percakapannya dengan Tania. Mantan menantunya itu menceritakan alasan kenapa Arsenio sampai membuat perusahaan V Pramono Group sempat mengalami kerugian akibat amukan virus ciptaan bocah tampan bermata hazel. Semua itu dilakukan semata-mata karena Arsenio geram akan sikap Xander yang seakan bahagia di atas penderitaan orang lain.


Padahal kenyataannya, Xander sama sekali tidak pernah merasa bahagia semenjak perceraiannya dengan Tania. Bagi lelaki berusia tiga puluh tahun, satu-satunya sumber kebahagiaan Xander hanyalah Tania seorang.


***


Arsenio baru saja keluar dari kamar diikuti Surti yang mengekori di belakang tubuh anak itu. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan seakan tengah mencari sesuatu.

__ADS_1


"Di mana Kakek Jo? Kenapa hanya ada Mama duduk sendirian?" Anak tampan berusia enam tahun berjalan menghampiri Tania.


Tania merentangkan kedua tangan, menyambut kedatangan anak tercinta. Ia belai puncak kepala Arsenio sembari menciuminya dengan penuh cinta. "Kakek Jo harus pulang, Sayang. Masih ada urusan yang harus dikerjakan. Namun, tadi Kakek Jo menitipkan salam untumu dan meminta maaf karena pulang enggak sempat pamitan dulu sama kamu."


Tampak raut kesedihan terpancar di sorot mata Arsenio. Sedikit kecewa karena harapannya untuk bermain dengan sang kakek sirna. Ia pikir bisa mengajak Jonathan bermain robot-robotan bersama di kamar, tapi rupanya Jonathan telah pergi meninggalkan unit apartemen yang disewa sang mama.


Ekor mata Tania menangkap betapa sedihnya Arsenio. Lantas, ia menangkup wajah anaknya dengan kedua tangan. "Lain kali kamu bisa temuin Kakek Jo di perusahaan. Tapi ingat, harus minta izin dulu pada Mama sebelum pergi ke sana. Walaupun kamu mempunyaik kartu akses yang bisa digunakan setiap saat, tapi Mama enggak mau kehadiranmu mengganggu pekerjaan Kakek Jo. Mengerti?"


Awan kelabu yang sempat hinggap di wajah Arsenio telah menghilang secara perlahan, tergantikan oleh secercah sinar yang terpancar di wajahnya yang rupawan.


"Mengerti, Ma! Aku janji enggak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Arsenio yakin, tanpa ada kebohongan sedikit pun. "I swear!" Ibu jari dan jari tengah Arsenio terangkat ke udara, membentuk huruf V.


Tania membawa tubuh Arsenio dalam pelukan. Mendekapnya dengan erat seakan takut kehilangan permata hatinya.


Sempat berpikir akan kehilangan Arsenio setelah jati diri bocah kecil itu diketahui Jonathan. Namun, rupanya mantan mertuanya itu sama sekali tidak berniat sedikit pun merebut hak asuh Arsenio dan membawa pergi anak tercinta walau keluarga Vincent Pramono berhak atas anak itu, tapi Jonathan tidak melakukan itu semua. Pria berdarah Amerika sadar bahwa Arsenio masih sangat membutuhkan kehadiran Tania selaku ibu kandungnya.


Pemilik mata sipit dan berkulit indah bagai pualam menatap sinis pada Surti. "Dan kamu, Mbak Surti. Jangan pernah menuruti permintaan Arsen lagi! Kali ini saya memaafkanmu, tapi di kemudian hari saya harap kejadian ini jangan terulang lagi."


Surti menyeringai sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Iya, Bu Tania. Saya janji enggak akan mengulanginya lagi."


***


Setelah puas berbincang dengan Xander, Jonathan memutuskan pulang ke rumah. Kini saatnya ia memberikan pelajaran pada Miranda agar wanita itu menghentikan sifatnya yang terkadang sering membanding-bandingkan orang lain.


"Semoga dengan ini kamu sadar bahwa tidak selamanya kekayaan itu akan memberikan kebahagiaan pada kita, Ma."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2