
Melihat sorot mata penuh pengharapan terpancar dari sepasang mata indah nan jernih milik Arsenio, hati Tania tentu tidak tega menolak lamaran sang mantan suami. Bukankah selama ini puteranya itu sangat mengharapkan dirinya dapat bersanding kembali dengan Xander? Lalu sekarang setelah Xander melamarnya haruskah ia mengecewakan putera semata wayangnya itu?
Tidak. Tentu saja Tania tidak tega mengecewakan Arsenio. Bagi Tania kebahagiaan Arsenio di atas segalanya. Terlebih ia pun masih sangat mencintai Xander, jadi tidak ada alasan baginya untuk menolak lamaran tersebut.
Menarik napas panjang mengumpulkan keberanian di dalam dada. Setelah keberanian tersebut hadir dalam dirinya, Tania segera membuka suara. "Jujur, aku memang pernah kecewa akan sikapmu yang tak mau mempercayaiku, padahal aku sudah mencoba menjelaskan semuanya, tapi ternyata kamu tak mau percaya kepadaku. Kamu justru lebih percaya dengan apa yang kamu lihat saat itu.
"Sedih, sakit hati dan kecewa, itulah yang kurasakan saat kamu memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kita yang baru seumur jagung. Ingin bersujud dan memohon padamu agar menarik kembali kata-kata itu, tapi aku sadar jika kamu tidak mungkin melakukannya sebab Xander yang kukenal tidak akan berani menjilat kembali ludahnya."
"Oleh karena itu, setelah hakim mengetuk palu dan memutuskan kita sudah bukan lagi pasangan suami istri, aku lebih memilih menyembunyikan berita kehamilanku dari semua orang termasuk kamu. Aku memutuskan untuk membesarkan Arsenio dengan jerih payahku sendiri."
Tania menjeda sejenak ucapannya dan kembali berkata, "Bertahun-tahun aku mencoba melupakanmu, menghapus kebersamaan yang pernah kita lalui bersama dengan harapan dapat memulai lembaran hidupku yang baru tanpa ada bayanganmu di dalamnya. Namun, semakin lama aku berusaha, bayangmu semakin sulit untuk menghilang dari hati dan pikiranku. Namamu selalu terpatri indah di sanubariku yang terdalam."
"Jadi kesimpulannya, apakah kamu bersedia menerima lamaranku? Kamu bersedia membuka lembaran baru bersamaku dan putera kita, Arsenio?" tandas Xander, masih belum dapat menebak apakah Tania setuju membina biduk rumah tangga bersamanya.
Tania tersenyum lalu disusul anggukan kepala yang menandakan bahwa ia menerima lamaran sang mantan suami. "Tentu saja, aku bersedia menerimamu menjadi suamiku lagi, Xander. Aku mau merajut kembali kisah kita yang pernah kandas di tengah jalan." Wanita itu menyodorkan tangan kirinya ke hadapan Xander. "Pasangkan cincin itu di jari manisku, Sayang."
Tania menggigit bibir bagian bawahnya yang ranum, menahan ledakan gejolak. Wajahnya merah merona karena ini pertama kalinya ia memanggil Xander dengan sebutan 'sayang' disaksikan banyaknya orang yang hadir dalam acara pagi hari ini.
__ADS_1
Mengangguk, Xander segera mengeluarkan pink star diamond ring yang ditaksir berharga $83 juta dari dalam kotak perhiasan lalu menyematkannya ke jemari manis Tania. Detik itu juga suara gemuruh tepuk tangan menggema di segala penjuru ruang ballroom hotel. Acara lamaran ini tidak hanya disaksikan kedua orang tua Xander dan Arsenio, tetapi juga disaksikan seluruh masyarakat Indonesia.
Xander berdiri dan memeluk tubuh Tania. Di saat yang sama terdengar alunan instrumental lagu A Thousand Years milik Christina Perri membuat suasana menjadi syahdu.
Arsenio yang duduk di kursi tamu meloncat kegirangan saat melihat kedua orang tuanya berpelukan. Angan untuk memiliki keluarga yang utuh akhirnya terkabul.
"Hore! Asyik, sebentar lagi Arsen tinggal sama Papa!" berseru dengan nada suara tinggi. Arsenio bahagia sekali karena keinginannya untuk dapat tinggal bersama sang papa segera terwujud.
***
Sekian waktu berlalu sehingga acara pers conference akhirnya selesai. Semua kesalahpahaman yang terjadi tujuh tahun lalu akhirnya dapat diselesaikan dan Miranda kini dapat hidup dengan tenang tanpa dihantui rasa bersalah karena dulu pernah melibatkan dua orang tak berdosa dalam rencana liciknya. Beban berat di pundak yang dipikul selama ini dapat terangkat sedikit demi sedikit.
"Menyiapkan candle light dinner romantis di bawah sinar rembulan malam. Dengan disaksikan jutaan bintang di atas langit, kamu berlutut seraya menyodorkan cincin ke hadapan Tania dan meminta calon menantuku menjadi istrimu lagi. Eh, tak tahunya kamu justru melamar dia saat acara pers conference berlangsung. Itu sungguh di luar nalar, Nak."
"Papa tidak tahu harus berkomentar apa, tapi yang pasti papa turut bahagia karena kamu dapat menemukan kembali kebahagiaanmu." Jonathan membalikkan tubuh sang putera hingga posisi mereka berhadapan. "Tuhan memberimu kesempatan kedua dan papa harap kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang kepadamu. Cintai, sayangi dan lindungi Tania serta cucuku tersayang Arsenio. Jangan pernah kamu sakiti mereka karena kalau sampai terjadi, kamu berurusan dengan papa dan Mama."
"Susah payah aku meluluhkan hati Arsenio dan Tania, jadi mana mungkin melakukan kesalahan seperti di masa lalu. Bodoh namanya jika seandainya aku terjatuh di lubang yang sama."
__ADS_1
Xander mendongakan kepala, menatap lekat iris biru milik sang papa. Wajah yang mulai terdapat kerutan di mana-mana, tetapi tetap terlihat rupawan di matanya.
"Terima kasih, Pa, karena selalu mendukungku. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu untuk kedua kali."
Sementara itu, dua wanita beda generasi sedang duduk bersebelahan sambil menemani Arsenio bermain gadget. Entah apa yang dikerjakan anak laki-laki itu, tapi tampaknya dia begitu fokus dengan gawai yang ada dalam genggaman tangannya.
"Tania, tante ucapkan terima kasih karena kamu bersedia menerima lamaran Xander. Tante tidak tahu apa yang akan terjadi jika seandainya tadi kamu menolak putera tante, mungkin Xander bisa gila karena tidak dapat berkumpul lagi dengan satu-satunya wanita yang dia cintai."
Tania terkekeh geli mendengarnya. "Mana mungkin aku menolak lamaran Xander, Tante, sementara hanya Xander-lah satu-satunya lelaki yang kucintai di dunia ini. Banyak pria yang datang dan pergi dari hidupku, tapi rupanya tak mampu menghilangkan bayangan Xander dalam hidupku."
"Wah, berarti pesona Xander begitu kuat sehingga membuatmu galon alias gagal move on," gurau Miranda.
"Ehm, sepertinya pesonaku juga begitu besar. Terbukti sampai sekarang Xander tak mau menikah dengan siapa pun walau Tante sudah mengenalkan wanita cantik ke hadapannya, dia lebih memilih menduda daripada menikah dengan wanita lain," sahut Tania disertai kekehan pelan. Miranda yang mendengarnya pun ikut menyemburkan tawa.
"Ya, kamu benar. Ada saja alasannya setiap kali tante minta dia menemui Lidya. Sibuk bekerjalah, hendak pergi keluar kota dalam rangka perjalanan dinas sampai alasan tak masuk akal pernah dia sampaikan kepada tante. Ah, kalau ingat itu tante ingin tertawa sendiri. Xander benar-benar konyol pada saat itu." Sontak kedua wanita itu kembali tertawa.
Miranda merangkum jemari tangan Tania, mengusapnya lembut dan berucap dengan nada serius. "Tania, sekali lagi tante ucapakan terima kasih karena kamu telah mengembalikan senyuman yang pernah hilang dalam diri Xander. Tante berdoa untuk kalian berdua semoga kelak rumah tanggamu dan Xander langgeng hingga akhir hayat." Wanita itu memeluk Tania dengan erat lalu berkata, "Selamat datang di keluarga Vincent Pramono, menantuku tersayang."
__ADS_1
...***...