Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Berdamai dengan Masa Lalu


__ADS_3

"Kalau memang Mama merasa bersalah, kenapa tidak meminta maaf pada Tania? Bukankah di sini dialah yang jadi korban karena sudah Mama fitnah? Kalau aku sih tidak terlalu banyak menanggung kerugian besar akibat kejadian di masa lalu, sedangkan Tania? Nama baiknya tercemar, dia dianggap wanita murahan karena tega selingkuh di belakangku. Jadi, kalau mau minta maaf, minta maaflah pada Tania, bukan kepadaku."


Detik itu juga bumi tempat Miranda berpijak rasanya tak lagi berputar. Ia seakan tengah tertimbun reruntuhan bangunan hingga dirinya tak mampu bangkit dari reruntuhan tersebut. Perkataan Xander bagaikan sebuah tamparan keras, menyarakan Miranda betapa kejamnya dia di masa lalu.


Xander mendes@h kasar. "Aku yakin, Mama pasti segan meminta maaf pada mantan istriku, 'kan? Kalau begitu, jangan harap aku akan memaafkan semua kesalahan Mama karena memisahkanku dengan satu-satunya wanita yang sangat kucintai." Pria itu bangkit, kemudian menatap sinis kepada Miranda. "Selama Mama tidak meminta maaf pada Tania, selama itu pula aku tidak akan memaafkan Mama. Selamat malam."


Tanpa memberi kesempatan pada Miranda untuk bersuara, Xander lebih dulu meninggalkan rumah kontrakan Jonathan. Udara sekitar tak mampu memberi pasokan oksigen untuknya hingga membuat dada pria itu terasa sesak. Bagaimana tidak, perjuangan Xander untuk menikahi Tania tidaklah mudah, banka kerikil kecil menghadang. Di saat mereka berada dalam sebuah payung yang sama bernama pernikahan, badai besar datang menghadang hingga menombang ambing kapal yang dinahkodai Xander hingga kapal itu karam di tengah lautan.

__ADS_1


Miris. Itulah kisah cinta Xander dan Tania. Berharap akhir kisah mereka berakhir bahagia, tapi justru berakhir dengan kata perpisahan.


Miranda menggigit bibir bawahnya. Telapak tangan saling mencengkeram erat satu sama lain. Ia pikir dengan meminta maaf pada Xander, semua masalah selesai. Tapi sepertinya dia lupa jika Tania adalah orang pertama yang seharusnya Miranda temui, bukan Xander.


Tuhan, kenapa lidahku terasa kelu saat berhadapan dengan Xander? Kenapa aku tak sanggup berkata meski sebetulnya banyak kata yang ingin kuucapkan pada puteraku tersayang. Miranda sangat menyayangkan kebodohannya karena tak bisa berkutik di dekat Xander.


Jonathan yang mengetahui bagaimana perasaan Miranda saat ini, mendudukan bokongnya di sebelah sang istri. Ia mengusap punggung wanita itu dengan penuh perasaan.

__ADS_1


Keduanya bertatapan. Jonathan mengulum senyum manis di wajah. Senyuman yang sama saat pertama kali bertemu Miranda di Pantai Kuta, Bali.


"Jangan sia-siakan kesempatan yang ada, Ma. Selagi kamu diberi kesempatan untuk meminta maaf, gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hati," tutur Jonathan mencoba menasihati Miranda.


Wanita paruh baya menarik napas dalam-dalam. Menyingkirkan beban berat di dada. "Baiklah, aku akan menemui Tania dan menyampaikan permintaan maafku kepada wanita itu." Ia menangkup sebelah tangan Jonathan yang ada di atas pangkuan. "Mas, apa kamu mau menemaniku bertemu dengan Tania? Ehm ... aku ... kurang percaya diri bertemu Tania seorang diri. Aku takut dia justru membalas kejahatanku dengan cara menyiram air ke wajahku seperti di sinetron-sinetron itu loh, Pa. Bisa malu aku kalau sampai Tania melakukan itu."


Jonathan terkekeh pelan. "Miranda ... Miranda. Kamu kebanyakan nonton sinetron sih, jadi pikiranmu ngaco." Ia merangkul pundak Miranda dan membawa tubuh wanita yang teramat dicintai dalam dekapan. "Tania itu wanita lembut dan baik hati. Kalau emang kamu tulus meminta maaf dan mengakui kesalahan, aku yakin, dia tak mungkin melakukan apa yang ada dalam benakmu saat ini. Tania, mantan menantu kita tidak mungkin menyiram air ke wajahmu."

__ADS_1


"Jangankan menyiram air ke wajahmu, membunuh semut saja dia tak berani. Hatinya terlalu lembut selembut sutera. Jadi tidak ada alasan lagi bagimu untuk meminta maaf kepada Tania. Temui dia dan akhiri permasalahan di antara kalian berdua. Kini saatnya kamu berdamai dengan keadaan, Ma."


...***...


__ADS_2