Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Di saat Tania Mengadu


__ADS_3

"Tania, Papa mohon bicaralah. Papa butuh jawabanmu, Nak." Jonathan berkata dengan wajah memelas. Sorot matanya penuh pengharapan. Bahkan, ia memanggil dirinya sendiri dengan panggilan 'papa' seakan statusnya saat ini masih papa mertua Tania.


Bibir Tania, kemudian mengatup kembali. Lalu terbuka dan mengatup lagi. Kejadian itu berulang terjadi hingga membuat Jonathan mendesaah pelan.


"Papa hanya membutuhkan jawabanmu saja, Tania, enggak ada niatan sama sekali untuk merebut Arsenio dari sisimu. Sebagai seorang kakek, Papa tentu saja ingin terus berada di sisi cucunya karena bagaimanapun dalam tubuh Arsenio mengalir darahku. Namun, hati nurani Papa masih berfungsi untuk tidak memisahkan anak dari ibu kandungnya. Terlebih usia Arsenio masih anak-anak, tentu dia membutuhkan perhatian, cinta dan kasih sayang darimu sebagai ibunya," ucap Jonathan seakan mengerti apa yang ada di benak mantan menantunya itu.


Tania mengigit bibir bawahnya, menahan isak tangisnya agar tak didengar oleh Jonathan. Tidak menduga jika sikap Jonathan selalu baik mesti statusnya hanya mantan istri yang tak pernah dianggap keberadaannya oleh Miranda.


"Papa mengerti kenapa kamu sulit mengatakan yang sebenarnya. Namun, demi Tuhan, Papa enggak berniat sama sekali memisahkanmu dengan Arsenio. Papa hanya butuh penjelasanmu saja, kenapa kamu pergi dari sisi Xander tanpa memberitahu kami jika saat itu kamu tengah hamil."

__ADS_1


Tania meremas telapak tangan yang saling tertaut satu sama lain dengan keras hingga menyisakan kemerahan di sana. Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan perlahan guna mengumpulkan keberanian di dalam dada.


"Apa yang Tuan ketahui tentang Arsenio benar adanya. Dia ... adalah anak kandungku dengan Xander." Kepala Tania tertunduk, menyembunyikan air mata yang meluncur di sudut matanya. Dada wanita itu terasa sesak seakan ada bongkahan batu besar menimpanya.


"Lalu, kenapa kamu enggak pernah memberitahui kami, Tania? Kamu seakan menghilang ditelan bumi usai perceraian itu. Jangankan datang berkunjung, memberikan kabar aja enggak pernah. Apa Papa memang enggak punya arti sama sekali dalam hidupmu?" tanya Jonathan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Mantan istri Xander kembali menahan isak ketika sekelebat bayangan di masa lalu kembali hadir menyapa. Beberapa kali wanita itu mengerjapkan mata menghalau bulir air mata agar tak semakin banyak membasahi pipi.


"Nama baik saya yang dijaga selama ini hancur begitu saja tatkala kalian semua memergokial saya tengah berduaa dengan Abraham. Bahkan, istri Anda selalu menghina dan mencaci maki saya tanpa tahu penyebabnya apa. Nyonya Miranda tak pernah bosan melontarkan kata-kata pedas bernada sindiran pada perempuan yang tidak lain adalah menantunya sendiri."

__ADS_1


Tania tertawa getir saat mengingat kembali bagaimana dulu sikap Miranda kepadanya. Wanita yang telah melahirkan Xander, secara terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya padanya bahkan saat mereka pertama kali bertemu. Kendati begitu, Tania tetap mencoba bersikap ramah walau tahu dirinya tidak akan pernah dianggap sebagai menantu di keluarga Vincent dan Pramono.


Jonathan terpaku dan membisu tatkala mendengar perkataan Tania. Semua yang dikatakan mantan menantunya itu adalah benar. Miranda Pramono, sejak dulu tidak pernah bersikap baik pada seseorang yang dianggapnya berasal dari kalangan menengah ke bawah sekalipun adalah menantunya sendiri. Ibu kandung Xander memandang mereka dengan sebelah mata.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2