Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Pertempuran Dua Hacker


__ADS_3

"Serangan DDoS semakin melemah!" seru Farhan kepada Arsenio.


Arsenio menghentikan sejenak kegiatannya. Bocah lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel miliknya. Sebuah flash disk kecil warna biru langit ia tancapkan ke bagian pinggiran laptop. "Paman, aku baru saja meng-install aplikasi di server perusahaan. Paman semua segera install aplikasi itu dan kita serang Dark Devil secara bersamaan. Aku yakin dengan begitu dia akan kalah."


Farhan beserta tim IT V Pramono yang sedari tadi bengong, menyaksikan kehebatan Arsenio saat melawan musuh bergegas menuruti perintah bocah kecil itu. Jemari tangan mereka sibuk mengotak atik keyboard di atas meja.


"Setelah selesai di-install, kita tinggal memasukan alamat IP yang akan kuberikan. Saat semuanya telah siap, aku akan memberi komandu. Kita serang Dark Devil secara bersamaan," ucap Arsenio.


"Siap, Bos!" sahut seluruh tim IT V Pramono hampir bersamaan. Bagi mereka Arsenio bukanlah seorang anak kecil berusia enam tahun melainkan seorang pemimpin yang memimpin mereka semua bertempur melawan hacker terkenal di dunia IT.


Jonathan menatap nanar pada sosok bocah kecil di depan sana. Ia semakin penasaran, siapakah gerangan Arsenio sebenarnya. Kemunculan anak laki-laki itu di depan Jonathan bagaikan sebuah misteri yang belum terpecahkan.


Pandangan mata Jonathan kembali menatap layar di hadapannya. Simbol-simbol aneh dikombinasikan dengan tulisan yang sama sekali ia tidak pahami terpampang jelas di depan mata.


"Paman, aku hitung mundur. Dalam hitungan ke satu, kita serang secara bersamaan," teriak Arsenio setelah ia yakin bahwa semua tim telah meng-install aplikasi yang telah dibuat olehnya. "Tiga ... dua ... satu. Serang!"


Tanpa membuang waktu, Farhan beserta yang lain menuruti perintah Arsenio. Mereka sibuk mengotak-atik keyboard masing-masing. Terdengar suara teriakan saling bersahutan, memberi semangat satu sama lain.


Hampir memakan waktu sekitar lima belas menit lamanya, semua orang fokus pada layar monitor masing-masing. Pun begitu dengan Arsenio, bocah kecil pecinta warna biru langit dan tokoh kartun Thomas menikmati permainan yang diciptakan olehnya sendiri. Ia merasa tertantang karena selama ini belum ada seseorang yang berhasil menandinginya.


"Bos kecil, serangan Dark Devil sudah berhenti!" seru salah satu anak buah Fadil.


Terdengar suara sorak sorai gembira bersumber dari semua orang yang ada di ruangan tersebut tanpa terkecuali. Wajah pucat mereka berubah sumringah saat mendengar bahwa serangan dark devil telah berhenti. Akan tetapi, Arsenio masih saja duduk manis di kursi semula.


"Berani-beraninya kamu berniat jahat kepada Kakek Jonathan. Kamu harus menerima balasan karena jadi orang jahat," gumam Arsenio.

__ADS_1


Pemilik mata hazel tersenyum sinis menghadap layar. Ia sedang membayangkan musuh yang sedang berada di seberang sana. "Rasakan ini!" Lantas, ia kembali mengetik sesuatu hingga kemudian muncul tulisan merah.


...Launch cyber nuclear? Yes/No...


"Kakek Joe, apa Kakek mau membalas perbuatan mereka karena sudah berani meminta uang dalam jumlah yang sangat besar?" tawar Arsenio tersenyum manis kepada kakek kandungnya.


Merasa namanya disebut membuat Jonathan terlonjak kaget dari kursi kebanggannya. "Ehm ... tentu saja. Mereka harus menerima balasan karena berani bermain-main dengan perusahaan yang kubangun selama hampir tiga puluh tahun," angguk pria berambut keperakan.


Perusahaan V Pramono dibangun atas kerjakeras, usaha dan keringat dari Jonathan Vincent, seorang lelaki berdarah Amerika yang memutuskan menetap di Indonesia setelah menikahi seorang dara cantik keturunan ningrat. Ia rawat perusahaan itu layaknya anak sendiri jadi jangan heran jika seandainya pria berusia setengah abad begitu menyayangi perusahaan miliknya.


"Jangan sampai keliru, Tuan!" Asisten pribadi Xander mengingatkan. Terdengar seperti lelucon, tapi sang asisten bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Jonathan tak mengucap sepatah kata. Lelaki itu hanya menghunuskan tatapan tajam seakan ingin menerkam asistennya itu hidup-hidup.


Jari telunjuk Jonathan dengan sigap menekan ikon YES.


Tak lama kemudian, muncullah ikon kembang api seperti yang dikatakan Arsenio. Petandan bahwa bom yang ia luncurkan berhasil memporakporandakan program lawan.


"System rebooting. All firewall is now active again!" Suara seseorang bersumber dari komputer memberikan kabar baik bahwa sistem server mereka sedang melakukan pengulangan dan juga bahwa seluruh pagar pengaman kembali aktif.


Gambar rubik di layar kedua perlahan menghilang. Terpotong menjadi sekian ribu partikel kecil dan tersapu di layar.


"Yes! Berhasil! Kita menang! Hore!" Seluruh tim IT yang terlibat dalam pertempuran berteriak dan melompat kegirangan. Mereka saling memeluk sebagai ungkapan kebahagiaan.


Terdengar helaan napas lega bersumber dari Jonathan, Laura, asisten Xander dan juga Fadil. Wajah mereka kembali berwarna setelah sebelumnya menjadi pucat pasi bagaikan mayat.

__ADS_1


Farhan bangkit, kemudian mendekati Arsenio. "Hi five, Bos kecil!" ujar pria itu sembari mengarahkan telapak tangan ke depan Arsenio.


Arsenio menerima ajakan itu. "Yeah, Paman. Akhirnya kita menang!" Ia menyatukan telapak tangannya ke telapak tangan Farhan hingga terdengar suara pertemuan telapak tangan.


Jonathan berjalan perlahan mendekati kursi Arsenio. Lelaki tua itu membungkukan sedikit badan, kemudian membawah tubuh kecil itu dalam pelukan. "Terima kasih, Nak, kamu telah membantu Kakek melawan hacker itu."


Hati Arsenio menghangat, dipeluk sedemikian erat oleh seseorang yang darahnya mengalir dalam tubuhnya. Hati terasa aman, jiwa pun terasa damai. Untuk pertama kalinya dia bisa merasakan bagaimana rasanya dipeluk oleh kakeknya sendiri.


Masih dalam posisi berpelukan, Arsenio mendongakan kepala. Ia menatap lekat wajah rupawan Jonathan. Walaupun sudah memasuki usia lima puluh tahun lebih, aura ketampanannya masih terpancar hingga sekarang.


"Udah jadi kewajiban aku menolong orang yang membutuhkan, Kakek."


Entah mendapat dorongan dari mana, Joanthan dengan sangat berani mengecup puncak kepala Arsenio dengan penuh cinta, seakan ia melihat sosok Xander ada di dalam diri bocah kecil itu. "I'm pround of you, Nak!"


Semua orang menyaksikan pemandangan di depan sana dengan perasaan mengharu biru. Kelopak mata mulai berkaca-kaca dan ada pula yang meneteskan air mata karena merasa terharu karena untuk pertama kalinya mereka melihat sendiri sisi lemah lembut dari seorang pemilik perusahaan.


Setelah merasa puas berpelukan, Arsenio mengurai pelukan. "Kakek, aku akan meng-install antivirus buatanku di server induk perusahaan. Dengan begitu, aku harap enggak akan ada lagi orang jahat yang coba membobol perusahaan Kakek. Secara berkala aku akan update antivirus itu agar semakin canggih," tuturnya bersungguh-sungguh.


Semua orang telah kembali ke ruangan masing-masing. Namun, Jonathan dan Arsenio baru saja hendak pergi ke ruangan CEO. Akan tetapi, saat mereka baru saja keluar ruangan tanpa sengaja netra Jonathan melihat seseorang berdiri di depan sana dengan sorot mata yang sulit artikan.


.


.


.

__ADS_1


Halo semua, sambil nunggu karya ini update, yuk mampir dulu ke karya teman author. Untuk judul dan nama pena ada di bawah sini. 👇



__ADS_2