Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Apa yang Terlihat Mata, Belum Tentu Sesuai dengan Kenyataan yang Sebenarnya


__ADS_3

"Tidak mungkin! Puteraku tidak mungkin rujuk lagi dengan Wanita Miskin itu. Dia-"


Belum selesai Miranda berbicara, bu Tuti sudah lebih dulu menyela ucapan mantan mertua Tania.


"Miskin kok teriak miskin. Enggak sadar diri banget sih jadi orang! Emang di situ masih kaya, sok-sokan menghina orang lain dengan sebutan miskin? Cuih, amit-amit deh punya teman modelan dia!"


Ucapan bernada pedas membuat kemarahan Miranda semakin menjadi-jadi. Kepala wanita itu rasanya mau pecah mendengar olokan demi olokan ditujukan kepadanya. Di saat seperti ini dia teringat akan perkataan sang suami yang memintanya untuk tetap tinggal di rumah.


Mungkinkah ini yang ditakutkan Mas Jonathan? Mungkinkah dia punya firasat bahwa mereka akan mempermalukanku di depan semua orang? batin Miranda. Timbul penyesalan dalam diri wanita itu karena tak mau mendengar perkataan suami tercinta.


Seandainya Miranda menuruti permintaan Jonathan, mungkin semua ini tidak akan terjadi menimpanya. Akan tetapi, nasi telah menjadi bubur dan dia tak bisa memutar kembali waktu yang terus berputar.


"Diam kamu! Jangan banyak bicara!" sembur Miranda dengan dada kembang kempis. "Emangnya kamu jauh lebih baik dariku, hem? Kamu pikir, aku enggak tahu bagaimana kelakuan suamimu di luaran sana? Suami kamu itu tukang selingkuh, tukang celup sana sini. Bahkan menurut informasi yang aku dengar, salah satu dari selingkuhan suamimu tengah hamil muda dan minta pertanggung jawaban. Namun, kamu menolak untuk dimadu. Tapi sayang, penolakanmu itu tak merubah keputusan suamimu untuk menikahi selingkuhannya."


Miranda menatap sinis satu per satu teman geng sosialitanya. "Dan ... apa kalian tahu bagaimana nasib selanjutnya? Dia ... ditendang dari rumah mewah yang selama ini menjadi tempatnya berlindung dari teriknya matahari dan guyuran air hujan. Semua fasilitas mewah ditarik dan kini dia pun sama miskinnya seperti aku. Malah ... bisa jadi hidupnya lebih melerat daripada aku!"

__ADS_1


Kaki jenjang Miranda melangkah mendekati Tuti, mantan tetangganya dulu. "Selama ini aku mencoba menutupi aibmu, tapi makin ke sini mulutmu semakin enggak bisa dikondisikan. Jadi, jangan salahkan aku jika sekarang semua kebusukanmu terbongkar juga, Tut!"


Walaupun Miranda tak lagi tinggal di rumah mewah nan megah miliknya, tetapi dia masih sering berkomunikasi dengan beberapa tetangganya di kediamannya terdahulu. Tuti memang pandai menutupi kebenaran itu dari teman geng sosialita mereka hingga tak ada satu orang pun mengetahui tentang berita itu. Namun, Miranda beruntung karena dia punya orang kepercayaan yang dengan suka rela memberi berita terkini seputar para penghuni Perumahan Beverly Hills.


Miranda berdiri angkuh dengan dagu terangkat ke atas, dada membusung ke depan dan kedua tangan berkacak pinggang. Ia sudah muak dengan sikap munafik semua temannya itu. Mereka selalu menghina, menjelek-jelekan dan mengolok-olok orang lain di setiap kali ada kesempatan.


"Aku memang sudah miskin karena perusahaan suamiku mengalami kebangkrutan dan kuakui, mulutku pun tajam setajam pisau yang baru saja diasah. Namun, kalian salah jika beranggapan aku akan diam saja saat harga diriku diinjak oleh orang munafik macam kalian semua. Kalian pikir, hidup kalian lebih sempurna dibanding aku, begitu? Pasti jawabannya enggak, 'kan?"


"Aku yakin, saat ini sebetulnya banyak tekanan dalam diri kalian yang tidak ada satu orang pun mengetahuinya karena kalian mencoba menutup rapat semua masalah itu agar tak ada seorang pun tahu betapa tertekannya kalian hidup dalam semua kepalsuan. Kalian berlaga bahagia, tersenyum lebar padahal jauh di lubuk hati yang terdalam, sebetulnya kalian lelah dengan semua ini. Namun, kalian tak punya pilihan lain selain memasang senyum palsu di hadapan orang lain. Dasar munafik!" kata Miranda kian terengah. Ia tak lagi mampu mengendalikan diri untuk tidak mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.


Perasaan sakit, kecewa dan frustasi Miranda luapkan di depan semua orang. Semua uneg-uneg ia keluarkan, tak peduli apakah ucapannya itu menyinggung perasaan orang lain.


"Selama delapan tahun kita berteman kupikir kalian semua tulus menerimaku menjadi salah satu bagian dari geng ini, tapi ternyata dugaanku salah. Kalian berteman denganku hanya karena diriku bergelimang harta. Setelah bangkut, kalian meninggalkanku dan melupakanku seolah diriku ini tak pernah hadir di antara kalian. Ck, benar-benar jahat!"


"Pantas saja Mas Jonathan memintaku untuk keluar dari geng sialan ini. Rupanya hati kalian semua bukanlah hati manusia, melainkan hati iblis yang tega menghina temannya sendiri. Menyesal aku sudah menghabiskan waktu selama ini untuk berteman dengan orang-orang macam kalian."

__ADS_1


Miranda meraih hand bag di kursi dan melemparkan gulungan surat undangan yang diberikan Atikah kepadanya ke atas meja. "Aku enggak akan pergi menghadiri undangan pernikahan anakmu, Tikah! Berikan saja undangan itu kepada temanmu yang lain karena mulai detik ini, kita bukan lagi teman. Dengan ini menyatakan bahwa, aku ... Miranda Pramono, keluar dari geng sosialita. Aku tidak sudi berteman dengan orang berhati iblis seperti kalian."


Kesakitan di kalbu Miranda terpampang nyata. Api kemarahan melahap seluruh bangunan jiwa. Hanya menyisakan sebuah kerangka rapuh, yang apabila disentuh akan roboh seketika.


"Aku ucapkan selamat padamu, Atikah, karena kamu berhasil mempermalukanku di hadapan semua orang. Kuharap, kejadian yang menimpaku hari ini tidak terjadi padamu."


Miranda bersiap pergi karena merasa sudah tidak ada gunanya lagi berdiam diri di bawah satu atap yang sama dengan keenam teman geng sosialitanya. Hati semakin muak jika mengingat semua penghinaan yang ditujukan kepadanya.


Melangkah gontai. Berkali-kali merutuki kebodohannya karena tidak mau menuruti perintah sang suami.


"Bodoh! Seharusnya aku turuti perintah Mas Jonathan, bukan malah bersikeras datang dan justru dipermalukan seperti ini. Argh ... benar-benar sial!" gerutu Miranda sambil mempercepat langkahnya menuju pintu keluar restoran.


Atikah menatap Miranda dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Ada rasa menyesal karena dirinya menjadi tersangka utama yang membuat Miranda menjadi korban hinaan semua anggota geng sosialita. Pun begitu dengan kelima anggota yang lain. Mereka masih bungkam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.


Rencana makan siang di restoran terenak di kawasan Jakarta Pusat gagal akibat kejadian yang tak terduga. Kini, keenam orang itu hanya terdiam sambil memandang wajah teman-temannya satu per satu.

__ADS_1


Kenapa bisa jadi begini sih? Kenapa pula semua orang berlomba-lomba menghina Jeng Miranda? Tapi mereka memang sudah keterlaluan sih, tak bisa mengerem mulutnya sendiri. Desi, salah satu personil geng bermonolog, menyayangkan atas apa yang terjadi beberapa waktu lalu.


...***...


__ADS_2