Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
"Kamu Bersedia Menungguku?"


__ADS_3

"Berarti kita sudah sepakat kalau besok akan mengajak Arsen ketemu dengan Mama?"


Xander memastikan kembali rencana yang telah disusun bersama Tania. Untuk jaga-jaga saja, siapa tahu Tania berubah pikiran. Mungkin beberapa waktu lalu Tania berkata 'iya', tapi satu menit kemudian wanita itu bisa saja berkata 'tidak'. Kita tidak pernah tahu 'kan apa yang terjadi ke depannya seperti apa. Oleh karena itu, Xander ingin memastikan lagi sebelum mereka berpisah, kembali ke rumah masing-masing.


"Sudah. Nanti aku minta Surti mengantarkan Arsen ke kantor sepulang sekolah agar kami bisa pergi bersama-sama ke rumah sakit. Kalau kamu mau datang, ketemuan saja di sana," sahut Tania mantap. Tekadnya sudah bulat ingin memberitahu Miranda bahwa pernikahannya dengan Xander dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan, mewarisi gen dari sang papa.


Xander melirik tajam ke arah Tania. "Kenapa begitu? Apa di kantor tempatmu bekerja ada lelaki yang naksir kamu sehingga dirimu tidak mau dia tahu jika dulu kita pernah menikah? Kamu ingin menyembunyikan fakta bahwa aku adalah mantan suamimu, iya?"


Tania berdecak kesal. "Kamu tuh apa-apaan sih! Selalu saja berpikiran sempit. Kupikir setelah sekian lama kita berpisah kebiasaanmu telah berubah. Namun, kenyataannya tetap sama selalu menarik kesimpulan tanpa mau mendengar penjelasan orang lain. Aku jadi berpikir seribu kali untuk menerimamu lagi menjadi suamiku. Kalau sifat burukmu itu masih melekat dalam diri mungkinkah rumah tangga kita berakhir bahagia?"


"Aaw!" pekik Tania saat tubuh wanita itu terhentak maju ke depan.


Xander menginjak pedal rem secara mendadak. Beruntungnya saat itu Tania memasang seat belt yang melingkar di tubuh. Jika tidak, mungkin saat ini bagian dadanya membentur dashboard mobil.


Pewaris tunggal kerajaan bisnis V Pramono Group menghentikan laju kendaraan begitu saja tanpa memperhatikan adakah kendaraan lain di belakang mereka atau tidak sesaat setelah mendengar ucapan Tania.


Menatap tajam layaknya binatang buas yang sedang mengincar mangsanya. "Setelah apa yang kita lakukan bersama, kamu masih ragu kepadaku? Tania, katakan padaku harus dengan cara apa lagi meyakinkanmu bahwa diriku telah berubah."


"Aku sudah mengakui kesalahanku dan berjanji memperbaiki diri agar bisa menjadi ayah dan suami terbaik bagimu dan putera kita, Arsen. Tidakkah itu cukup membuktikan bahwa aku memang layak mendapat kesempatan kedua?"


Suara Xander terdengar lirih. Matanya yang hazel mengunci iris coklat milik Tania hingga membuat wanita itu tak bisa berkutik sedikit pun. Pantulan cahaya bersumber dari lampu jalanan menerobos masuk melalui jendela mobil mewah milik tuan muda Vincent Pramono, menyoroti sepasang mata indah nan jernih. Tania dapat melihat mata indah itu mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Tangan kokoh itu menyentuh erat kedua pundak Tania. "Haruskah aku menghilang dari bumi ini untuk selamanya agar kamu tahu bahwa cintaku benar-benar tulus dan murni kepadamu, Tania? Apakah aku-"


"Sst ... don't say anything else! Aku tahu kalau kamu masih mencintaiku, Xander. Dan kamu pun pasti tahu bagaimana perasaanku kepadamu. Sejak dulu hingga sekarang tak ada pria lain di hatiku selain kamu. Kamu masih menempati posisi tertinggi di hatiku ini." Tania menangkup wajah Xander dan menatap lekat mantan suaminya itu. "Hanya saja, aku masih butuh waktu untuk menyelesaikan semua kekacauan yang terjadi di antara kita. Setelah semua selesai barulah memikirkan kelanjutan hubungan kita."


"Kamu ... bersedia menungguku, 'kan?" tanyanya ragu-ragu. "Alasan kenapa aku tidak memintamu menjemputku dan Arsen di perusahaan Pak Johan, bukan karena ada lelaki lain yang mengincarku. Aku hanya tidak mau rekan kerjaku menggunjingkanmu. Bagaimana kalau mereka membicarakan keburukanmu?"


"Memangnya kamu siap jika reputasimu sebagai CEO hancur karena berdekatan dengan pegawai rendahan macam aku? Tidak malu jika mereka mengolok-olokmu karena CEO handal yang terkenal cukup sukses di dunia bisnis ternyata menyukai seorang janda beranak satu?" sambung Tania, mengungkapkan apa yang tengah membuatnya bimbang saat ini.


Membawa satu tangan Tania mendekat bibir. Xander kecup punggung tangan wanita itu dengan penuh cinta. "Aku tidak peduli dengan omongan orang lain. Biarkan saja mereka mengejekku karena jatuh cinta pada seorang janda. Terpenting aku bahagia hidup bersamamu dan putera kita."


Xander menghela napas panjang. "Jika kamu memang belum ingin memikirkan tentang masa depan kita, baiklah, tidak masalah. Aku akan menunggumu sampai kamu siap."


"Terima kasih, Xander, karena telah mengerti keadaanku." Mengulum senyum manis di depan Xander. "Apa kita bisa melanjutkan perjalanan? Aku tidak sabar memberitahu dia tentang rencana kita mengajaknya bertemu dengan neneknya. Dia pasti senang sekali dapat berjumpa dengan Tante Miranda."


***


Sementara Xander mengantarkan Tania pulang ke apartemen, orang tua Lidya baru saja tiba dari Jepang. Sepasang suami istri itu mengayunkan kaki mereka memasuki rumah mewah bergaya Victorian. Sebuah rumah yang sangat identik dengan dekorasi yang memiliki sentuhan khas dari zaman kerajaan Inggris.


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya." Salah satu pelayan menyambut kedatangan kedua orang tua Lidya. Sedikit membungkuk di hadapan mereka.


"Lelaki yang baru saja keluar dari sini, siapa? Kenapa kamu membiarkan orang asing masuk ke rumahku?" tanya ibu kandung Lidya ketus. Memasang ekspresi tidak senang pada kepala pelayan yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Tanpa mendongakan kepala, kepala pelayan itu menjawab, "Pria berpakaian serba hitam barusan adalah teman Non Lidya. Nona Lidya sendiri meminta pria itu datang menemuinya."


"Namun, seharusnya kamu-"


"Sudahlah, Ma. Jangan diperpanjang lagi! Biarkan saja Lidya membawa temannya ke rumah ini. Dia sudah dewasa, jangan terlalu dikekang!" sembur Martin dengan meninggikan nada bicaranya. Sudah terlalu lelah jika harus mendengar ceramah dari sang istri. "Siapkan makan malam untuk kami. Tiga puluh menit lagi harus sudah siap di meja makan."


"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Pelayan itu undur diri dari hadapan Martin dan Mala.


Suara langkah kaki terdengar memasuki ruang tamu. Sepatu hitam dan high heels setinggi lima senti menggema di segala penjuru ruangan. Saat keduanya menginjakan kaki di ruangan berukuran 5×5 meter, sayup mendengar suara Lidya tengah membicarakan sesuatu.


Penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan Lidya, Martin mempercepat langkah dan berdiri di depan putri semata wayangnya itu. "Rahasia apa yang ingin kamu sembunyikan dari kami?"


Refleks Lidya mendongakan wajah dan alangkah terkejutnya gadis itu saat mendapati mama dan papanya berdiri dengan sorot mata penuh tanda tanya. "Mama ... Papa. K-kalian sudah pulang?"


"Dasar anak bodoh! Memangnya kamu tidak dapat mendengar jelas langkah kaki kami barusan?" sungut Martin. Sikap pria itu memang tidak pernah lembut kepada Lidya. "Katakan, kamu sedang menyimpan rahasia apa di belakang kami? Papa tidak mau kamu melakukan perbuatan bodoh yang semakin mencoreng nama baik keluarga."


"Cukup sekali kamu mencoreng nama baik kami saat acara pertunanganmu beberapa waktu lalu. Dan papa tidak mau, kamu melempar lagi kotoran di hadapanku. Mengerti?" tandas Martin.


Dengan lirih Lidya menjawab, "Ehm ... i-itu ... aku sedang menyiapkan pesta kejutan untuk Mama dan Papa. Sebentar lagi 'kan kalian ulang tahun pernikahan yang ke 26 tahun. Oleh karena itu, aku ingin menyiapkan sesuatu yang spesial untuk Papa dan Mama. Semoga kalian berdua menyukainya."


Lidya terpaksa berbohong sebab tidak mau kena semprot Martin jika pria itu tahu bahwa dirinya adalah orang yang menyebabkan Miranda masuk ke rumah sakit. Ia yakin Martin pasti memarahinya habis-habisan sama seperti saat videonya sedang bercumbu dengan pria lain ditonton banyak tamu undangan kala acara pertunangan digelar.

__ADS_1


Tampak Martin manggut-manggut mendengar perkataan Lidya. "Oh ... begitu. Papa pikir kamu melakukan suatu hal di belakang kami. Rupanya sedang menyiapkan pesta kejutan toh. Ya sudah, lanjutkan saja kegiatanmu. Papa dan Mama masuk dulu ke dalam. Ingat, jangan membuatku malu lagi di depan semua orang. Kalau tidak, papa tidak akan segan memberi pelajaran kepadamu."


...***...


__ADS_2