
"Maaf, tapi kami harus tetap membawa Nona Lidya ke kantor polisi. Jika Nyonya mempunyai bukti yang menyatakan bahwa putri Anda tidak bersalah bisa tunjukan di kantor. Namun, untuk saat ini biarkan kami melaksanakan tugas dengan baik." Tanpa memberi kesempatan pada Nathalia untuk berbicara, salah satu dari mereka menggeser tubuh wanita paruh baya itu kemudian memborgol kedua pergelangan tangan Lidya yang masih membeku di tempat. Gadis itu benar-benar tak menduga jika hari spesial kedua orang tuanya akan berakhir seperti ini.
Semua mata tertuju pada Lidya saat berjalan di tengah karet merah dengan dikawal dua anggota kepolisian. Di antara para tamu undangan yang hadir mereka saling berbisik bahkan ada pula yang menatap tak percaya pada model cantik di depan sana. Karena mereka pun tak menyangka jika Lidya tega melakukan tindakan kriminal pada mantan calon ibu mertuanya.
Ketika melewati Miranda yang tengah duduk di kursi roda, Lidya menghentikan langkah kemudian menatap penuh benci pada ibu kandung dari lelaki yang ia cintai. Dengan sinis gadis itu berkata, "Puas kamu melihat hidupku menderita? Karena kamu hidupku hancur, karirku pun berantakan dan itu semua salahmu wanita tua sialan! Seharusnya kamu mati saja saat kecelakaan itu terjadi bukan malah selamat dan tersenyum bahagia di depanku!"
Xander dan Jonathan bersiap membela Miranda. Kedua mulut mereka membuka hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara seseorang mengurungkan niatan mereka.
"Tante enggak berhak membentak Nenekku! Semua ini terjadi bukan karena kesalahan Nenek, tapi karena Tante sendiri. Andai saja Tante tidak berbuat jahat pasti Kakek Jonathan tidak akan mungkin melaporkan perbuatan Tante kepada polisi."
"Apa Tante tidak takut dihukum Tuhan karena telah berbuat jahat pada seseorang? Kata Mama dosa loh mencelakai orang yang tidak bersalah," sambung Arsenio menirukan apa yang sering diucapkan Tania kepadanya. Semua nasihat sang mama tersimpan rapi di memori ingatan, semuanya terekam jelas di benak Arsenio.
Sebagai anak lelaki yang kelak menggantikan kakek dan papa, Arsenio bertanggung jawab penuh untuk melindungi mama, nenek serta adik-adiknya kelak sehingga hati kecilnya tergerak membela Miranda di depan Lidya dan disaksikan oleh semua orang. Dengan gagah berani bocah kecil berusia enam tahun itu menepis semua perkataan yang ditujukan kepada sang nenek.
Lidya terkesiap beberapa saat kala mendengar ucapan Arsenio. Berpikir, bagaimana bisa anak sekecil itu berani menentangnya padahal usia mereka terpaut jauh sekali. Akan tetapi, Arsenio sama sekali tidak takut kepadanya.
__ADS_1
"Beraninya kamu berbicara tidak sopan kepadaku. Apa kamu tidak pernah dididik oleh ibumu yang murahan itu untuk menghormati orang yang lebih tua, heh?" sentak Lidya dengan napas tersengal.
"Arsen akan berbicara sopan jika Tante berkata sopan kepada Nenek Miranda. Tapi kalau Tante sendiri tidak menghormati Nenek, untuk apa Arsen menghormati orang yang ingin mencelakai Nenek," ucap Arsenio tanpa mengenal takut. Padahal saat ini dia tengah berhadapan dengan seseorang yang tidak segan-segan melenyapkan nyawa orang lain.
Kesabaran Lidya telah habis. Merasa dipermalukan, gadis itu meringsek di antara dua orang polisi, berusaha mendekati Arsenio. Terlihat jelas rahang Lidya mengeras, dada kembang kempis dan sorot mata tajam bagaikan seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.
Namun, dengan sigap Xander berdiri di depan sang putera. "Jangan pernah menyentuh anakku, jika tidak mau kuhabisi kamu di depan semua orang!" ancam pria itu tidak main-main. Suara menggelegar bagai gemuruh petir, memekikkan gendang telinga bagi siapa saja yang mendengarnya.
Amarah yang sempat meledak perlahan meredup kala melihat betapa menakutkannya Xander saat ini. Tatapan mata pria itu tajam seakan tengah mengintimidasi. Berangsur-angsur nyali Lidya menciut karena merasa takut jika Xander nekad melakukan sesuatu kepadanya.
Kedua polisi yang sedari tadi terdiam menarik tubuh Lidya yang hanya berjarak satu meter dari depan Xander. Mereka segera bertindak sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Sebaiknya kita pergi sekarang. Mari, Nona!"
Miranda dan Tania menatap kepergian Lidya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua wanita itu masih terkejut akan kenyataan yang baru saja didengar jika model itu adalah dalang di balik semua kecelakaan yang menimpa nyonya besar keluarga Vincent Pramono.
__ADS_1
Nathalia berlari mengejar sang putri, berusaha melepaskan tubuh anak tercinta dari kawalan para polisi. "Pak, tolong lepaskan anak saya. Dia tidak bersalah. Dia melakukan itu karena terpaksa. Wanita tua itulah yang bersalah, seharusnya kalian menangkapnya bukan menangkap putriku," tuturnya memelas. Akan tetapi, kedua polisi itu tak bergeming. Mereka tetap menjalankan tugas sebagaimana mestinya.
Melihat tak ada respon apa pun dari aparat kepolisian, Nathalia mendekati Jonathan. Dengan wajah memelas dia berkata, "Jo, bebaskan putriku! Cabut semua tuntutanmu kepada Lidya. Apa kamu tahu alasan di balik semua kegilaan putriku? Dia melakukan itu karena ulah istrimu yang lumpuh ini. Istrimu menghancurkan semua impian Lidya untuk hidup bersama Xander. Seandainya Miranda tidak membatalkan pertunangan, Lidya tidak mungkin nekad mencelakai istrimu."
Alih-alih merasa kasihan, Jonathan justru semakin membenci Nathalia, mantan calon besannya itu. "Nathalia, Nathalia. Sepertinya kamu sudah dibutakan oleh cintamu kepada Lidya. Putrimu itu bersalah lalu kenapa masih kamu belanya, hem? Seharusnya kamu biarkan saja dia mendekam di penjara atas kesalahannya sendiri. Biarkan dia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya bukan malah membelanya bela matian-matian."
"Aku tahu kamu sangat menyayangi Lidya, tapi untuk kali ini janganlah kamu membelanya. Dan untuk permintaanmu, maaf aku tidak bisa mengabulkannya sebab akibat perbuatan putrimu, Miranda nyaris saja pergi meninggalkan dunia ini selamanya. Aku hampir saja berpisah dengan seseorang yang sangat kucintai."
Lemas sudah tubuh Nathalia dibuatnya. Tungkai wanita itu terasa lemah, tak sanggup menopang berat bebanya hingga membuatnya terkulai di lantai. Terdengar suara isak tangis menggema di penjuru ruangan. Sebagai orang tua yang sangat menyayangi anaknya, Nathalia tak sanggup menahan air mata yang mulai membasahi pipi.
"Lidya, anakku. Jangajn tinggalkan mama sendirian!' raung Nathalia di sela isak tangisnya.
Sementara itu, Martin hanya memijat pelipisnya yang bedenyut kencang. Acara yang seharusnya dipenuhi gelak tawa dan suasana suka cita berubah menjadi duka dan itu semua disebabkan oleh Lidya. Untuk kedua kali anak tunggalnya itu melempar kotoran ke wajahnya.
"Anak sialan! Sudah kukatakan berhenti membuat onar, tapi dia malah berniat mencelakai Miranda. Menyesal aku membesarkan anak bodoh seperti Lidya!" dengkus Martin kesal. Tidak mau namanya semakin tercoreng, pria paruh baya itu melangkah meninggalkan ballroom hotel.
__ADS_1
...***...