
Cofféshop itu cukup luas. Foto menu terpampang di dinding, mulai dari berbagai cake, makanan ringan dan aneka minuman. Dan bukan hanya itu saja, berbagai macam jenis kopi pun tersedia di sana.
Mantan pasangan suami istri berdiri di ambang pintu saat mereka baru saja menginjakan kaki di café tersebut.
"Ingin duduk di sini atau outdoor?" tanya Xander.
Sejujurnya Xander ingin agar mereka duduk di dalam ruangan saja sebab hal yang dibicarakan cukup privasi. Namun, apabila Tania berkehendak untuk duduk di outdoor maka lelaki itu tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan wanita itu. Asalkan ia bisa meminta maaf pada mantan istrinya, itu sudah lebih dari cukup.
Tania mengedarkan pandangan ke sekeliling. Café itu cukup ramai, dipadati para karyawan perusahaan yang bekerja di bawah naungan Johan Architecture. Hampir semua meja terisi dan hanya menyisakan dua buah meja di dalam ruangan dan satu buah meja di outdoor.
"Indoor rasanya lebih privasi."
Mantan menantu keluarga Vincent Pramono memilih tempat duduk di dalam café. Sebuah meja di dekat jendela besar menghadap ke jalan raya menarik perhatian. Lagi pula meja itu sedikit lebih terjaga privasinya karena terhalangi sekat pemisah antara meja satu dengan lainnya.
Sebagai seorang lelaki tentu saja Xander tidak membiarkan Tania mengalami kesulitan. Ia menarik kursi untuk sang mantan terindah. "Silakan duduk!" ucapnya lembut. Tidak ada ucapan bernada sinis ia lontarkan pada Tania, seperti saat pertama kali bertemu setelah lima tahun berpisah.
Seorang pelayan berjalan sambil membawa buku menu, buku pesanan pelanggan café dan satu buah pulpen di tangan kanannya. "Permisi, Tuan dan Nona, ingin pesan apa?" tanyanya. Mengukir senyuman di bibir untuk menambah kesan ramah.
Xander tampak sibuk memilih menu yang cocok dengan selera. Maklum, ini kali pertama baginya datang ke café tersebut. Sementara Tania segera memesan minuman dan cake yang biasa ia pesan tatkala nongkrong di sana bersama teman satu divisinya.
"Tolong bawakan red velvet cake dan es cappuccino," ujar Tania pada pelayan berseragam hitam.
Pelayan itu bergegas mencatat pesanan Tania di kertas. "Ada lagi pesanannya?" tanyanya sembari mengarahkan pandangan ke arah Xander.
__ADS_1
"Saya pesan cheese cake, hot cappuccino dan air mineral."
Setelah mengulang kembali pesanan di meja delapan, pelayan itu beranjak dari sana dengan langkah cepat. Ia tidak punya waktu untuk terlalu lama berada di meja Xander dan Tania, sebab masih banyak pekerjaan yang menantinya.
Xander memperhatikan wajah Tania dengan seksama. Begitu cantik mantan istrinya itu. Walaupun tanpa polesan make up tebal, aura kecantikan wanita itu terus terpancar bagaikan sinar mentari yang selalu setia menyinari bumi.
"Langsung pada pokok pembahasan saja. Sebenarnya, apa yang ingin Tuan bicarakan dengan saya?" tanya Tania setelah sadar bahwa sedari tadi Xander tengah memperhatikannya.
Sengaja mengalihkan perhatian Xander karena tidak tahan ditatap sedemikian lekat oleh pemilik mata hazel. Ia takut akan terjatuh pada lubang yang sama dan terbuai oleh pesona sang tuan muda Vincent Pramono apabila tidak segera mencari cara bagaimana menghentikan mata indah itu terus memandanginya. Sungguh, ia tidak sanggup jika harus terluka untuk kedua kali.
Xander terdiam, memperhatikan kendaraan lalu lalang di depan sana. Ia tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.
"Tuan Xander, jika seandainya Anda enggak punya kepentingan lebih baik saya undur diri. Masih banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan." Tania bersiap bangkit dan hendak meninggalkan café tersebut. Percuma saja duduk berduaan dengan Xander, jika pada akhirnya lelaki itu tak menyampaikan tujuannya datang ke perusahaan.
"Tunggu! Jangan pergi dulu!" sergah Xander cepat sebelum Tania benar-benar meninggalkannya seorang diri.
Xander tampak sedikit kebingungan terlihat dari jari telunjuk mengetuk-ngetuk meja kayu di depannya. Lelaki itu sedang mencari cara bagaimana memulai percakapan. Entahlah, semua terasa canggung bagi dirinya.
Di saat Xander tengah kebingungan, Tania justru menampakan ekspresi kesal akan sikap mantan suaminya. Akan tetapi, ia mencoba bersabar memberi sedikit waktu pada lelaki itu.
Terdengar helaan napas kasar berasal dari Xander. "Maaf." Hanya kalimat itu yang mampu terucap dari bibir ayah kandung Arsenio.
Sepasang mata sipit melebar sempurna. "Maaf untuk apa?" tanya Tania keheranan. Tidak mengerti akan arah pembicaraan Xander.
__ADS_1
Xander mendongakkan kepala dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit wajah tampannya memandangi wajah cantik jelita yang tengah berdiri di seberang sana.
"Untuk semua kesalahan yang pernah kuperbuat di masa lalu. Saat kita masih berstatuskan suami istri, aku pernah mengatakan hal buruk tentangmu, menuduhmu berselingkuh dengan Abraham padahal sebenarnya kalian enggak melakukan apa pun. Kamu dan dia hanya dijebak saat itu."
Rasanya dada Xander terasa lebih ringan usah mengucapkan permintaan maaf pada Tania. Kini tidak ada lagi beban yang dipikul di pundak usai mengutakan isi hatinya yang terdalam di hadapan mantan istrinya itu.
Tania menjatuhkan bokongnya yang sintal di kursi dengan kasar. "Jadi, kamu udah tahu kalau aku dan Abraham hanya dijebak. Begitu?" tanya wanita itu. Tidak ada lagi kata 'saya dan anda', yang ada hanya kata 'kamu dan aku'. Ibunda Arsenio sudah tak lagi menggunakan bahasa formal seperti yang biasa digunakan saat bertemu klien penting perusahaan.
Xander mengangguk dan berkata, "Benar. Aku udah tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Kamu dan Abraham hanya korban dari keegoisan Mamaku. Maafkan aku, Tania. Aku menyesal telah menuduhmu yang bukan-bukan."
Tania mendengkus sembari mengalihkan pandangan ke arah lain. "Ooh ... jadi karena udah tahu kebenarannya maka dari itu kamu datang menemuiku. Jika seandainya kebenaran itu masih tertutup rapat apa kamu akan datang menemuiku dan meminta maaf atas kejadian enam tahun lalu? Pasti jawabannya, enggak, 'kan? Selamanya hanya menganggap aku wanita murahan, pengkhianat dan tukang selingkuh karena tidur dengan lelaki lain. Padahal kamu tahu sendiri bagaimana perasaanku kepadamu."
Wanita cantik bermata sipit dan berwajah oriental tersenyum getir. "Sejak pertama kali kita bertemu, hati dan cintaku hanya untuk kamu seorang. Dari sekian banyaknya lelaki yang datang mendekat cuma kamu satu-satunya lelaki yang mampu menggetarkan hatiku, lalu bagaimana mungkin aku menduakanmu, Xander, sementara hatiku sudah kamu miliki."
"Asal usulku memang enggak jelas. Aku enggak tahu di mana keluargaku saat ini. Apakah mereka masih hidup ataupun udah meninggal, aku enggak tahu. Namun, kemiskinan yang menimpaku bukan berarti membuat kamu dan Tante Miranda bisa seenaknya aja menghinaku dan mengatakan bahwa aku wanita murahan yang tega menjual tubuhku demi harta. Aku masih punya harga diri walaupun bukan terlahir dari keluarga kaya raya." Tania menunjuk dirinya sendiri menggunakan tangan sebelah kanan.
Buliran air mata meluncur begitu saja tanpa disadari Tania. Dadanya terasa sesak seakan ada bongkahan batu besar menimpanya. Hati wanita itu hancur berkeping-keping saat mengingat bagaimana teganya Xander menghina dirinya di hadapan semua orang.
Dasar wanita murahan! Tukang selingkuh! Aku menyesal telah menikahimu, Tania. Andai saja aku tahu kalau kamu bukanlah wanita baik-baik sudah dari dulu kuceraikan kamu.
Kalimat pedas bernada sindiran terus terngiang di telinga Tania hingga membuat wanita itu terus meneteskan air mata. Setiap malam menangis, meratapi nasibnya yang begitu malang. Berharap dapat hidup bahagia bersama Xander, tapi ternyata harapan tidak sesuai dengan realita. Ia harus rela pergi dari kehidupan Xander dengan membawa luka yang digoreskan di hatinya.
.
__ADS_1
.
.