
Pagi-pagi sekali Abraham telah meninggalkan rumah orang taunya. Hari ini ia diminta Jonathan datang ke perusahaan V Pramono Group guna membahas suatu hal penting yang tak bisa dijelaskan lewat saluran telepon. Oleh karena itu, ia meminta izin Amanda untuk menemui sang paman.
"Selamat pagi Tuan Abraham," sapa bagian resepsionis yang berjaga di balik meja kerja. Tak lupa ia memberi senyuman manis kepada Abraham.
Abraham mengangguk sebagai respon jawaban. "Apa Paman Jonathan sudah datang? Saya ada janji temu dengannya."
"Sudah, Tuan. Big Boss sudah tiba di kantor sekitar sepuluh menit yang lalu. Tuan Jonathan pun meminta saya segera mempersilakan Anda untuk naik ke lantai atas," sahut wanita itu.
"Baiklah, kalau begitu saya temui Paman Jonathan dulu. Selamat pagi." Lantas Abraham mengayunkan kakinya menuju pintu lift. Ia berdiri sambil memainkan smartphone miliknya.
Hanya membutuhkan waktu lima menit saja, akhirnya Abraham tiba di lantai teratas gedung pencakar langit yang megah bak hotel bintang lima. Keponakan Miranda itu mendekati meja Laura untuk memastikan bila Jonathan memang sedang tidak sibuk.
"Permisi, apa Paman Jonathan ada di dalam? Saya diminta Beliau datang ke sini untuk membahas hal penting secara empat mata," tutur Abraham menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke perusahaan. Walaupun petugas resepsionis telah mempersilakannya untuk bergegas menemui Jonathan, tapi rasanya kurang afdol jika ia tak melapor terlebih dulu kepada Laura.
Laura yang saat itu sedang merapikan meja kerja miliknya, mendongakan kepala demi melihat siapakah gerangan yang datang berkunjung pagi-pagi sekali.
Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas ketika melihat keponakan dari sang bos berdiri gagah di seberang sana. "Eh Tuan Abraham, saya pikir siapa. Cari Big Boss, ya? Big Boss ada tuh di dalam ruangan. Beliau sudah menunggu Anda sedari tadi," kata Laura ramah.
__ADS_1
Lantas Laura meninggalkan meja kerjanya menuju daun pintu dengan bagian depannya bertuliskan 'ruang CEO'. "Silakan masuk, Tuan! Dua menit lagi saya minta OB menyiapkan minuman kesukaan Anda. Capuccino less sugar yang diaduk sebanyak sembilan kali mulai dari arah kiri ke kanan."
Sebelum fitnah kejam yang dilakukan Miranda, Abraham bekerja di perusahaan milik Jonathan. Selain karena kemampuan Abraham yang patut diacungi jempol, mendiang suami Amanda mempunyai 15% saham perusahaan V Pramono Group. Oleh karena itu, Jonathan meminta keponakannya untuk bekerja sama dengan Xander, memajukan perusahaan agar semakin berjaya di kancah nasional maupun internasional. Jadi jangan heran jika Laura mengetahui kebiasaan Abraham sebab dulu pria itu pernah menjadi bosnya.
"Abraham, kemarilah, Nak! Paman sudah menunggumu sejak tadi."
Itulah kalimat pertama yang Abraham dengar ketika ia membuka daun pintu sampai terbuka lebar. Di depan sana Jonathan mengulum senyum lebar melihat keponakan berdiri di ambang pintu.
"Maafkan jika membuat Paman menunggu terlalu lama. Tadi kejebak macet di Cilandak, ada galian kabel jaringan fiber optik," tutur Abraham menjelaskan alasannya mengapa ia datang terlambat.
Jonathan terkekeh. "No problem. Kebetulan paman juga baru saja sampai. Mari, duduk! Kita berbincang santai di sana." Ayah kandung Xander mempersilakan keponakannya duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan.
Tangan Jonathan melambai di hadapan Abraham. "Bukan soal itu melainkan soal ...." Ucapan Jonathan mengambang di udara. Jonathan bingung sendiri bagaimana caranya memberitahu Abraham jika ia ingin keponakannya itu bekerja kembali di perusahaan.
Tak kunjung mendengar maksud Jonathan memintanya datang ke sini, Abraham kembali membuka suara. "Paman, sebetulnya apa yang ingin disampaikan padaku? Jika memang bukan soal saham milik keluargaku lalu apa?"
Kembali termangu, mencari cara bagaimana memulainya. "Kemarin, paman dan Bibimu Miranda membahas soal perusahaan yang semakin lama semakin berkembang pesat. Banyak proyek yang di-handle perusahaan. Oleh karena itu, paman berencana untuk mengembalikan jabatan yang pernah kamu duduki sebelumnya."
__ADS_1
Abraham yang duduk di seberang Jonathan tersentak mendengarnya. Seumur hidup tak pernah sekalipun bermimpi akan mendapatkan kembali apa yang pernah ada dalam genggaman tangan.
"Maksud Paman Jonathan, bagaimana?" Abraham berkedip, mencoba mengeja apa yang baru saja didengarnya. Ia memastikan kembali jika yang didengarnya barusan bukanlah sebuah kekeliruan.
"Seperti yang kamu dengar kalau paman mau kamu bekerja di sini lagi menjabat sebagai CMO. Kamu dan Xander bekerjasama memajukan perusahaan ini agar terus berjaya dibanding perusahaan lain. Paman yakin kamu pasti bisa!"
"Paman yakin dengan keputusan ini? Tidak takut kehadiranku justru membuat perusahaan yang didirikan dengan penuh keringat dan jerih payah justru hancur di tanganku?"
Dengan penuh keyakinan Jonathan menjawab, "Tentu saja! Kamu adalah keponakan dari adik iparku, Amanda. Paman mengenalmu bukan satu atau dua tahun melainkan hampir tiga puluh tahun. Sejak masih bayi, paman sudah mengenalmu jadi mana kamu tega menghancurkan perusahaanku ini. Terlebih ada sebagian harta milik keluargamu di sini dan sudah pasti kamu tidak akan mungkin menjadikan perusahaan yang paman bangun dengan susah payah hancur begitu saja. Bukan begitu, Abraham?"
Abraham terdiam. Mulut terkunci rapat. Ia kalah telak setiap kali berdebat dengan Jonathan.
"Aku bisa saja menerima jabatan itu lagi, Paman. Namun, bagaimana dengan Xander? Apa dia setuju dengan keputusanmu? Seperti yang semua orang tahu, ada masa lalu pahit di antara kami berdua sampai aku dan Xander sudah tak lagi bertegur sapa."
Jonathan mengulum senyum ketika mendengar jawaban Abraham. Walaupun ada sedikit kekhawatiran tersirat dari setiap kata yang terucap, setidaknya ia tahu jika Abraham tertarik dengan tawarannya.
"Urusan Xander serahkan saja kepada paman biar nanti aku yang memikirkan cara bagaimana membujuk anakku yang keras kepala itu agar setuju dengan keputusanku. Terpenting saat ini adalah jawabanmu, maukah kamu kembali bekerja di perusahaan yang kubangun mulai dari nol?" tanya Jonathan memandang penuh harap kepada Abraham.
__ADS_1
...***...