Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Buket Bunga Praimrose


__ADS_3

Tepat pukul sebelas siang, Xander sudah melajukan kendaraan mewah miliknya menuju salah satu tempat bersejarah baginya dan Tania. Sebuah tempat yang banyak menyimpan kenangan indah saat mereka masih berpacaran dulu. Ia sengaja datang lebih awal sebab tidak ingin membuat mantan istrinya menunggu terlalu lama.


"Semoga hari ini keberuntungan menyertaiku," gumam Xander sembari menginjak pedal gas. Berharap ia segera sampai di tujuan tepat waktu.


Tatkala melewati komplek pertokoan dekat Restoran Lovely, pandangan mata Xander tertuju pada kerumunan orang di seberang sana. Rupanya ada sepasang kekasih tengah menjadi tontonan akibat si pemuda melamar sang kekasih di hadapan semua orang. Satu buket bunga mawar merah dan sebuah boneka taddy bear pemuda itu berikan kepada kekasih tercinta.


Xander menghentikan laju kendaraannya di bahu jalan lalu ikut menonton momen bersejarah itu berlangsung. Bayangan saat ia melamar Tania melintas di benaknya.


"Pemuda itu sama sepertiku dulu, terlalu bucin hingga tidak memedulikan apakah orang-orang itu tengah memperhatikannya atau tidak. Aku yakin mereka pasti saling mencintai, buktinya pria itu rela melakukan apa pun demi kekasih tercinta. Lalu gadis itu pun memandang kekasihnya dengan tatapan penuh cinta. Aah ... rasanya seperti sedang bercermin pada diriku sendiri."


Pandangan mata Xander tertuju pada sebuah toko bunga yang jaraknya tak begitu jauh dari posisinya saat ini. Lalu, sebuah ide terlintas di benak pria itu. Tanpa pikir panjang, ia turun dari mobil dan berjalan masuk ke toko tersebut.


Xander terdiam di tempat sambil memandangi lautan bunga dengan aneka warna di depan sana. Bunga itu amat sangat banyak membuat pria dingin itu kebingungan sendiri.


Apakah aku harus memberikan bunga primrose sama seperti saat aku melamar Tania dulu? Lalu bagaimana jika seandainya dia sudah tak menyukai bunga ini? Percuma saja dong aku membelikan buket bunga untuknya pada akhirnya bunga pemberian dariku dia buang ke tong sampah.


Kepala Xander berdenyut kencang memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi apabila ia memberikan buket bunga anyelir untuk mantan istrinya itu.


Aargh, sial! Kenapa kepalaku rasanya mau pecah hanya karena memikirkan hal sepele. gerutu Xander dalam hati.

__ADS_1


Tujuh tahun berpisah membuat Xander tidak tahu lagi apakah Tania masih menyukai bunga primrose putih atau tidak. Bunga ini berasal dari belahan Eropa barat dan selatan. Bunga ini mempunyai arti bahwa seseorang tidak bisa hidup tanpanya dan berharap hubungan yang terjalin di antara mereka bisa langgeng dan terus bersemi sepanjang waktu.


Cukup lama Xander berdiri hingga membuat pemilik toko bunga menghampiri pria berdarah Amerika dari sang papa. "Selamat siang, Tuan. Apa ada yang bisa dibantu?" ucap pemilik toko.


Xander menoleh pada wanita di sebelahnya lalu kembali memandangi bunga-bunga di depannya. "Saya ingin membeli bunga praimrose. Namun, saya tidak tahu apakah wanita itu masih menyukai bunga tersebut atau tidak. Ehm ... kamu sudah berpisah selama tujuh tahun jadi saya tidak terlalu mengetahui kebiasaannya yang sekarang."


"Ooh, begitu. Kenapa tidak Tuan coba saja membeli bunga yang sama! Biasanya sih jika seseorang sudah sangat menyukai sesuatu sekalipun kita berpisah dengannya selama puluhan tahun, orang itu akan tetap menyukai apa yang ia sukai sebelumnya. Sangat jarang sekali merubah apa yang sudah ia sukai sebelumnya."


"Jadi menurutmu, saya harus membeli buket bunga yang sama. Begitu?" tanya Xander untuk memastikan. Jujur, ia ragu apakah Tania akan menyukai bunga pemberiannya atau tidak.


Pemilik toko itu tersenyum hangat kepada Xander. "Kita tidak pernah tahu jika tidak mencobanya, Tuan. Bagaimana, apa Tuan ingin memberikan bunga ini untuk sang pujaan hati?"


Kening Xander berkerut tanda sedang berpikir. Cukup lama menimbang-nimbang, akhirnya pria itu memantapkan hati untuk tetap memberikan bunga yang sama seperti saat masih pacaran dulu dengan Tania.



Setelah membeli buket bunga kesukaan Tania, Xander kembali melajukan kendaraan roda empat miliknya. Wajah pria itu semringah karena sebentar lagi bertemu dengan wanita yang amat dicintainya.


Pandangan mata sesekali melirik ke jok samping pada sebuket bunga cantik di sebelahnya. "Semoga saja Tania menyukai bunga yang kuberikan ini."

__ADS_1


Hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit, Xander telah tiba di tujuan. Pria itu menjejakan kakinya yang dibungkus sepatu mahal terbuat dari kulit asli berharga puluhan juta rupiah. Kemudian berjalan masuk ke sebuah restoran yang pernah menjadi saksi bisu betapa besar dan tulusnya cinta Xander pada Tania dulu. Saking tulusnya, ia bahkan rela kawin lari dengan Tania karena Miranda secara terang-terangan menolak wanita itu sebagai salah satu dari anggota keluarga Vincent Pramono.


"Selamat siang, Tuan. Pesan meja untuk berapa orang?" Salah seorang pelayan menyapa Xander dengan ramah.


"Saya sudah reservasi atas nama Alexander Vincent Pramono," ucap Xander dingin. Tak ada senyuman sedikit pun terlukis di wajah tampan itu.


Sang pelayan segera tersadar bahwa pria di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Lantas, pelayan itu kembali berkata, "Maafkan saya, Tuan, karena sudah membuat Anda berdiri terlalu lama. Mari, silakan. Saya akan mengantarkan Anda ke ruangan."


Pelayan itu merasa bersalah karena tidak ketidaktelitiannya membuat Xander menunggu terlalu lama. Wajar saja sebab saat ini Xander mengenakan kacamata hitam dan berpakaian casual hingga orang di sekitarnya tak sadar jika pria jangkung itu adalah pewaris tunggal V Pramono Group.


"Silakan, Tuan. Ini buku menunya. Anda bisa memanggil saya ataupun pelayan lain jika sudah selesai memesan." Xander hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Sama sekali tidak berniat membuka suara di hadapan orang asing.


Sementara itu, Tania baru saja keluar memasukan semua barang-barangnya ke dalam tas. Telepon genggam, pengisi daya serta alat make up miliknya selalu berada di tas. Ketiga benda itu merupakan benda wajib yang harus ia bawa ke mana pun.


"Loh, Tan, kamu mau ke mana kok udah rapi sih?" tanya Joana. "Padahal aku mau ngajaki kamu makan di kantin."


Tania meraih sling bag lalu menyampirkannya di antara pundak dan ketiak. "Aku ada urusan mendadak di luar kantor. Sorry, enggak bisa makan siang bareng kamu, Na. Next time aja kita makan bareng."


"Udah ya, Na. Aku buru-buru nih. Bye, Joana!" Tanpa memberi kesempatan pada Joana, Tania lebih dulu berjalan setengah berlari menuju lift yang akan membawanya ke lantai ground. Tak ada waktu baginya untuk menjelaskan lebih detail ke mana dan dengan siapa ia pergi.

__ADS_1


Joana memandangi punggung Tania dengan penuh tanda tanya. "Semakin mencurigakan. Pokoknya aku harus cari tahu siapa sebenarnya Tania dan ada hubungan apa antara dia dan Tuan Xander."


...***...


__ADS_2