
Jonathan mempersilakan istri tercinta masuk ke istana baru mereka dengan Tania berjalan di sisi kedua mantan mertuanya. Tangan kokoh Jonathan mendorong daun pintu hingga terbuka lebar. Belum usai keterkejutan Miranda karena sang suami memberi hadiah berupa rumah impian, kini wanita paruh baya itu kembali dibuat terkejut akan kehadiran para pelayan yang dulu bekerja di rumah peninggalan kedua orang tua Miranda sedang berbaris di samping kanan dan kiri.
"Pa, i-ini ...." Miranda mendongakan kepala demi menatap wajah lelaki yang menikahinya tiga puluh satu tahun silam. Suara wanita itu tercekat hingga tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu benar, Ma, mereka adalah para pelayan yang bekerja di kediaman kita dulu. Selama ini aku menjalankan misi, mereka kuperintahkan mengurus rumah peninggalan kedua orang tuamu agar rumah itu tetap terjaga kebersihannya. Aku hanya mempekerjakan Salamah untuk membantumu mengurusi pekerjaan rumah tangga."
"Namun, di tengah misi aku berpikir untuk memintanya keluar dari rumah kontrakan karena merasa kini saatnya kamu mulai mandiri, mengerjakan urusan pekerjaan rumah tanpa bantuan siapa pun. Terbukti semenjak kepergian Salamah, kamu mulai pandai memasak, mengurus rumah kontrakan kita seorang diri walau tidak sempurna, tetapi kuhargai semua usahamu itu," jelas Jonathan seraya mengusap punggung Miranda dengan penuh kasih sayang.
Mata Miranda memerah dan mulai berkaca-kaca. Bahkan sebutir kristal meluncur tanpa ia sadari. Dalam hati mengucap syukur karena Tuhan menjodohkannya dengan Jonathan, sosok pria setia yang mau menerimanya apa adanya. Seandainya dulu ia bersikeras menolak perjodohan itu mungkin hari ini ia tak akan pernah merasakan betapa indahnya dunia ini karena dikelilingi orang yang tulus menyayanginya.
Di saat semua orang larut dalam suasana, langkah kaki terdengar di penjuru ruangan. Seorang bocah kecil berjalan di antara dua barisan para pelayan yang tengah menundukan kepala di hadapan nyonya mereka.
"Selamat datang di rumah, Nenek. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Nenek."
Sontak semua orang menoleh pada si pemilik suara. Miranda semakin terisak kala melihat cucu kesayangan berdiri di depannya.
Tangan mungil itu terulur, mengusap air mata yang membasahi pipi. "Jangan menangis, Nek! Arsen enggak akan membiarkan Nenek bersedih. Arsen akan selalu membuat Nenek dan Kakek tersenyum," ucap Arsenio mencoba membujuk Miranda.
Selain genius, rupanya Arsenio mempunyai sifat welas asih tinggi seperti sang mama, Tania. Hatinya lembut selembut sutera hingga tak tega apabila melihat orang tercinta menangis.
__ADS_1
Mendekap tubuh mungil itu dalam pelukan. Ia memeluk erat Arsenio seolah takut cucunya itu pergi dari sisinya. "Ya Tuhan, kebaikan apa yang pernah kulakukan di masa lalu sehingga Engkau menganugerahkan cucu sebaik Arsenio? Cucuku ini tidak hanya pintar, tetapi juga sangat pengertian. Dia membawa kebahagiaan kepada kami semua."
"Kamu benar, Ma. Arsenio merupakan harta yang sangat berharga bagi keluarga kita," bisik Jonathan merengkuh Miranda. "Mulai sekarang, kita berdua akan membantu Tania membesarkan Arsenio dengan segenap jiwa raya yang dimiliki."
Miranda terus meneteskan air mata di antara dua pipi. Ingatannya kembali pada kejadian tujuh tahun lalu saat di mana dengan teganya memfitnah sang menantu di depan semua orang. Tak pernah berpikir Tuhan memberinya kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu.
Dan kini, saat kesempatan itu datang, Miranda tak mau menyia-nyiakan waktunya begitu saja. Ia ingin menebus kesalahannya pada Tania dan juga Arsenio dengan menjadi nenek dan calon mantan ibu mertua terbaik bagi Tania.
***
Sebagai bentuk ucapan syukur, Jonathan mengadakan acara barbeque yang dihadiri oleh anak, cucu dan calon menantunya, Tania. Salamah beserta pelayan lain turut memeriahkan acara tersebut. Tak ada dinding pemisah di antara mereka. Semua orang larut dalam suasana suka cita.
Melirik sekilas pada sang mantan suami, terbesit keinginan mengajak pria itu berbicara secara empat mata tanpa diganggu oleh siapa pun sebab topik obrolan kali ini begitu penting hingga tak boleh ada satu orang pun mengganggu mereka.
"Mbak, tolong kamu lanjutkan. Saya ada perlu dengan Xander sebentar," ujar Tania pada salah satu pelayan wanita yang kebetulan melintas di depannya.
Pelayan wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun mengangguk patuh dan segera membantu Salamah. Sementara Tania melangkah mendekati Xander.
"Xander, bisakah kita bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin kudiskusan denganmu." Menatap secara bergantian pada Xander dan Jonathan. Tania berharap urusannya dengan sang mantan suami segera selesai. Toh restu dari Miranda telah dikantongi hingga tak ada lagi penghalang yang dapat memisahkan mereka.
__ADS_1
"Pergilah, biar papa dibantu Pak Danang menyelesaikan ini semua. Kamu dan Tania dapat berbicara serius tanpa perlu mengkhawatirkan semua ini."
Xander berjalan bersisian dengan Tania menuju gazebo yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Jonathan mengadakan party kecil-kecilan. Dari tempat mereka saat ini, keduanya masih dapat melihat bagaimana kegiatan semua orang menyiapkan santapan makan malam di rumah baru Miranda.
"Nia? Kamu mau bicara apa?" tanya Xander memulai percakapan mereka. Sedikit penasaran apa yang menyebabkan wanita pemilik mata indah memintanya berbicara secara empat mata.
Tania menggigit bibir bagian bawahnya. "Ehm ... Xander, sebenarnya aku mengajakmu bicara berduaan karena ingin membahas tentang masa depan Arsenio. Aku telah memikirkan dengan masak soal tawarmu beberapa hari lalu. Tawaran rujuk yang pernah kamu ucapkan padaku saat kita hendak pergi ke apartemenku. Aku sudah mempertimbangkannya dan telah mengambil keputusan untuk menerima tawaranmu itu. Aku ... bersedia rujuk denganmu."
Tertegun, itu yang sekarang terjadi pada Xander. Tidak pernah menduga jika ternyata Tania bersedia membina kembali rumah tangga yang sempat hancur akibat kesalahpahaman. Memang benar ia berharap banyak kelak bisa hidup bahagia bersama Tania, Arsenio serta anak-anak mereka lainnya.
Akan tetapi, ini terlalu tiba-tiba hingga membuatnya tidak percaya dengan apa yang didengar. Beberapa detik bertanya, apakah ini hanya halusinasinya saja? Benarkah Tania menerima tawarannya untuk rujuk dan menikah tuk kedua kali?
Xander terdiam, bingung sendiri dengan jawaban yang telah dinanti.
"Xander, kenapa diam saja? Apa tawaran itu sudah tak berlaku lagi untukku? Apakah kamu sudah tak mau rujuk denganku?" cecar Tania. Hatinya tidak karuan melihat sikap Xander yang tak menunjukan respon apa pun. Pikiran negatif muncul dalam benak itu. Berpikir, apakah memang Xander sudah tak mencintainya lagi hingga tak bersedia merajut kembali kisah asmara di antara mereka.
Xander menarik napas panjang dan menahan gemuruh di dalam dada. Tidak mau sang wanita berpikiran yang tidak-tidak dan membuat malam indah berakhir dengan kesalahpahaman, ia membuka mulut dan bersiap mengucapkan sesuatu.
"Nia, sebenarnya aku ...."
__ADS_1
...***...