Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Jangan Memintaku untuk Kembali!


__ADS_3

Xander berjalan bersisian dengan Tania menuju pintu masuk perusahaan. Di café tadi, lelaki itu sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya atas kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu. Sebagai manusia biasa, tentu saja Tania memaafkan semua kesalahan mantan suaminya itu. Walaupun rasa sakit itu masih ada, tapi ia mencoba berlapang dada dan menerima semua kejadian yang sudah menimpanya.


"Sekali lagi terima kasih karena udah mau maafin aku. Aku enggak tahu akan seperti apa hidupku jika seandainya kamu enggak bersedia memaafkanku." Untuk kesekian kali Xander mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada Tania. Lelaki itu amat sangat menyesal sudah termakan hasutan Miranda.


"Enggak ada alasan bagiku untuk tidak memaafkan kamu. Toh kita semua tahu bahwa saat itu dirimu sedang dikuasai amarah hingga tak bisa berpikir jernih." Tania menjawab tanpa menoleh ke arah Xander, dia hanya fokus pada jalanan di depan sana. Mengabaikan tatapan penuh keheranan saat tanpa sengaja berpapasan dengan beberapa karyawan perusahaan.


"Lalu, Arsenio? Apa kamu bersedia membantuku memberi pengertian pada anak kita bahwa itu semua hanya kesalahpahaman aja?"


Kali ini Tania menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Xander. "Maksudmu?" Wanita itu jadi hilang konsentrasi saat mendengar kata 'anak kita'. Entahlah, rasanya sedikit aneh, tapi juga membuat debaran halus di dada wanita itu kembali muncul.


Xander tersenyum tipis bahkan nyaris tak terlihat. Ekspresi kebingungan yang ditunjukan Tania terlihat sangat menggemaskan.


"Ehm ... apa kamu enggak berniat memberi pengertian pada Arsen bahwa yang terjadi menimpa kita di masa lalu hanya salah paham aja. Aku salah menilaimu, menuduhmu yang enggak-enggak padahal saat itu kamu dan Abraham dijebak oleh Mamaku."


Tania mengalihkan tatapan ke arah jalanan besar di depan sana. Lalu lintas di siang hari cukup padat merayap, bertepatan dengan usainya jam istirahat dan para pekerja kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


"Akan aku usahakan. Namun, butuh waktu lama untuk membuat Arsen mengerti kenapa Miranda sampai tega menghancurkan pernikahan kita. Walaupun dia cerdas dan mempunyai kepintaran di atas rata-rata, tapi usainya masih terlalu dini untuk bisa memahami permasalahan yang menimpa orang dewasa. Aku enggak mau psikis Arsen terganggu karena masalah yang terjadi di antara kita," tutur Tania.

__ADS_1


Tampak Xander manggut-manggut. "Ya, aku mengerti." Lantas, mantan pasangan suami istri itu kembali melanjutkan langkahnya. Berjalan perlahan dalam keheningan.


Gedung pencakar langit di depan sana tampak menjulang tinggi ke atas awang bahkan bagian puncaknya seolah tak tampak, tertutupi awan putih. Tania dan Xander berhenti tepat di samping pintu otomatis.


"Terima kasih udah traktir aku," ucap Tania sebelum masuk ke dalam gedung.


"Jangan sungkan! Toh hanya secangkir kopi dan satu piring cake enggak akan membuatku rugi." Terkekeh pelan usai mengucapkan kalimat tersebut. Rasanya garing sekali berkata demikian di hadapan mantan terindah.


Tania mencibir dan memutar bola matanya. Dari Jonathan ia tahu bahwa Xander sedang diberi hukuman akibat ketidakmampuannya menghalau serangan hacker yang tak lain hacker tersebut adalah Arsenio, lalu sekarang lelaki itu berkata tidak akan rugi apabila mentraktirkan secangkir kopi. Bagaimana bisa lelaki itu begitu santai berucap di saat dirinya sedang tertimpa musibah. Benar-benar aneh!


"Ya udah, aku masuk dulu. Selamat siang." Tanpa membuang waktu terlalu lama, Tania mengayunkan kakinya yang jenjang memasuki gedung perkantoran. Akan tetapi, suara bariton Xander menghentikan langkahnya.


Hati Tania mencelos. Gemuruh petir di dalam diri wanita itu saling bersahutan. Bagaimana tidak, secara terang-terangan Xander meminta dirinya menerima kembali lelaki itu, memulai hubungan mereka dari nol. Wanita itu belum siap memulai sebuah hubangan baru dengan lelaki manapun.


Menarik napas dalam, menahannya sebentar, kemudian mengembuskan secara perlahan. Membalikan badan hingga kini posisi mereka saling berhadapan. "Aku memang udah memaafkan kamu. Namun, untuk merajut kembali kisah antara kita, aku enggak bisa. Terlalu banyak luka yang kamu torehkan di hatiku, Xander, hingga aku sendiri enggak tahu kapan akan sembuh."


"Aku masih merasa nyaman dengan statusku yang sekarang, menjadi single parents dengan satu orang anak. Meskipun membesarkan Arsen seorang diri enggak mudah, tapi aku menikmati semua proses itu. Dengan kesendirian ini mengajarkan aku bagaimana menjadi perempuan kuat di saat banyaknya ujian yang datang melanda," sambung Tania mengatakan alasannya kenapa enggan menerima Xander kembali.

__ADS_1


"Harus dengan cara apa aku mengobati luka di hatimu, Tania? Haruskah aku bersujud di kakimu, menangkup kedua tangan agar kamu berbelas kasih padaku?" Sepasang mata hazel berkaca-kaca. Semua perkataan Tania bagaikan sebuah tamparan keras bagi Xander. Dari sorot mata mantan istrinya, ia dapat melihat bagaimana penderitaan dan perjuangan Tania saat membesarkan Arsenio.


Menggeleng kepala cepat. "Enggak perlu bersujud di hadapanku, Xander, karena aku bukanlah Tuhan yang wajib kamu sembah. Aku cuma manusia biasa sama sepertimu." Tania menjeda sejenak kalimatnya, menahan sesak di dada. Andai saja ia tidak terluka, sudah pasti saat ini berhambur dan memeluk tubuh kekar Xander dengan sangat erat. Akan tetapi, ia tidak dapat melakukan itu sebab luka itu masih belum kering hingga sekarang. "Cukup jaga jarak denganku dan jangan pernah memintaku untuk kembali padamu. Urusan Arsenio, nanti aku bicara baik-baik dengannya."


Mendapat penolakan merupakan pukulan besar bagi Xander. Merutuki kebodohannya karena melepaskan permat berharga yang tak ternilai harganya.


"Apakah aku memang enggak akan pernah bisa hidup bersama dengan orang yang kukasihi? Apakah selamanya aku hidup seorang diri tanpa ada cinta dan kasih sayang dari seseorang yang kucintai?" Tanpa terasa buliran air mata meleleh di antar sudut matanya. Sungguh tidak menduga jika kehidupan asmaranya tidak seberuntung karirnya di dunia bisnis.


Mendongakan kepala menatap langit yang diselimuti awan kelabu. "Tuhan, berikan kesempatan kepadaku untuk memperbaiki semuanya. Aku berjanji enggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Xander berharap banyak do'anya kali ini dikabulkan oleh Sang Pencipta. Walaupun dia sudah lama jauh dari agama semenjak perceraiannya dengan Tania, tapi jauh di lubuk hati yang terdalam lelaki itu berharap banyak semoga Tuhan mendengar ucapannya.


Tangan kekar dan berotot mengusut buliran air mata yang sempat membasahi wajah. "Sebaiknya aku pulang sekarang dan mencari cara bagaimana bisa membujuk Arsenio agar bersedia memaafkanku." Lelaki itu membalikan badan dan berjalan menuju parkiran mobil.


Di saat bersamaan, Tania pun membalikan badan dan mengarahkan pada sosok lelaki yang masih setia merajai hatinya hingga detik ini. "Maafkan aku, Xander. Bukannya aku enggak mencintaimu, hanya aja hati ini belum siap menerimamu kembali. Aku belum siap menjalin kasih denganmu di saat Mamamu aja enggak bersedia menerimaku sebagai bagian dari keluarga kalian."


"Aku enggak mau mengulang kesalahan sama karena menikahi seseorang yang tak mendapat restu dari orang tuanya."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2