
Tepat pukul tujuh waktu setempat, satu unit mobil taxi berhenti di depan sebuah restoran Prancis yang lokasinya sekitar lima ratus meter dari menara Eiffel. Xander mengeluarkan uang dari dalam dompet, kemudian memberikannya kepada sopir taxi tersebut.
"Terima kasih banyak, Tuan. Semoga malammu menyenangkan," ucap sopir taxi menggunakan bahasa Perancis. Sepasang matanya berbinar bahagia saat melihat Xander memberinya beberapa lembar uang Euro dalam nominal yang cukup banyak.
"Kembali kasih," balas Xander menggunakan bahasa Prancis. Selain fasih berbahasa Inggria, ternyata ayah satu orang anak mahir berbahasa Prancis jadi jangan heran jika ia tidak terlihat kesusahan sedikit pun kala harus berinteraksi dengan penduduk setempat.
Xander turun dari mobil dan memutari kendaraan roda empat tersebut guna membukakan pintu untuk sang istri. Ia menuntun Tania turun dari mobil dengan sangat hati-hati, jangan sampai istrinya terjatuh apalagi terluka. Pria itu tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi hal buruk menimpa istri tercinta.
"Hati-hati, Sayang. Tiga langkah dari posisimu saat ini ada lima undakan anak tangga di depan sana. Jadi berhati-hatilah dan ikuti instruksiku dengan baik." Xander memberi penjelasan pada Tania dengan sangat detail tanpa melepaskan kedua tangan dari pundak sang istri. Tania yang saat itu tak dapat melihat apa pun karena sepasang matanya tertutup kain warna hitam hanya mengangguk patuh, memasang telinga lebar dan mengikuti apa yang diperintahkan suami tercinta.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya. Silakan, meja yang telah Anda pesan sudah kami siapkan." Seorang pria berseragam pelayan membungkung hormat kepada sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu. Ia berjalan di depan Tania dan Xander, menunjukan jalan ke mana mereka harus melangkah.
Tania dan Xander melangkah masuk ke dalam restoran. Denting piano dari sang pianis menjadi sambutan pertama bagi mereka. Alunan instrumen lagu Perfect milik Ed Sheeran menggema di segala penjuru ruangan membuat suasana temaran tampak begitu syahdu.
Menarik kursi hingga terdengar suara derit di tengah denting piano dari sang pianis. Dengan penuh perhatian Xander membantu Tania duduk di kursi berbalut kain satin berwarna putih. Di bagian tengahnya terdapat sebuah pita warna merah jambu, warna kesukaan istri tercinta.
Xander berdiri di belakang Tania dan berkata, "Akan kubuka penutup mata ini sekarang. Namun, kamu belum boleh membuka matamu sebelum kuberi perintah. Jangan coba-coba mengintipnya! Jika kamu coba melanggar apa yang kuperintahkan maka bersiaplah menerima hukumannya."
Tania bergidik mendengar ucapan bernada ancaman dari Xander. Sudah dapat menduga apa hukumannya kalau sampai ia melanggar perintah sang suami.
__ADS_1
Menarik napas berat lalu Tania menjawab, "Iya, aku janji tidak akan membuka mataku sampai kamu sendiri yang memerintahkanku untuk membukanya."
Xander tersenyum puas karena Tania mematuhinya. Tangan kekar itu mulai membuka ikatan penutup mata wanitanya. Perlahan, kain warna hitam yang sempat menutupi sepasang netra istri tercinta mulai terlepas hingga memperlihatkan bulu mata lentik si pemilik mata sipit.
"Dalam hitungan ketiga, kamu boleh membuka matamu. Satu ... dua ... dan ... tiga ...."
Lantas Tania perlahan menggerakkan bulu matanya yang lentik, kelopak matanya perlahan terbuka. Pertama kali membuka mata, ia melihat ruangan tempatnya saat ini dalam keadaan temaram, tidak ada lampu yang menyala hanya mengandalkan cahaya lilin yang diletakkan di atas meja dan yang ditata rapi membentuk sebuah hati mengelilingi kursi tempat mereka duduk saat ini. Kelopak mawar merah segar disusun rapi di pinggiran deretan lilin tersebut membuat ruangan tersebut menguarkan aroma segar khas bunga mawar.
Suara Tania tercekat di tenggorokan. Telapak tangan wanita itu menutup mulutnya. Ia tak dapat berkata-kata, kejutan ini sungguh sangat romantis.
"Xander ... ini sangat indah. Aku-" Tania tak mampu melajutkan kalimatnya. Matanya yang sipit mulai berkaca-kaca, ada perasaan haru dibalut rasa bahagia membuncah dalam diri wanita itu. Bagaimana tidak, malam ini Xander menyiapkan candle light dinner khusus untuk mereka berdua.
Tania tersenyum, matanya tidak mau lepas dari pemandangan indah di depan sana. "Suka, sangat suka sekali. Terima kasih, Sayang, sudah menyiapkan makan malam istimewa untuk malam ini. Aku sangat bahagia sekali." Tania benar-benar terharu sampai tak sadar meneteskan air mata bahagia meluncur di antara kedua pipinya yang tirus.
Xander meraih jemari tangan Tania, meremasnya dengan lembut. "Kamu memang pantas mendapatkan semua ini, Nia. Dulu saat masih pacaran sampai kita menikah, aku jarang sekali menyiapkan kejutan seperti ini. Saat Tuhan memberiku kesempatan kedua maka aku berjanji pada diriku sendiri akan mencoba membahagiakanmu dan putera kita, Arsenio."
"Bentuk usahaku untuk membahagiakanmu dengan cara ini, menyiapkan kejutan istimewa untuk wanita teristimewa dalam hidupku. Tania, sayangku, terima kasih sudah mau menerimaku kembali. Aku ... mencintaimu, Nia. Sangat ... sangat mencintaimu."
"Aku pun sangat mencintaimu, Xander. Dari dulu, sekarang dan di masa depan, cuma kamu yang kucintai." Lalu Tania memberanikan diri mengecup bibir suaminya. Tanpa rasa malu sedikit pun, ia ungkapkan perasaan cintanya dengan cara berbeda. Dan itu membuat Xander semakin bahagia karena Tania-nya menjadi lebih agresif di pernikahan mereka yang kedua.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang pelayan mendorong troli makanan memasuki ruangan yang sepi dan sunyi. Dua buah piring berisi smoked salmon canapes dan vol au vent berada di atas troli tersebut. Kedua makanan tersebut merupakan makanan pembuka khas Prancis yang telah disiapkan khusus oleh para pelayan restoran.
Pasangan pengantin baru saling bertatapan, melempar senyum satu sama lain, menahan gejolak di dalam dada. Lalu meraih gelas yang ada di atas meja makan, kemudian menyatukan kedua benda tersebut hingga terdengar bunyi nyaring. Berhubung mereka tak mengkonsumsi alkohol maka gelas berbentuk panjang itu diisi air putih yang jauh lebih menyehatkan bagi tubuh manusia.
Xander meraih sendok dan menyuapkan vol au vent ke dalam mulut. "Oh ya, tadi sore Papa meneleponku untuk urusan pekerjaan. Sebelum mengakhiri percakapan, dia menitipkan salam untukmu. Dia juga memberitahuku agar kamu rajin mengkonsumsi vitamin, jangan sampai saat berbulan madu kamu jatuh sakit."
Wajah Tania yang semula ceria berubah murung. Menghela napas panjang seolah tengah melepas beban berat di pundak. "Omong-omong soal Papa, aku jadi teringat anak kita. Kira-kira sedang apa dia sekarang? Apa dia sudah makan? Apa Surti merawat puteraku dengan baik?" Tampak raut kecemasan terpancar di wajahnya yang cantik jelita.
Ini merupakan perpisahan sementara kedua bagian Tania dan Arsenio. Pertama saat Tania ditugaskan ke Kalimantan guna mengurusi masalah proyek di sana dan yang kedua saat ini, kala dirinya pergi berbulan madu bersama suaminya. Berkeliling beberapa negara, menikmati kebersamaannya dengan lelaki yang amat ia cintai.
"Aku yakin, Surti merawat Arsen dengan baik. Kamu tidak perlu mencemaskan keadaan putera kita karena ada Mamaku yang turut mengawasi jagoanku." Xander kembali meraih jemari tangan Tania, mengusap punggung tangan itu dengan lembut.
"Kita memang tidak seharusnya berbulan madu selama satu bulan, Xander. Satu atau dua minggu, kurasa sudah cukup bagi kita bersenang-senang."
Xander mendesah pelan. Entah sudah berapa kali mereka berdebat untuk masalah yang sama. "Sayang, bukankah kita pernah membahasnya lalu kenapa sekarang kamu mengungkitnya lagi, hem? Keputusan bulan madu tidak sepenuhnya kesalahanku, tetapi ada andil dari kedua orang tuaku serta Tante Amanda dan Cleo di dalamnya jadi kamu tidak bisa menyalahkanku begitu saja, loh."
"Lagi pula, tidak ada salahnya jika kita pergi berbulan madu selama satu bulan lamanya. Anggap saja pengganti karena dulu kita pernah berpisah. Lalu untuk urusan Arsen, serahkan saja kepada Surti dan Mama, mereka pasti merawat serta menjaga buah cinta kita dengan baik. Aku yakin, putera kita akan baik-baik saja selama berada dalam pengawasan Mamaku."
Tania mengangguk. Ia tak pernah meragukan kemampuan Miranda dalam merawat anak kecil. Buktinya Xander tumbuh menjadi laki-laki baik, pengertian dan penuh tanggung jawab. Itu semua merupakan hasil didikan seorang Miranda Vincent Pramono.
__ADS_1
...***...