Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Mendengar keributan yang terjadi di antara adik dan mantan calon besannya, Nathalie menjauh dari kerumunan tamu undangan dan berjalan mendekati sang suami yang sedang berbincang hangat dengan klien penting yang sengaja diundang dalam pesta wedding anniversary.


Berdiri di sebelah sang suami dan berbisik, "Pa, kamu mengundang mereka juga?" Martin menganggukan kepala sebagai jawaban. "Kenapa kamu tidak berdiskusi terlebih dulu denganku?" protes Nathalia pada sang suami.


"Kamu 'kan tahu sendiri kalau aku tuh sangat membenci Miranda. Apa kamu lupa kejadian beberapa bulan lalu? Gara-gara wanita sialan itu putri kita menjadi bahan cemoohan semua orang karena gagal bertunangan dengan Xander. Lalu sekarang kenapa kamu seolah sengaja membawa Miranda di hadapanku padahal kamu tahu bagaimana aku membenci wanita itu. Apa kamu sengaja melakukan itu semua, Pa?" ucap Nathalia tanpa menjeda kalimatnya. Sungguh dia teramat kesal akan sikap Martin yang seolah tak peduli dengan pendapatnya hingga mengambil keputusan secara sepihak.


Martin tidak langsung menjawab pertanyaan sang istri. Pria paruh baya itu justru menarik tangan Nathalia menjauhi kerumunan orang. "Jangan pernah ungkin lagi kejadian memalukan itu, Ma, aku tidak suka! Lagi pula kenapa kamu harus membenci Miranda, bukankah anakmu sendiri yang bersalah? Seharusnya kamu tegur dan nasihati dia agar merubah sikapnya bukan malah menyalahkan orang lain."


"Kamu terlalu memanjakannya hingga dia berubah menjadi gadis manja dan selalu membuat onar. Sebagai ibu, kamu sudah gagal mendidiknya, Ma. Dia pernah mencoreng nama baik keluarga dan jangan sampai melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak mau usaha yang kubangun selama ini hancur karena anak bodoh itu. Paham?"


"Oh ya, untuk urusan Miranda dan keluarganya, aku memang yang mengundang mereka, tapi itu semua atas desakan adikmu. Jadi kalau mau protes, temui Monica dan sampaikan uneg-unegmu kepadanya. Aku tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini karena posisiku hanya sebagai pelaksana saja."


Martin merapikan ujung lengan jas yang membalut tubuhnya dan kembali berkata, "Aku masih harus menyapa rekan bisnisku jadi jangan menggangguku lagi untuk urusan sepele. Urus saja urusan masing-masing dan kita baru bertemu lagi saat pesta dimulai."


Nathalia menatap kepergian Martin dengan tatapan sendu. Ada perasaan kecewa menyelimuti diri saat melihat betapa dinginnya sikap sang suami. Di mata suaminya itu urusan pekerjaan lebih penting dari segalanya.


Seorang pria berpakaian rapi maju ke atas panggung dengan membawa sebuah mic di tangan kanan. Malam ini dia bertugas sebagai MC yang mengatur kelangsungan acara selama pesta berlangsung.

__ADS_1


"Para tamu undangan, saya mewakili Tuan Martin dan Nyonya Nathalia ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua karena bersedia hadir pada acara pesta ulang tahun pernikahan yang ke 26 tahun. Tak terasa sudah seperempat abad lebih sepasang suami istri di depan kita ini menghabiskan waktu bersama, melewati lika liku kehidupan rumah tangga dengan terus bergandengan tangan. Semoga keharmonisan mereka kekal abadi selamanya." MV itu berucap dengan suara lantang dan tegas.


Suara tepuk tangan riuh terdengar kala mendengar ucapan MC tersebut. Mereka turut berbahagia atas perayaan pernikahan yang digelar secara meriah di salah satu hotel terkenal di kawasan kota Jakarta.


Pesta masih berlangsung. Kali ini pasangan yang tengah berbahagia diminta memotongan kue ulang tahun setinggi lima tingkat dengan bagian puncak terdapat lambang huruf M dan N yang merupakan singkatan nama Martin dan Nathalia. Kedua orang tua Lidya tampak begitu bahagia karena tak menduga akan mendapat kejutan indah dari putri mereka.


Nathalia mencium pipi Lidya dengan penuh cinta. "Thank you, Sayang. Mama dibuat speachless oleh kado yang kamu berikan ini."


Lidya tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. "You're welcome. Aku bahagia kalau Papa dan Mama bahagia."


Jonathan mengepalkan telapak tangan di samping badan. Rahang menonjol keluar, menahan emosi yang hampir saja meledak. "Aku tidak yakin apakah kamu masih bisa tersenyum saat semua kejahatanmu terbongkar di depan semua orang." Merasa muak, lantas Jonathan melirik ke samping kemudian menganggukan kepala pada seseorang di ujung sana.


Suasana berubah ricuh, terdengar bisikan-bisikan halus bersumber dari para tamu undangan. Acara pesta ulang tahun seketika menjadi tempat bergosip bagi ibu-ibu yang haus akan sebuah berita.


"Pa, apa kamu mengundang polisi datang ke sini?" bisik Nathalia di telinga sang suami.


"Ngaco kamu. Mana mungkin aku mengundang mereka. Aku yakin ini ada kesalahan teknis hingga penjaga kecolongan membiarkan kedua polisi itu hadir di antara para tamu undangan yang datang."

__ADS_1


'Sial, mau apa kedua polisi itu datang ke sini? Jangan bilang mereka mau menangkap gue.' Menggeleng kepala cepat, mengenyahkan pikiran negatif yang sempat hinggap di kepala. 'Enggak mungkin. Gue udah pastiin enggak ada satu orang pun tahu kalau kecelakaan itu merupakan perbuatan gue.'


Tangan kanan terangkat ke udara, kedua polisi berseragam coklat memberi hormat kepada Martin, Nathalia dan Lidya. "Selamat malam. Maaf mengganggu acara Bapak dan Ibu. Kami datang ke sini membawa surat penangkapan atas nama Nona Lidya. Menurut bukti yang ada, Nona Lidya terduga sebagai pelaku tabrak lari atas korban bernama Nyonya Miranda Vincent Pramono beberapa hari yang lalu."


Sontak semua orang membelalakan mata sempurna mendengar penuturan salah satu petugas kepolisian. Begitu pun dengan Lidya. Tubuh gadis itu tiba-tiba gemetar dengan wajah memucat.


Dalam benak Lidya berkata, bagaimana polisi bisa tahu bahwa dialah dalang di balik kecelakaan itu. Padahal anak buahnya telah memastikan bahwa saat kecelakaan berlangsung tidak ada satu saksi pun melihat kejadian itu bahkan CCTV di sekitar dalam keadaan mati lantas kenapa sekarang dua polisi itu membawa surat penangkapan untuknya?


"Bapak pasti salah. Saya tidak terlibat dalam kecelakaan itu," sangkal Lidya gelagapan.


"Untuk itu Nona bisa jelaskan nanti di kantor. Mari, ikut kami!"


Salah seorang polisi maju ke depan, berniat memasang borgol di tangan Lidya. Namun, tubuh Nathalia telah lebih dulu berdiri di depan Lidya. Wanita paruh baya itu menjadi tameng bagi sang putri.


Kedua tangan Nathalia terbentang di samping kanan dan kiri. "Kalian tidak bisa menangkap putriku. Lidya anakku tidak bersalah. Dia anak baik-baik tidak mungkin tega melakukan perbuatan itu."


...***...

__ADS_1



__ADS_2