
Adegan dilakukan oleh pasangan suami istri. Jadi, bagi yang jomlo dan belum cukup umur, tolong diskip!
"Go faster, Baby! Yeah!" teriak Xander bersemangat kala melihat tubuh sintal Tania meliuk-liuk di atas tubuhnya.
Matanya yang hazel tak berkedip sedikit pun dari dua benda kencal yang tengah bergerak ke sana kemari. Bagi pria itu pemandangan di depan sana begitu menakjubkan karena dalam posisi ini ia dapat melihat jelas ekspresi wajah dan keindahan tubuh bagian depan sang istri tanpa penghalang apa pun. Apalagi saat Tania mengerang, merasakan gelombang badai dahsyat datang menerjang, Xander tertawa lepas karena berhasil membuat wanitanya merasakan lagi kenikmatan surga dunia pasca perceraian mereka.
"Xander, Sayang ... aku ...."
"Yeah, Sayang. Aku di sini."
Suara Tania mendesah-desah membuat Xander semangat bersemangat. Ia menyentuh kedua pinggul Tania lalu membantu wanitanya bergerak turun dan naik. Suara erangan saling bersahutan semakin menambah erotisnya suasana sore hari menjelang petang.
"Aah, aah!" rintih Tania nikmat setiap lesakan dari inti tubuh Xander yang memenuhi dinding kewanitaan dan terasa sampai ke bagian paling ujung.
"Hmm!" Xander pun tak bisa menahan diri untuk tidak mendesah bahkan ia sampai turut menghentakkan inti tubuhnya dengan kencang. Tatkala tubuh Tania turun ke bawah maka Xander menyambutnya dengan hentakan kencang. Keduanya bekerja sama, bahu membahu mencapai puncak kenikmatan yang ingin segera direguk bersama.
Pinggul Tania meliuk lebih cepat, bergerak lebih banyak. Tatapan mata berubah sayu petanda bahwa sebentar lagi mencapai *******. Xander pun turut merasa ada tekanan berlebih yang mengaliri seluruh tubuh dan berpusat di simbol kelelakiannya. Seakan semua cairan di dalam tubuh mengarah pada satu titik tersebut.
'No, no, no! Aku tak boleh keluar dalam posisi ini bisa gagal memberi adik bayi untuk Arsenio.' Xander berusaha keras menahan gelombang tersebut hingga suara lenguhan teramat panjang menggema ke penjuru ruangan.
__ADS_1
"Aah!" Pada hentakan ketiga tubuh Tania lemas, beruntungnya Xander sigap menangkap tubuh wanitanya. Xander dekap tubuh sintal yang tidak terbungkus apa pun dengan erat.
"Nia, sekarang giliranku untuk *******." Usai mengucap kalimat tersebut Xander membalikan tubuh Tania tanpa melepaskan simbol kelelakiannya dari tempat terhangat milik istrinya tercinta. Lalu ia mulai menghentakkan pinggulnya dengan tempo cepat.
Tania yang sudah kelelahan akibat kelakuan nakal Xander hanya bisa pasrah membiarkan suaminya melakukan apa pun sesuai keinginan pria itu. Biarlah Xander memimpin permainan kali ini toh ia sudah sangat letih meliukkan tubuhnya bak cacing kepanasan dan kini saatnya beristirahat, mengembalikan tenaga yang sempat terkuras habis akibat permainan panas mereka.
"Aah, Nia, I'm coming, Baby. I'm coming!" racau Xander menggerakan pinggulnya maju dan mundur berkejaran dengan gelombang dahsyat yang meledak di inti tubuhnya. "Tania, aaah!"
Rintih kenikmatan berakhir dengan pekik kepuasan bersumber dari sepasang pengantin baru. Teriakan terakhir Xander menandakan bahwa pria itu telah mencapai puncak kenikmatan yang sedari tadi ditahannya.
"I love you, Nia dan terima masih sudah memberi servis terbaik untukku. Sore ini kamu tampak begitu menggairahkan mengenakan lingerie yang menyerupai kelinci. Kamu ... terlihat imut dan menggemaskan." Terkekeh pelan seraya menyapukan ujung hidungnya di ujung hidung Tania.
Ini merupakan pengalaman pertama Xander bercinta dengan Tania yang sore ini menjelma menjadi kelinci nakal. Mengenakan lingerie one piece warna merah jambu lengkap dengan bando kelinci diletakkan di bagian kepala, ibunda Arsenio terlihat lebih agresif dibanding saat pernikahan pertamanya dengan Xander. Tania berinisiatif memulai permainan dengan cara berbeda.
Xander merebahkan tubuhnya di samping Tania, kemudian memeluk istrinya. Ia pandangi wajah penuh peluh itu dengan lekat. Sisa percintaan mereka masih membekas di sekujur tubuh sang wanita.
"Kenapa malu? Justru seharusnya kamu bahagia karena berhasil memuaskan aku. Sekian lama berpisah rupanya kamu merubah jadi Tania si Ratu Penggoda."
Tania mencubit perut Xander hingga pria itu mengaduh kesakitan. "Ish, kamu malah sengaja menggodaku. Dasar nakal." Setelah itu membalikan badan, memunggungi sang suami demi menyembunyikan rona merah muda di kedua pipi.
__ADS_1
Sikap manja dan kekanak-kanakan membuat Xander gemas dibuatnya. Tak mau membuat suasana romantis bulan madu mereka berantakan karena masalah sepele, ia menaruh sebelah tangan kanan di bawah pinggang istrinya lalu memeluk Tania dari arah belakang.
"Sudah, jangan marah. Tadi aku hanya bercanda. Please, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan menggodamu lagi," bujuk Xander sambil memberi sedikit tiupan di telinga Tania yang mana perbuatan pria itu membuat bulu kudunya berdiri seketika.
Perlahan membalikan badan. Menatap mata hazel indah dan jernih yang diwariskan kepada sang buah hati. Ia rangkum wajah rupawan di hadapannya, mengusap lembut bulu-bulu halus di rahang Xander.
Akan tetapi, kegiatan mereka harus terhenti tatkala dering ponsel Xander berbunyi. Xander cepat beringsut mengambil benda pipih di atas nakas lalu menggeser pintu sliding terbuat dari kaca. Pria itu berdiri di balkon dengan view menara Eiffel, Paris, Perancis.
"Ya, Pa, ada apa?" tanya Xander. Rupanya yang menelepon adalah Jonathan, sang papa.
"Xander, apa papa mengganggumu, Nak? Papa ingin membicarakan soal Abraham. Apa papa boleh meminta waktumu sebentar?" ucap Jonathan sambil menatap layar monitor miliknya. Pria itu masih memeriksa laporan pekerjaan lelang proyek yang akan diadakan satu bulan mendatang.
Raut wajah Xander berubah kala mendengar nama adik sepupunya diucap. Sejujurnya ia enggan sekali membicarakan Abraham di saat tengah menikmati honeymoon bersama sang istri. Namun, ia tak sampai hati meminta Jonathan mengakhiri percakapan mereka. Ia masih punya hati nurani untuk tidak melukai perasaan kedua orang tuanya.
"Tidak, kok, Pa. Kebetulan aku sedang bersantai sambil menatap keindahan menara Eiffel dari balkom kamar hotel. Katakan saja, memangnya apa yang terjadi dengan adik sepupuku itu." Lantas Jonathan mulai menceritakan rencananya meminta Abraham kembali bekerja di V Pramono Group.
"Begitu ceritanya. Bagaimana, apa kamu tidak keberatan bekerja sama lagi dengan Abraham? Papa pikir daripada dia bekerja untuk perusahaan lain lebih baik kembali ke V Pramono, membantumu mengerjakan beberapa tender perusahaan."
"Kamu baru saja menikah dan tanggung jawabmu semakin bertambah. Jika dulu fokusmu hanya perusahaan, kini ada istri dan anakmu yang butuh perhatian. Papa tidak mau Tania dan Arsen kekurangan kasih sayang darimu karena kamu terlalu sibuk bekerja. Oleh karena itu, papa dan Mama sepakat meminta Abraham kembali bekerja dengan perusahaan kita. Apa ... kamu setuju dengan keputusan kami?" tanya Jonathan hati-hati.
__ADS_1
Perkara Abraham memang sangat sensitif untuk dibicarakan. Karena hal itulah Jonathan mencari kata yang tepat untuk disampaikan kepada Xander. Jangan sampai percakapan ini melukai perasaan sang putera tercinta.
...***...