Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Pembagian Saham Perusahaan


__ADS_3

Di sebuah rumah megah nan mewah layaknya istana di negeri dongeng, seorang pria paruh baya berdiri di dekat jendela. Ia memperhatikan burung gereja yang kebetulan singgah di halaman belakang rumahnya. Pandangan mata lelaki itu kosong seolah tengah memikirkan sesuatu.


"Tuan Jonathan, bolehkah saya masuk?" Seorang pria muda berpakaian formal mengetuk daun pintu yang tidak tertutup rapat. Ia bergegas menemui Jonathan usai mendapat perintah dari pemilik perusahaan V Pramono Group.


Jonathan sedikit terkejut saat mendengar suara bariton asisten Xander. Namun, bisa dengan mudah menguasai diri. "Duduklah!" titahnya pada Ibrahim. Tanpa membuang waktu lelaki muda itu duduk di seberang kursi kebanggaannya Jonathan.


"Apa kamu tahu maksud dan tujuanku memintamu datang ke sini?" Pertanyaan Jonathan hanya dijawab gelengan kepala oleh asisten Xander. Ia tidak mengerti kenapa big boss, (sebutan para karyawan perusahaan pada Jonathan) memintanya datang ke kediaman Vincent Pramono.


Pria tampan berperawakan tinggi menghela napas kasar sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku memintamu datang ke sini untuk mengurus surat-surat pelimpahan sebagian sahamku atas nama Arsenio. Dia adalah cucuku dan secara hukum berhak menerima beberapa persen saham perusahaan. Walaupun pernikahan Tania dan puteraku yang bodoh sudah berakhir, tapi bocah genius itu berhak atas sebagian saham V Pramono Group."


"Saya tahu Tania adalah perempuan kuat, tegar dan mandiri, mampu memenuhi kebutuhan Arsenio. Namun, sebagai seorang Kakek, aku tidak bisa membiarkan masa depan cucuku suram karena keterbatasan biaya sekolah. Kamu tahu sendiri zaman sekarang apa-apa serba mahal. Apalagi tinggal di kota besar seperti Jakarta. Jadi, saya ingin mengantisipasi itu semua sebelum terlambat."


"Terlebih dalam diri Arsenio mengalir darahku juga. Itu artinya aku berhak memberi kehidupan yang layak padaku cucuku sendiri." Jonathan mendongakan kepala, menatap lekat lawan bicaranya di seberang. "Menurutmu, bagaimana? Apa keputusanku tepat?"


Ibrahim terdiam beberapa saat. Memilah dan memilih kalimat tepat untuk disampaikan pada Jonathan. Jangan sampai lidahnya salah berucap dan mengatakan suatu hal yang bertentangan dengan prinsip Jonathan. Jika itu sampai terjadi bukan hanya dirinya saja menjadi sasaran kemarahan sang tuan besar melainkan nasib ibu dan adik perempuannya pun dipertaruhkan.


Suara tercekat seakan bongkahan kaktus bersarang di tenggorokan. Lantas, Ibrahim berdehem guna menyingkirkan penghalang tersebut. "Menurut saya itu ide yang bagus. Lagi pula, kelak Tuan muda Arsenio-lah yang akan mewarisi perusahaan setelah Anda dan Tuan Xander lengser. Jadi, tidak masalah jika seandainya Tuan memberi sebagian saham perusahaan kepada Tuan muda."


Tampak Jonathan manggut-manggut. Merasa lega sebab keputusannya didukung oleh Ibrahim. Meskipun dia mempunyai asisten pribadi yang merangkap sopirnya, tapi entah kenapa pria paruh baya itu lebih nyaman membahas urusan pekerjaan dengan asisten pribadi sang anak. Mungkin karena dulu mendiang ayah Ibrahim merupakan orang kepercayaannya hingga dia tidak merasa risih ataupun canggung membahas apa pun dengan anak muda itu.

__ADS_1


"Baiklah! Tolong kamu urusi semua keperluannya, pastikan tidak ada kesalahan sedikit pun. Saya tidak mau saat penandatanganan dilangsungkan terjadi keributan yang menyebabkan masalah di kemudian hari," ujar Jonathan tegas. "Dan satu lagi, rahasiakan semua ini dari istriku. Jangan sampai dia mengetahui berita ini."


"Baik, Tuan. Saya pastikan Nyonya Miranda tidak mengetahui masalah ini," ucap Ibrahim mantap. Lelaki itu akan menjaga rahasia ini hingga akhir hayat. Mengunci rapat mulutnya dan tidak memberitahu siapa pun.


Lelaki itu hendak beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan ruangan tersebut. Namun, ia teringat sesuatu yang membuatnya duduk kembali di kursi. "Maaf, Tuan. Berapa persen saham yang ingin Anda berikan kepada Tuan Muda Arsen?"


Terlalu fokus berbicara dengan Jonathan, Ibrahim nyaris saja melupakan hal penting yang wajib ditanyakan sebelum menjalankan perintah dari atasannya.


Tanpa berpikir lama, Jonathan menjawab, "Berikan 15% sahamku untuknya."


Pria berpakaian formal yang usianya tidak terpaut jauh dengan Xander mengernyitkan alis. "15% saja, Tuan?" tanyanya sedikit ragu.


"Kenapa? Terlalu sedikit?"


Lelaki itu memperhatikan raut wajah Jonathan. "Maaf, jika saya lancang. Menurut saya saham yang Tuan berikan terlalu sedikit jika dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan Tuan muda Arsen terhadap perusahaan. Apa Anda ingat bagaimana perjuangan Tuan muda saat membasmi Dark Davil?" Jonathan menganggukan kepala sebagai jawabannya. "Coba Anda bayangkan berapa banyak kerugian yang diterima perusahaan jika seandainya saat itu data V Pramono Group berhasil diretas? Pasti sangat besar sekali dan bahkan dapat membuat Anda gulung tikar. Namun, Tuan muda Arsen dengan suka rela membantu Anda melawan Dark Davil."


"Tuan muda Arsen memang tidak meminta apa pun sebagai imbalannya, tapi apakah Tuan tega hanya memberikan haknya sebesar 15% saja?" sambung Ibrahim sambil meremas kedua telapak tangannya. Ada rasa takut dalam diri lelaki itu jika seandainya lidahnya salah berucap, membuat Jonathan merasa tersindir oleh ucapannya.


Jonathan bungkam. Otaknya mencerna semua kalimat yang terucap di bibir Ibrahim. Memang benar Arsenio telah banyak berjasa bagi perusahaan. Bocah kecil itu bahkan memberikan antivirus buatannya tanpa meminta imbalan apa pun. Padahal antivirus itu sama sekali belum dirilis di pasaran, tapi Arsenio bersedia memasangkan antivirus miliknya secara gratis. Ya, walaupun saat itu terjadi kesepakatan di antara mereka, tetap saja tidak sebanding dengan kebaikan yang dilakukan Arsenio terhadap perusahaan.

__ADS_1


"Kalau 20%, bagaimana?" tanya Jonathan pada Ibrahim, meminta pendapat anak dari mendiang orang kepercayaannya.


Dengan seulas senyuman di sudut bibir, Ibrahim menjawab, "Perfect!" sahut lelaki itu sembari menyatukan ibu jari dengan jari telunjuk membentuk huruf O ke udara. "Segera saya persiapkan semuanya."


Wajah Ibrahim semringah. Tampak jelas rona kebahagiaan tercipta di wajahnya yang cukup tampan. Dengan begini, ia yakin masa depan Arsenio akan geming. Bocah kecil berusia enam tahun bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi bahkan bisa kuliah di luar negeri tanpa Tania harus bersusah payah, pundi-pundi uang masuk ke saldo rekeningnya.


Setelah berpamitan, Ibrahim mohon undur diri dari hadapan Jonathan. Lelaki itu bergegas keluar dan melajukan kendaraan roda empat milik sang majikan menuju salah satu gedung pencakar langit di kawasan Jakarta Selatan.


Kini Jonathan dapat bernapas lega sebab harapannya untuk memberi masa depan gemilang bagi cucu tersayang segera terlaksana.


Urusan Arsenio telah selesai dan saatnya ia menjalankan rencana selanjutnya. Sebuah rencana yang dilakukan guna memberi sedikit efek jera bagi Miranda.


"Halo, tolong carikan rumah sederhana di perkampungan padat penduduk. Rumah itu jangan dilengkapi perabotan rumah dengan kualitas nomor satu. Siapkan saja ala kadarnya, asalkan nyaman ditinggali," perintah Jonathan melalui sambungan telepon.


Untuk mendramatisir keadaan ia harus totalitas dalam berakting agar Miranda tidak menaruh curiga kepadanya. Biarlah sementara waktu mereka tinggal di rumah sederhana tanpa adanya kemewahan di rumah tersebut.


Seseorang di seberang sana menjawab, "Baik, Tuan! Segera saya kerjakan. Satu jam kedepan akan saya kirimkan lokasi tempat tinggal Anda dan Nyonya Miranda yang baru." Lelaki itu tahu jika saat ini Jonathan tengah memberi sedikit pelajaran pada nyonya besar Vincent.


Sambungan telepon berakhir, Jonathan memasukan kembali telepon genggam miliknya ke dalam saku celana. "Sudah saatnya aku mendidikmu dengan keras, Ma, agar di kemudian hari enggak semena-mena terhadap orang lain."

__ADS_1


...***...



__ADS_2