
"Mama, jadi hari ini kita akan bertemu Mamanya Papa, iya?" tanya Arsenio. Saat ini Arsenio mengenakan celana panjang warna abu-abu dipadu dengan kaos putih berbentuk V neck. Tampak bocah laki-laki itu terlihat tampan mewarisi ketampanan dari sang papa. Matanya yang hazel terlihat jernih dan indah serta wajahnya yang rupawan, perpaduan Amerika, Cina dan Indonesia membuat siapa saja yang melihat pasti akan jatuh cinta.
Tania meletakkan lututnya di lantai. Tangan kanan wanita itu terulur ke depan, membenarkan topi yang dikenakan anak kesayangan. "Benar, Sayang. Jadi nanti, mama harap kamu enggak boleh nakal saat bertemu Nenek, ya? Jangan sampai kehadiranmu membuat kondisi Nenek semakin drop. Mengerti?"
Arsenio mengangguk patuh. Namun, hati kecilnya masih terselip keraguan akankah Miranda mau menerimanya sama seperti Jonathan menerimanya dengan tangan terbuka. Ia takut jika Miranda justru menghina dan menganggap jika dirinya adalah anak haram seperti yang pernah dikatakan oleh mantan tetangganya dulu sewaktu masih tinggal di Yogyakarta.
Tania yang kebetulan sedang mengusap kedua pipi putih kemerahan Arsenio melihat jelas keraguan terpancar dari sorot mata hazel yang indah itu. Lantas ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan kembali berkata, "Jangan khawatir, Papa pasti melindungi kita jika seandainya Nenek Miranda mengatakan suatu hal buruk tentang kita. Arsen percaya 'kan kalau Papa akan menjaga kita berdua dengan baik?"
"Percaya, Ma. Papa 'kan superhero-nya aku." Tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.
Senyuman di wajah Tania terlukis mendengar bahwa kini Arsenio begitu mempercayai Xander. Bahkan bocah laki-laki yang gemar membaca buku di bidang IT mengidolakan sang papa dan menganggap pria berwajah setengah bule sebagai pahlawannya. Aah ... hati wanita itu benar-benar bahagia karena bisa melihat betapa dekatnya hubungan antara anak dan mantan suaminya itu.
"Tania, Arsenio, apa kalian berdua sudah siap?" Suara berat seorang pria mengalihkan perhatian sepasang ibu dan anak itu. Mereka menoleh hampir bersamaan ke sumber suara.
Wajah tampan nan rupawan kembali berseri bagai sinar mentari yang tengah bersinar di luar sana. Dengan antusias Arsenio berseru, "Yeah, Papa sudah datang. I miss you, Papa." Tubuh kecil itu menubruk ke arah Xander kemudian melingkarkan tangannya yang mungil di pinggang sang papa.
Xander menundukan kepala, mengusap puncak kepala putera kesayangan dengan penuh cinta. "I miss you too, Boy. Gimana, apa kamu sudah siap bertemu Nenek Miranda?"
Bocah kecil penyuka kartun Thomas mendongakan kepala secara maksimal demi menatap wajah pria yang begitu ia sayangi. "Sudah, Papa. Iam ready to meet Nenek Miranda."
"Baiklah. Ayo kita pergi sekarang!"
Xander membantu Tania bangkit kemudian merengkuh pundak wanita itu tanpa melepaskan genggaman tangannya dari jemari mungil Arsenio. Jika diperhatikan dengan seksama mereka seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Mata Xander dan Tania memancarkan cinta yang mendalam. Terlebih kehadiran Arsenio di tengah mereka semakin menumbuhkan gelora cinta yang tak pernah padam sejak dulu kala.
__ADS_1
***
"Tania, are you ready?" ucap Xander ketika ia beserta mantan istri dan anak tercinta telah sampai di depan ruang perawatan VIP rumah sakit. Pria itu tidak segera mengetuk pintu saat menyadari wajah Tania yang mulai memucat.
Menelan saliva susah payah. Mengatur napas, mengumpulkan keberanian dalam dada sebelum bertemu dengan mantan ibu mertuanya itu. "Iam ready, Xander. Please, don't leave me alone sewaktu kita berada di dalam nanti."
Tangan kokoh Xander membawa kepala Tania mendekati bibir lalu ia mencium helaian rambut hitam tergerai dengan penuh cinta. "Never. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan juga Arsen. Aku tetap berada di sisi kalian selamanya. Percayalah!" Sengaja menekan kalimat terakhir, berharap keraguan dan ketakutan yang menyelimuti diri wanita itu sirna tertiup angin.
Xander mulai mengetuk daun pintu dan segera memutar handle pintu setelah dipersilakan masuk. Sesuai rencana awal, Tania dan Xander akan masuk terlebih dulu sementara Arsenio menunggu di luar bersama Surti. Bocah laki-laki itu akan masuk ke dalam setelah diberi aba-aba.
"Duh, kalian berdua kok baru datang sih. Mama tuh udah nungguin kalian dari tadi loh," kata Miranda. "Tania, sini! Mama tadi minta Papa mertuamu membelikan cake kesukaanmu di toko kue langganan mama. Tadi Papa mertuamu bilang kalau perusahaan baru saja mendapat keuntungan. Walaupun tidak banyak, tapi setidaknya mampu untuk membayar biaya rumah sakit dan membeli dua slide cake untuk kita berdua. Ayo, sini. Jangan malu-malu!" Tangan wanita itu melambai ke udara, memberi kode kepada mantan menantunya untuk segera mendekat.
Tania menoleh sekilas ke arah Xander, meminta persetujuan pria itu. Pria di sebelahnya mengangguk pelan dan mengerjapkan mata sebagai tanda bahwa ia memberi izin kepada mantan istrinya itu untuk mendekati pembaringan.
Dengan senang hati Jonathan menuruti permintaan Miranda. Ia sama sekali tak merasa seperti sedang diperintah oleh istrinya itu.
Sementara Miranda dan Tania sedang menikmati cake, kedua pria tampan duduk bersebelahan di sofa panjang di sudut ruangan. Mereka memandangi pemandangan langka di depan sana dengan debaran lembut di dada masing-masing.
"Kalian yakin ingin memberitahu Mamamu tentang Arsenio?" bisik Jonathan tanpa mengalihkan perhatiannya dari sosok wanita cantik yang tampak sibuk menikmati cake bersama dewi penolong keluarga Vincent Pramono.
"Yakin, Pa. Malah aku dan Tania sudah mengajak Arsen ke sini."
Sontak, Jonathan mendelik ke arah sang putera. "Kamu biarkan cucuku menunggu di mana? Awas saja kalau sampai cucuku tersayang hilang diculik orang gara-gara keteledoranmu maka bersiaplah menerima hukuman!" semburnya dengan mata melotot. Pria itu benar-benar marah mendengar kenyataan bahwa anak semata wayangnya itu meminta Arsenio menunggu di luar.
__ADS_1
Mendengar suara gaduh bersumber dari sudut ruangan, dua wanita beda generasi menoleh ke sumber suara hampir bersamaan.
Alis Miranda mengerut petanda bingung. "Kalian kenapa? Apa ada masalah di kantor?"
Xander dan Jonathan menggeleng. "Tidak ada. Kami baik-baik saja," jawab mereka secara bersamaan. Miranda manggut-manggut kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya.
Xander berbisik persis di telinga Jonathan. "Papa tenang saja. Arsen aman bersama Surti. Puteraku menunggu di depan. Dia sedang membaca buku yang baru beberapa hari lalu kubelikan."
"Aku sengaja meminta Arsen menunggu di luar sebab tidak mau membuat Mama terkejut akan kedatangannya yang datang secara tiba-tiba. Aku mau Mama rileks dulu sebelum diberi kejutan akan kehadiran buah cintaku bersama Tania. Kalau langsung mengajak Arsen ke hadapan Mama, aku takut Mama syok lalu jantungan. Kan bahaya, Pa."
"Ya, kamu benar sekali. Papa tidak kepikiran sampai situ," jawab Jonathan sambil mengangguk-anggukan kepala. "Lalu, kapan kamu mulai memberitahu Mamamu? Kasihan Arsen kalau kelamaan menunggu bisa bosan juga dia."
"Sebentar lagi. Tunggu hingga Tania menyuapkan potongan cake terakhir." Setelah mengucap kalimat terakhir, Xander melempar senyuman kepada Tania yang entah bagaimana ceritanya, saat ini tengah melirik ke arah sang mantan suami. Saling menatap lekat kemudian mengedipkan mata seakan mereka sepakat memulai percakapan serius dengan Miranda.
"Bersiaplah, Pa, karena sebentar lagi kebenaran yang disimpan selama ini segera terbongkar," ucap Xander lirih.
Tania telah menghabiskan cake pemberian Miranda. Ia menyodorkan segelas air putih ke hadapan mantan ibu mertuanya.
Setelah dirasa Miranda telah siap, barulah Tania membuka suara. "Tante, kedatanganku ke sini sebenarnya bukan hanya ingin membesuk melainkan juga ingin mengatakan suatu hal penting pada Tante."
"Mengatakan hal penting apa, Nia?" tanya Miranda penasaran.
Tania menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang sempat lenyap ditiup angin. "Ini tentang ...."
__ADS_1
......***......