Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Berbaikan?


__ADS_3

Tania menarik tangannya dari atas meja, tidak ingin kulitnya bersentuhan terlalu lama dengan Xander. Ia takut tidak dapat mengendalikan diri dan justru kembali terjerumus dalam lubang yang sama. Selagi kebencian di hati Miranda setinggi gunung Himalaya, selama itu pulalah kisah cinta mereka tidak akan berakhir bahagia.


"Bagaimana jika Tante Miranda tahu kalau sebagian hartanya digunakan untuk membiayai Arsenio? Beliau pasti marah besar dan mencari cara untuk menyakiti anakku. Aku tidak mau puteraku celaka hanya karena masalah ini. Dia ... masih terlalu kecil untuk terlibat dalam masalah orang dewasa," tutur Tania. Bibir wanita itu bergetar saat mengucap setiap kalimat yang terucap di bibirnya.


Semua orang tahu bagaimana teganya Miranda memisahkan dua insan yang saling mencintai. Istri tercinta Jonathan Vincent gelap mata dan melakukan cara licik guna mendepak Tania dari keluarga Vincent Pramono. Mengingat kenangan pahit di masa lalu, Tania jadi ragu apakah tidak masalah apabila dia mengizinkan Xander membantunya membiayai kebutuhan Arsenio, buah cinta mereka?


"Lebih baik aku bekerja tanpa mengenal waktu, lembur setiap hari dan mencari tambahan pekerjaan daripada berurusan lagi dengan Mamamu. Jika orang yang disakiti oleh Mamamu adalah aku, aku masih bisa sanggup menerimanya. Namun, aku tidak akan pernah rela jika Mamamu menyakiti puteraku. Tidak akan pernah rela, Xander. Bisa mati aku jika sampai Arsenio kenapa-kenapa."


Meleleh sudah air mata yang sedari tadi dibendung di antara kedua pipi Tania. Suara tangis tertahan terdengar lirih memenuhi penjuru ruangan. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia tidak rela apabila ada orang lain mencelakai permata hatinya.


Sejak masih di kandungan, Tania menjaga Arsenio dengan sangat hati-hati. Setiap kali perutnya terasa kram, dia bergegas ke dokter guna memeriksakan kandungannya. Dan ketika Arsenio sudah lahir pun, dia menjaga ketat anaknya itu agar tak ada satu orang pun menyakitinya. Lalu sekarang saat mereka pindah ke Jakarta dan bertemu lagi dengan orang-orang di masa lalu Tania, tentu saja dia tidak akan membiarkan sumber masalah itu ikut menyakiti anak kesayangannya.


"Membesarkan anak seorang diri bukanlah perkara mudah, Xander. Ada banyak rintangan kuhadapi ketika mengandung anakmu. Hinaan, cacian dan makian menjadi santapan sehari-hari. Semua orang memandangku sebelah mata, mengatakan aku wanita hina karena mengandung anak tanpa adanya suami di sisiku. Telah banyak hari yang kulalui bersama Arsen, jadi mana mungkin aku tega menarik puteraku ke dalam jurang yang pernah menjerumuskanku."


Xander memandang Tania dengan bibir gemetar. Dia membayangkan bagaimana menderitanya Tania tatkala membesarkan Arsenio seorang diri. Seharusnya dia tidak pernah terhasut oleh ucapan Miranda saat itu. Sungguh, dia menyesal dan rasanya sulit memaafkan dirinya sendiri.


Sementara itu, Tania menangis sesegukan dengan suara yang pelan. Air mata tidak bisa berhenti mengalir meski sudah ditahan sedemikian rupa.

__ADS_1


Hati Xander terasa sakit bagai disayat sebilah pisau tajam saat melihat buliran air mata jatuh membasahi pipi. Setelah sekian lama tak bertemu, ia akhirnya dapat kembali melihat bagaimana rapuhnya Tania. Tania adalah perempuan yang jarang sekali menunjukan kelemahannya, tapi hari ini dia melihat sendiri betapa lemahnya wanita itu.


Xander bangkit dari kursi, kemudian berhambur. Dia bawa kepala Tania dalam dekapan. "Aku tidak akan mungkin membiarkan puteraku kita celaka, Tania, tidak akan pernah. Selama aku masih bernapas dan jantung ini masih berdetak, tak kan kubiarkan satu orang pun melukai Arsenio. Sekalipun itu adalah Mamaku, aku akan melindungi Arsenio meski nyawaku taruhannya."


Tania menggelengkan kepala. "Aku tahu siapa kamu, Xander. Kamu ... tidak mungkin berani melawan Mamamu. Kamu pasti tak bisa berkutik jika di hadapannya."


Xander semakin erat mendekat istrinya dalam pelukan hingga ia dapat merasakan tubuh istrinya yang gemetar hebat. "No ... No .... Xander yang sekarang bukanlah laki-laki pengecut yang mudah termakan oleh hasutan orang lain. Aku pasti melawan Mamaku apabila dia tega menyakitimu dan juga Arsenio, anak kita. Kamu bisa membunuhku jika suatu hari nanti ternyata aku mengingkati ucapanku sendiri."


Dalam pelukan Xander, Tania mencurahkan isi hatinya yang dipendam selama ini. Menjadikan dada bidang sang mantan suami sebagai sandaran, tempat meluapkan beban berat yang dipikul seorang diri. Ya, terkadang Tania lelah menjalani betapa kejamnya kehidupan ini. Ingin rasanya menyerah, tapi ia tidak bisa sebab ada Arsenio yang membutuhkannya.


Selama ini berpura-pura kuat di hadapan orang lain, padahal sebenarnya Tania membutuhkan teman untuk berbagi dalam suka maupun duka.


"Ya, Tania, Arsen kita tidak mungkin celaka selagi ada aku di sisinya. Tak akan pernah ada seorang pun melukai dia." Xander mengangguk. Ia mendekap tubuh Tania yang berada di dadanya yang bidang.


"Kamu janji, tidak akan membiarkan Tante Miranda atau siapa pun itu melukai anakku, Xander?"


"I promise. Kamu bisa pegang kata-kataku, ini, Tania." Xander memberanikan diri mengecup puncak kepala Tania, menghirup aroma wangi perpaduan rosemary dan gingeng dari helaian rambut panjang hitam legam yang tertata rapi.

__ADS_1


Pelukan terurai, keduanya saling memandang satu sama lain. Xander membelai pipi lembut bagaikan kapas sambil menatap lekat iris coklat milik mantan istrinya.


"Kita pasti menjaga Arsenio dengan baik. Kamu ... dan aku akan melindungi putera kita."


Tania mengangguk. Wajah itu menunduk malu. Rona merah muda tercetak jelas di kedua pipi.


Menggunakan jari telunjuk dan ibu jari, Xander menyentuh ujung dagu Tania lalu membantu wajah wanita itu agar mendongak ke atas.


Matanya yang hazel memandangi bibir merah nan manis yang dulu pernah menjadi candu bagi Xander. Dulu ia amat menyukai bibir istrinya hingga tak jarang ia akan uring-uringan apabila sehari saja tak merasakan betapa manisnya madu di bibir sang mantan istri.


Xander memajukan wajah lalu menempelkan bibirnya di bibir merah milik Tania. Entah mendapat bisikan dari siapa, Tania memejamkan mata dan membiarkan pria itu mengecup serta menyesap bibirnya dengan pernuh cinta.


Ketika Xander dan Tania berciuman, rasanya dunia ini hanya milik mereka berdua. Segala beban hidup dan permasalahan yang datang menghadang sirna begitu saja.


"Jangan pernah berpikir aku akan membiarkan Mama melukai anak kita. Walaupun aku harus bertengkar dengan Mamaku, aku rela asalkan Arsenio selamat," gumam Xander lirih. Kini ia kembali memberanikan diri mencium leher jenjang itu, menghidu wangi tubuh yang selama ini sangat ia rindukan.


"Aku percaya padamu, Xander. Tapi please, jangan kecewakan aku lagi. Aku tidak sanggup bila kamu mengingkarinya."

__ADS_1


Xander mengangguk dan mencium kening Tania. "Aku tidak akan pernah mengecewakanmu lagi untuk kedua kalinya, Gwiyomi."


...***...


__ADS_2