Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Berbaikan


__ADS_3

"Tuh, Tante dengar sendiri 'kan apa kata Dokter Agam. Tante harus banyak beristirahat agar cepat sembuh. Jangan memikirkan banyak hal yang justru membuat keadaan Tante semakin drop," tutur Tania sambil mendudukan bokongnya di kursi. Jemari lentik itu mengusap punggung tangan Miranda dengan sangat hati-hati seakan khawatir sentuhannya itu akan menyakiti mantan ibu mertuanya.


Belum kering sisa air mata yang berada di sudut mata, Miranda kembali meneteskan air mata. Air mata haru karena bisa merasakan betapa tulusnya hati Tania, wanita yang pernah dia sakiti hatinya itu. Walaupun dia telah menorehkan luka di hati Tania, tapi mantan menantunya itu mau memaafkan dan merawatnya dengan penuh keikhlasan.


"Sst, jangan menangis lagi. Nanti kalau Om Jonathan lihat, bagaimana? Bisa-bisa aku dimarahi karena sudah membuat kekasih halalnya menangis." Tania terkekeh pelan, mencoba menghibur Miranda agar tak bersedih lagi. Mengerti jika saat ini perasaan ibu kandung Xander lebih sensitif dan sangat emosional sehingga tak jarang membuat Miranda menangis sesegukan.


Miranda mengigit bibirnya yang gemetar. Perasaan wanita itu campur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena dia diberi kesempatan kedua untuk bisa mengetahui kalau ternyata Tania memang perempuan berhati malaikat, tak menyimpan dendam meski dirinya pernah melakukan kesalahan besar. Sedih, karena sudah menghabiskan waktu selama hampir sepuluh tahun lamanya untuk memupuk kebencian kepada Tania.


Kebaikan dan ketulusan hati Tania sudah membuka mata hatinya. Kini Miranda tahu jika mantan menantunya itu jauh lebih istimewa dibanding Lidya.


"Terima kasih, Tania, karena bersedia menolong dan memaafkan tante. Kamu memang perempuan baik. Pantas saja Xander dulu begitu tergila-gila padamu. Rupanya kamu memang pantas untuk diperjuangkan."


Mendengar nama Xander disinggung oleh mantan ibu mertuanya, wajah Tania seketika merah merona bagai buah tomat segar yang baru saja dipetik dari perkebunan. Rona merah muda terlihat jelas di wajahnya yang putih bersih tanpa noda. Hal itu tak luput dari pandangan Miranda.


'Ya Tuhan, pantas saja puteraku sangat mencintai wanita ini. Selain baik hati, ternyata dia pun cukup menggemaskan. Ingin sekali aku mencubit kedua pipinya yang memerah itu.' Miranda tersenyum dalam hati melihat sikap Tania yang tampak malu-malu seperti remaja tengah kasmaran.


Percakapan kedua wanita itu terhenti saat mendengar handle pintu disentuh seseorang. Tak lama kemudian menampakan sesosok pria jangkung bermata hazel, indah nan jernih.

__ADS_1


"Mama?" panggil Xander lirih. Sorot matanya itu tak dapat menyembunyikan perasaan bahagia karena wanita yang telah melahirkannya ke dunia sudah dapat membuka mata, menatap kembali indahnya bumi yang Tuhan ciptakan ini.


Tania dan Miranda menoleh ke arah pintu, di mana posisi Xander saat ini berdiri. Lelaki tampan dengan tinggi badan hampir mencapai 180 cm, berhidung mancung dan berambut pirang kecoklatan membeku di tempat tatkala netranya bersitatap dengan sang mama. Detik itu juga mata hazel itu berkaca-kaca disertai gemuruh kecil menghantam dada.


"Xander, puteraku. Kemari, Nak. Mama merindukanmu," ucap Miranda. Untuk kesekian kali air mata wanita itu jatuh berderai. Dada terasa sesak bila mengingat dirinya telah menggali lubang penderitaan bagi anak semata wayangnya itu. Dia pisahkan Xander dari satu-satunya wanita yang begitu dicintai.


Melangkah dengan langkai gontai, Xander ayunkan kakinya yang dibungkus sepatu hitam terbuat dari kulit asli nomor satu mendekati ranjang pasien. Tania memilih berdiri di sisi sebelah kiri, memberi ruang kepada Xander agar berdiri di sebelah yang kosong.


"Mama ... s-sudah siuman?" Hanya pertanyaan itu yang sanggup meluncur di bibir Xander. Entah kenapa lidah pria itu menjadi kelu dan pikirannya pun kosong secara tiba-tiba. Mungkin masih syok melihat kondisi Miranda yang cukup memprihatinkan.


Dengan susah payah Miranda mengangkat tangan yang tidak tertancap jarum infus ke udara, mencoba meraih wajah rupawan sang anak tercinta. Xander yang peka akan situasi itu segera menyambut tangan mama tersayang.


Xander bawa tangan lembut yang digunakan untuk menggendongnya di saat masih bayi mendekati wajah. Dia kecup punggung tangan itu dengan penuh cinta. Sebenci dan semarah apa pun dia terhadap Miranda, buktinya dia belum siap jika harus kehilangan perempuan yang telah mengorbankan nyawa demi melahirkannya ke dunia ini.


"Ma, maafin aku. Maaf kalau aku belum bisa jadi anak berbakti, mengabdikan diriku untuk Mama dan Papa. Maaf jika aku masih sering membentak dan berkata kasar pada Mama," ucap Xander dengan berurai air mata. Tak sanggup membendung lagi buliran kristal itu untuk tidak meluncur di kedua pipi.


Sungguh, Xander tidak sanggup jika harus kehilangan Miranda untuk selamanya. Bibir boleh berkata sangat membenci sang mama, tapi jauh di lubuk hati yang terdalam, sebetulnya dia begitu sangat menyayangi wanita itu.

__ADS_1


Miranda yang tengah merasa emosional semakin tak dapat mengendalikan diri. Dia pun ikut menangis mendengar permintaan maaf tulus terucap di bibir anak semata wayangnya itu.


Menggelengkan kepala lemah. Dia tangkup wajah Xander yang sangat mirip dengan suami tercinta. "Jangan meminta maaf, Sayang. Mamalah yang seharusnya meminta maaf padamu karena telah menghancurkan rumah tanggamu bersama Tania. Tidak seharusnya mama memisahkan kalian di saat kamu dan Tania saling mencintai."


"Hanya karena status sosial yang jauh berbeda, mama malah mencari seribu macam cara untuk menyingkirkan Tania dari kehidupanmu. Maafin mama, Xander. Mama menyesal sudah melakukan itu padamu."


Mendengar ucapan itu, tangis Xander pecah dan air mata semakin deras berderai. Dia kembali membawa tangan Miranda, kemudian menempelkannya di pipi. Semua kejahatan Miranda memang sukses memporakporandakan hidupnya bahkan dia sangat membenci Tania akibat ulah mamanya itu.


Namun, melihat Miranda dengan tulus meminta maaf, hati Xander tentu saja tidak tega bila tidak memaafkan semua kesalahan sang mama. Tuhan saja mau memaafkan, masa iya Xander yang hanya manusia biasa tak sudi memaafkan mamanya itu.


"Sudahlah, Ma, jangan bicara begitu lagi. Aku sudah maafin Mama. Terpenting sekarang kita fokus menatap masa depan dan jangan pernah menoleh ke belakang. Mari kita kubur semua kenangan buruk di masa lalu dengan membuka lembaran baru berisi tentang kisah indah kita bersama."


Suasana haru menyelimuti ruang perawatan kelas VIP. Sepasang ibu dan anak larut dalam perasaan masing-masing. Pun begitu dengan Tania, wanita itu ikut meneteskan air mata menyaksikan pemandangan langka di depan mata.


'Terima kasih Tuhan karena Engkau telah menyatukan kembali keluarga Om Jonathan. Semoga di kemudian hari kebahagiaan selalu datang menghampiri keluarga ini,' batin Tania.


...***...

__ADS_1


__ADS_2