Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Mantan Istri VS Calon Istri


__ADS_3

"Tania? Sedang apa kamu di sini?" kata Lidya, si pemilik apartemen nomor 808. Mata wanita itu terbelalak saat menyadari bahwa mantan istri dari calon tunangannya tengah berdiri di ambang pintu.


Begitu pun dengan Tania, ibu kandung Arsenio tak kalah terkejutkan saat sepasang bola matanya yang jernih kembali memandangi sosok perempuan dari masa lalunya. "Lidya?"


Terjadi keheningan beberapa saat di antara mereka. Kedua wanita itu bergeming di tempat, lidah terasa kelu seakan tak mampu mengucap sepatah kata pun.


Di saat keduanya tengah termangu cukup lama, sebuah kesadaran menghantam kesadaran Tania. Ia kembali teringat akan laporan Surti yang mengatakan bahwa salah satu tetangga apartemen tega mengatakan hal-hal keji terhadap anak tercinta.


Menyunggingkan sudut bibir ke atas disertai senyuman smirk di wajah. "Jadi kamu tetangga julid yang diceritakan oleh babysitter anakku! Pantas saja omonganmu enggak berbobot rupanya mulutmu emang enggak pernah disekolahkan sebelumnya. Kalau ngomong asal bunyi tanpa memedulikan perasaan orang lain."


Suara bernada sindiran mengembalikan kesadaran Lidya. Ia tidak pernah menduga jika wanita dari masa lalu calon tunagannya kembali hadir setelah lima tahun lamanya mereka tak bersua.


Menghirup udara sebanyak-banyaknya kala Lidya merasakan pasokan udara di paru-paru habis. Maja terpejam sambil berkata dalam hati. *Jangan takut, Lidya! Bersikap tenanglah seakan tak pernah terjadi apa-apa antara ka*mu dan dia.


Setelah dirasa cukup tenang, barulah Lidya menjawab, "Oh ... jadi gadis kampungan yang mengenakan seragam warna merah jambu itu adalah pesuruhmu! Pantasan saja kampungan, lah wong atasannya aja ndeso!" cibirnya seraya melipat kedua tangan di dada.


Alih-alih merasa tersinggung, Tania kembali membalas perkataan Lidya. Ia sama sekali tidak takut menghadapi wanita itu, meskipun di seberang sana merupakan model papan atas terkenal se-antero dunia pun ia tak akan pernah gentar untuk membela anak tercinta.


"Lebih baik kampungan daripada bermuka dua dan licik sepertimu!" sindir Tania sambil tersenyum smirk.


"Kamu?" Jari telunjuk Lidya terangkat di hadapan Tania, tapi dengan cepat diterpiskan begitu saja oleh mantan istri Xander.

__ADS_1


"Jangan pernah menggunakan tangan kotormu untuk menunjuk wajahku!" kata Tania dengan menekankan setiap kalimat yang terucap di bibir


Melihat sikap Tania yang jauh berbeda dari lima tahun lalu, membuat Lidya kesal setengah mati. Rahang wanita itu mengeras. Telapak tangan mengepal di samping kanan dan kiri. Deru napas memburu dengan dada kembang kempis. Ingin rasanya ia menampar wajah wanita yang telah merebut Xander dari sisinya.


Namun, Tania yang sekarang bukanlah wanita lemah yang mudah ditindas oleh siapa pun. Kini Tania menjelma menjadi sosok perempuan tegas dan terlihat lebih kuat dari sebelumnya.


"Aku cuma ingin memperingatkanmu. Jangan pernah lagi mengatakan hal buruk tentang anakku kalau kamu tidak mau berurusan denganku!" ancam Tania dengan sorot mata sungguh-sungguh. Tatapan mata wanita itu begitu tajam, seakan ada sebilah pisau tak kasat mata, melesak begitu saja menembus jantung lawan di depannya.


Sejujurnya Lidya merasa terintimidasi saat menatap sorot mata Tania, tapi ia mencoba bersikap tenang dan mengenyahkan tatapan tajam itu.


Kedua sudut Lidya tertarik ke atas, sebuah senyuman mengejak di sudut bibir wanita itu. "Jadi bocah kecil yang tak tahu sopan santun itu adalah anakmu? Anak harammu dengan sepupu mantan suamimu sendiri, iya?"


Tania yang hanya berjarak sekitar satu meter dengan Lidya, segera mendekati wanita itu. Tanpa banyak cakap, ia mengangkat tangan kanannya kemudian mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi sang model.yang berhasil membuat pertemuan dua kulit memenuhi penjuru lorong yang sepi.


"Kamu boleh saja menghina dan membenciku karena berhasil merebut hati Xander dan bersanding dengan lelaki itu di pelaminan, tapi tidak dengan Arsen. Dia puteraku. Batas kesabaranku. Dan sekali lagi aku mendengar kamu menyebutnya sekeji itu maka kamu akan menerima pembalasanku, Lidya. Aku bisa melakukan hal keji sama seperti yang pernah kamu lakukan kepadaku dulu. Mengerti!" Habis sudah kesabaran Tania. Wajah wanita itu merah padam, sekujur tubuh terasa panas seakan dirinya tengah berada di atas api yang membara.


Lidya terkejut mendapati kemarahan Tania. Bekas tamparan sang mantan rival terasa cukup perih hingga menyisakan telapak tangan dari lima jemari tangan tersisa di pipi. Sialan, kenapa Tania yang sekarang tidak mudah ditindas? Lalu, kenapa kesannya malah aku yang lemah di sini. Seharusnya, 'kan, aku membalas perbuatan wanita sialan ini, bukan malah diam begini! dengkus Lidya kesal dalam hati.


"Baby, kamu kenapa? Kenapa wajahmu merah begitu?" Kehadiran sesosok lelaki bertubuh jangkung hadir di antara mereka membuat Tania refleks mundur beberapa langkah ke belakang. Lantas, ia memperhatikan gerak gerik pria itu dengan seksama.


Ekor mata Lidya terbelalak saat melihat kekasih gelapnya berdiri di hadapan dengan sebelah tangan menyentuh ujung dagu. "K-kamu ... kenapa ada di sini?" kata wanita itu terbata. Tidak menduga kalau lelaki berdarah Tionghoa datang di waktu yang tidak tepat.

__ADS_1


Nicholas menjawab, "Tentu saja ingin menemuimu. Aku merindukanmu, Baby, maka dari itu aku datang ke sini."


Lidya tak tahu harus merespon apa saat tangan kekar itu memperhatikan wajahnya dengan seksama. Meniup permukaan wajah, berharap dengan begitu bekas tamparan di pipi segera menghilang.


Tania menggelengkan kepala sembari tersenyum smirk. "Jadi seperti ini calon Nyonya Muda Vincent Pramono? Benar-benar tak berkelas!" Usai mengatakan kalimat tersebut, ia bergegas meninggalkan sepasang kekasih yang tampak sibuk saling menatap satu sama lain.


Suara langkah sandal milik Tania yang mulai menjauh membuat Lidya kembali teringat akan Xander, calon suaminya. Tak ingin rahasianya bocor, lalu terdengar oleh Xander serta keluarga besar dari kedua belah pihak, ia berlari begitu saja tanpa memedulikan tatapan aneh bersumber dari sang kekasih.


"Tania, tunggu!" seru Lidya sembari berlari mengejar mantan istri dari calon suaminya. Akan tetapi, wanita berkulit indah bagai pualam tak menghiraukan seruan itu. Ia terus mengayunkan kaki, menyusuri lorong apartemen menuju kediamannya.


"Hei, Wanita kampung!" sentak Lidya sesaat setelah ia berhasil mencekal lengan Tania. "Kamu peringatkan sama kamu, jangan pernah memberitahu apa pun kepada Xander dan keluarganya tentang apa yang kamu lihat dan kamu dengar barusan! Anggap saja kamu tidak pernah melihat dan mendengar apa pun, mengerti!" tandasnya.


Tania mengempaskan jemari tangan Lidya dengan kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang. "Aku bukanlah wanita yang hobi mengadu domba, bukan pula wanita yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Jadi, kamu tidak usah khawatir rahasiamu barusan terdengar oleh Xander maupun keluarga besar Pramono."


"Aku sama sekali tidak tertarik untuk terlibat dalam urusan kalian, para orang kaya yang menghalalkan segala macam cara untuk menyingkirkan seseorang yang kalian benci!" Tanpa memberi kesempatan pada Lidya untuk membuka suara, Tania berlalu begitu saja. Ia amat muak bila terus menerus berada di dekat calon istri dari sang mantan suami.


"Wanita tidak tahu malu! Sudah mempunyai calon suami masih saja selingkuh dengan lelaki lain," gerutu Tania sambil berjalan cepat. "Aah ... andai Nyonya Miranda tahu kebusukan calon menantu kesayangannya ini, apakah ia akan tetap menerima wanita itu sebagai salah satu bagian dari keluarga Vincent Pramono?"


Menggelengkan kepala cepat saat pikiran Tania berkelana ke mana-mana. "Bodo amatlah dengan mereka. Terpenting bagiku tidak ada lagi orang yang berani menghina Arsenio, putraku."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2