Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Berkenalan dengan Bocah Genius


__ADS_3

"Mbak Miranda, Mas Jonathan."


Sontak kedua orang tua Xander yang saat itu sedang berbicang dengan teman lama Jonathan yang tinggal di Singapura menoleh ke sumber suara. Mata Miranda membulat sempurna ketika melihat adik semata wayangnya berdiri angun dari jarak tidak terlalu jauh darinya.


"Amanda? K-kamu ... datang juga ke sini? Kupikir kamu ...."


Suara Miranda tercekat di tenggorokan. Tak menyangka jika Amanda beserta kedua keponakannya bersedia hadir dalam momen bersejarah bagi Xander dan Tania. Ia pikir Amanda tidak datang karena masih menyimpan dendam kepadanya. Akan tetapi, adik kandungnya itu datang memberi doa restu kepada anak dan menantunya.


Melangkah perlahan mendekati kursi roda. "Tentu saja aku datang, ini adalah pesta pernikahan keponakanku jadi mana mungkin tak hadir. Aku serta kedua anak-anakku sengaja datang ke sini untuk memberi restu kepada Xander dan Tania," berkata dengan memberi senyuman manis di wajah.


"Selamat ya, Mbak, akhirnya Tania menjadi menantumu lagi. Kuharap kali ini kamu memperlakukannya dengan baik, jangan sampai kejadian dulu terulang lagi." Kalimat itu diakhiri pelukan hangat yang sudah lama tidak Amanda berikan kepada sang kakak. Fitnah kejam itu tidak hanya mencoreng nama baik Tania juga Abraham, tetapi juga menghancurkan hubungan persaudaraan Amanda dengan Miranda.


"Manda, kamu ... tidak marah lagi kepadaku? Kamu ... sudah memaafkan semua kesalahanku di masa lalu?" tanya Miranda ragu, masih belum percaya jika hubungan mereka sudah mulai membaik seperti dulu.


Amanda meletakkan lututnya di lantai, kemudian mengusap lembut punggung tangan Miranda. "Tentu saja aku marah padamu, Mbak. Kamu tega sekali memfitnah anakku hanya karena ingin mengusir Tania dari keluargamu. Karena kamu, aku sampai mengusir Abraham, mengasingkan puteraku selama tujuh tahun lamanya."


"Kamu memisahkan aku dengan buah cintaku, satu-satunya peninggalan yang tak ternilai harganya dari mendiang suamiku. Selama ini aku hidup dalam kesalahpahaman. Kupikir Abraham betulan selingkuh di belakang Tania, tapi rupanya itu hanya rekayasamu belaka."


"Akan tetapi, setelah mendengar klarifikasi yang kamu sampaikan dua bulan lalu, kemarahanku kepadamu sudah menghilang. Perlahan aku mulai bisa memaafkanmu, melupakan masa lalu kita karena diriku sadar jika yang terjadi di dunia ini merupakan suratan takdir dari Sang Maha Kuasa. Karena hal itu pulalah, aku mencoba untuk memaafkanmu."


Dengan gerakan cepat, Miranda memajukan tubuhnya lalu membawa tubuh Amanda dalam pelukan. Wanita paruh baya itu mendekap adik kesayangan dengan erat. Setelah sekian lama akhirnya ia dapat merakan lagi kehangatan tubuh dari satu-satunya saudara kandung, seibu dan sebapak.


"Terima kasih sudah mau memaafkanku, Manda. Maafkan aku dulu-"

__ADS_1


"Sudahlah, Mbak, jangan diingat lagi. Lupakan semua yang terjadi di antara kita. Insha Allah, aku serta Abraham ikhlas memaafkanmu. Terpenting kamu berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang. Bukan begitu, Abra?" tanya Amanda seraya mendongakan kepala, menatap ke arah Abraham yang berdiri di sampingnya.


Dengan penuh keyakinan Abraham mengangguk, membenarkan perkataan sang mama. Ia ikhlas menerima semua kesedihan dan penderitaan yang disebabkan oleh Miranda dulu. Menganggap kejadian di masa lalu sebagai pembelajaran agar dirinya tak lebih berhati-hati saat menerima makanan maupun minuman dari siapa pun. Sekalipun dari saudara sendiri, ia tetap harus waspada.


"Sekarang Bibi Miranda fokus saja kepada kesehatan jangan karena terlalu berat memikirkan sesuatu justru menghambat proses pemulihanmu," kata Abraham, memberi perhatian kepada kakak dari sang mama walau dulu orang itu pernah menyakitinya, tetapi ia tidak mau membawa kemarahan itu sampai ke liang lahat.


Amanda menyapu keadaan sekitar, mencari sosok mungil yang konon katanya mempunyai wajah mirip Xander sewaktu masih kecil. Perpaduan wajah setengah bule dan oriental menjadikan anak laki-laki berusia enam tahun terlihat sangat tampan dengan kedua pipi merah merona secara alami tanpa diberi perona sama sekali.


"Mbak Miranda, di mana cucumu yang menggemaskan itu? Aku ingin melihatnya secara langsung. Selama ini hanya dapat melihatnya saja lewat beberapa foto yang diungah di sosial media," ucap Amanda tidak sabaran.


"Benar, Bi. Aku sudah tidak sabar ingin memberikan hadiah ini untuk keponakanku tersayang." Cleo mengangkat satu buah kotak berukuran sedang ke udara. Hadiah itu sengaja ia beli saat dirinya menemani Amanda serta Abraham ke Amerika.


"Arsenio sedang ke toilet. Sebentar lagi kembali. Ayo, duduklah dulu!" titah Jonathan yang dijawab anggukan kepala semua orang.


"Kamu bisa kembali ke kamarmu. Namun, sekarang kakek mau memperkenalkanmu kepada Nenek Amanda. Dia adalah adik dari Nenekmu, Miranda."


Arsenio menaikkan kedua sudut bibirnya ke atas hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Halo, Nenek Amanda. Selamat malam."


Usai mengucap kalimat itu, si bocah penyuka kartun Thomas meraih tangan Amanda, Cleo dan Abraham secara bergantian. Ia mencium punggung ketiganya seperti apa yang selalu Tania ajarkan kepadanya. Menyapa ramah dan tidak lupa mencium punggung tangan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua.


"Oh Sayangku, kamu mirip sekali seperti Papamu." Air mata Amanda menetes melihat Arsenio yang sangat mirip dengan keponakan kesayangan. "Ya ampun, Mbak, cucumu ini memang plik tlipek seperti Xander waktu masih kecil. Sangat tampan sekali."


"Astaga, keponakanku tampan sekali. Dia jauh lebih tampan dari Kakak sepupuku yang menyebalkan itu." Cleo menundukan sedikit punggungnya, kemudian mengecup pipi Arsenio.

__ADS_1


"Halo, Tante. Nice to meet you," sapa Arsenio riang.


"No, jangan panggil aku dengan sebutan Tante. Tidak keren sekali didengarnya," tolak Cleo karena merasa panggilan 'tante' sudah tidak sesuai dengan zaman sekarang.


"Lalu, aku harus memanggil Tante apa? Ehm, haruskah aku memanggilmu dengan sebutan 'Aunty'?"


Wajah Cleo semringah mendengar perkataan Arsenio. "Not bad! Aku suka panggilan itu. Ini, Aunty bawakan hadiah untukmu." Gadis itu menyodorkan kotak berukuran sedang yang dibungkus kertas kado kepada Arsenio.


Dengan senang hati Arsenio menerima hadiah tersebut. "Thank you, Aunty-"


"Aunty Cleo. Itu namaku," sela Cleo lupa memberitahu siapa namanya.


"Thank you Aunty Cleo. Aku sayang Aunty." Arsenio kecup pipi Cleo sebagai ucapan terima kasih.


Abraham melihat betapa menggemaskannya sikap Arsenio ikut tersenyum, sedikit terhibur dan melupakan sejenak rasa sakit hati akibat ditinggal nikah oleh seseorang yang ia cintai.


Arsenio mendongakan kepala. Sadar bahwa ada satu orang yang belum ia sapa. "Halo, Uncle? Namaku Arsenio, senang berkenalan dengan Uncle." Ia ulurkan jemari mungil ke depan Abraham.


Putera tertua Amanda terkesiap saat sepasang matanya bersitatap dengan mata hazel yang mirip seperti Xander. Lalu kilasan kejadian saat ia masih kecil menari indah di memori ingatannya. Kepingan kejadian kala dirinya dan Xander masih berusia anak-anak tak luput dari ingatan pria itu.


Menahan gejolak dalam dada dan tangan gemetar, Abraham menerima uluran tangan itu. Menjabat tangan Arsenio dengan erat. "Halo, Boy. Kenalkan, nama Uncle Abraham. Senang berkenalan juga denganmu."


Ada perasaan rindu menelusup relung hati terdalam. Rindu akan kebersamaan dan kedekatan yang pernah ia dan Xander lalui bersama. Dalam hati bertanya, akankah ia dengan kakak sepupunya itu dapat bersama seperti dulu lagi? Setelah Xander mengetahui bahwa dirinya menaruh hati kepada Tania. Hanya Tuhan saja yang tahu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2