
Menghela napas kasar, mencoba melepaskan beban yang sempat menghimpit di dada. "Mimpi apa aku semalam bisa mendapat 20% saham perusahaan milik Tuan Jonathan. Sungguh, aku tidak pernah sekalipun bermimpi jika bayi yang kukandung selama sembilan bulan akan menjadi salah satu orang penting di perusahaan ini."
"Dulu aku berpikir jika kehidupan kami akan biasa-biasa saja sama seperti saat masih di Yogyakarta, tapi rupanya berubah menjadi 180° setelah mereka tahu bahwa Arsenio adalah puteraku dengan Xander." Tania menarik napas dalam, kemudian menahannya sebentar dan mengembuskan secara perlahan. "Entah harus bahagia atau justru sedih karena anakku punya hak juga atas perusahaan ini."
Membawa map coklat yang dikempit di ketiak, Tania berjalan menuju lift yang ada di lantai tertinggi gedung tersebut. Derap langkah bersumber dari high heels Tania menggema memenuhi penjuru ruangan. Terlalu fokus dengan pikirannya, Tania tidak sadar jika di depan sana ada sosok pria yang tengah memandang ke arahnya. Pria itu berjalan ke arahnya dengan penuh tanda tanya.
"Tania, kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Kamu datang ke sini karena diminta Paman Jo, ya?" tukas Abraham sembari mengulum senyum di wajah. Semringah dan berseri itulah lukisan wajah sepupu Xander saat ini. Tampak pendar bahagia di bola matanya yang teduh.
Mendengar namanya disebut membuat Tania menghentikan langkahnya. Mendongakan kepala ke sumber suara. Detik itu juga irisnya yang coklat membulat sempurna. Oh gosh! Kenapa harus bertemu lagi dengan lelaki ini? Tuhan, apa aku memang ditakdirkan untuk terus berada di dekat keluarga Vincent Pramono? Apa selamanya aku memang tidak akan pernah terlepas dari mereka? Bermonolog dalam hati memandangi Abraham dengan sorot mata sulit diartikan.
Belum usai keterkejutan Tania disebabkan oleh Jonathan, kini ia kembali dikejutkan lagi akan kehadiran Abraham di perusahaan tersebut.
"Tania, kamu belum menjawab pertanyaanku. Paman Jonathan memintamu datang ke sini, ya?" Abraham kembali bersuara ketika Tania tidak merespon perkataannya.
"Ehm ... ya. Tuan Jonathan ingin membahas soal pekerjaan. Kebetulan aku bertanggung jawab atas proyek pembangunan mall milik perusahaan V Pramono Group," bohong Tania. Mana mungkin ia mengatakan bahwa Jonathan memintanya datang ke perusahaan untuk menerima akte salinan kepemilikan saham. Jika sampai itu terjadi maka tidak menutup kemungkinan Miranda datang menemuinya dan kembali menghina serta melayangkan tamparan keras di wajah. Mantan mama mertuanya pasti akan sangat murka jika mendengar bahwa Arsenio punyak hak atas perusahaan.
Abraham mengangguk mendengar jawaban Tania. "Oh ya, kebetulan kita bertemu di sini. Bagaimana kalau kita minum kopi dulu sebelum kamu balik ke kantor? Kamu belum membalas kebaikanku karena pernah mengembalikan dompet saat pertemuan kita pertama kali setelah tujuh tahun lamanya." Lelaki itu menaikkan sudut mata ke atas. "Aku yakin kamu bukanlah wanita yang tidak tahu membalas budi."
Menyebalkan sekali! gerutu Tania dalam hati. Sebelah tangan wanita itu mengepal di samping badan. Gigi gemelutuk menahan amarah dalam diri. Andai ia mempunyai kekuatan super seperti wonderwoman, mungkin saat ini tubuh Abraham terpelanting ke belakang akibat tenaga super yang dimilikinya.
__ADS_1
"Baiklah. Kamu tunjukan saja jalannya padaku." Pada akhirnya Tania pasrah dan menuruti keinginan Abraham, sosok pria yang pernah dijebak oleh Miranda.
Kini Tania dan Abraham telah berada di café lantai dasar perusahaan milik Jonathan. Tempatnya cukup cozy dan nyaman, didesain dengan tema kekinian hingga membuat para pengunjung merasa betah berlama-lama berada di tempat tersebut.
Sepupu Xander duduk di seberang Tania. Lelaki itu tengah membaca buku menu yang dibawakan pelayan. "Tolong bawakan kopi espresso dan satu almond chessecake satu," ujarnya pada pelayan wanita.
Pelayan wanita itu bergegas mencatat pesanan Abraham di kertas. "Nona sendiri mau pesan apa?"
"Mbak, bawakan iced cappucino dan satu piring cake dengan lapisan mrim matcha di atasnya," seru Abraham sebelum Tania menjawab pertanyaan pelayan berseragam serba hitam.
Tania mendengkus kesal sebagai wujud ketidaksukaannya atas sikap Abraham yang terkesan sok akrab. Walaupun mereka pernah dekat, tapi itu dulu saat keduanya masih sama-sama duduk di bangku kuliah.
"Aku tidak menyangka kita akan dipertemukan lagi. Kupikir tempo hari adalah hari terakhir dapat bertemu denganmu, tapi rupanya takdir kembali mempertemukan kita lagi. Ehm ... mungkinkah ini petanda bahwa kita berdua berjodoh?" Abraham menaik turunkan kedua alis, mencoba menggoda Tania. Ya, siapa tahu kali ini ucapannya didengar semesta dan dikabulkan Sang Maha Pencipta."
"Jangan sembarangan bicara!" seloroh Tania membuang wajah. Tidak sudi ditatap oleh Abraham sedemikian lekat.
Abraham tertawa kecil. Teringat akan kenangan indah saat mereka masih akrab dulu. "Ya, ya, baiklah. Aku tidak akan sembarangan bicara lagi." Lelaki itu menyenderkan punggung di sandaran kursi. "Sudah sejauh mana proyek yang sedang kamu kerjakan? Apa semua berjalan baik?"
__ADS_1
"Tentu saja. Memangnya kamu pikir aku ini bodoh, perempuan yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ingat Abraham, aku ini salah satu mahasiswa terbaik di Fakultas Teknik jadi jangan pernah meragukan kepintaranku. Mengerti?" Tania cukup kesal karena sikap Abraham masih sama seperti dulu saat mereka masih kuliah. Ia pikir setelah tujuh tahun tak bertemu, Abraham berubah menjadi lelaki pendiam dan tak banyak bertanya. Namun, rupanya penilaian wanita itu salah. Abraham masih sama seperti dulu kala.
Abraham mengaduk kopi yang baru saja dibawakan pelayan. "Iya deh, aku mengerti. Udah ah, jangan marah-marah terus! Sebaiknya kamu nikmati minuman kesukaanmu."
Tanpa diperintah untuk kedua kali, Tania segera menyesap minuman di hadapannya. Mata memicing tajam seakan tengah mencari tahu adakah maksud lain dibalik ajakannya ngopi di café perusahaan.
Sepertinya dugaan Tania tidak salah, Abraham kembali bersuara usai menyesap kopi kesukaannya. "Tania, ada hal yang ingin kutanyakan padamu tentang anak kecil yang ada bersamamu saat pertama kali kita bertemu setelah tujuh tahun berpisah. Apa ... anak itu adalah buah cintamu bersama sepupuku yang berengsek itu? Apa kamu mengandung anak si Bajingan itu saat kalian bercerai dulu?" tanya Abraham penasaran.
Hingga detik ini Jonathan belum menceritakan tentang hasil tes DNA Arsenio dengan Xander kepada Abraham. Jadi jangan heran apabila keponakan Miranda belum tahu jika seandainya bocah kecil berusia enam tahun yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu adalah buah cinta Tania dan Xander.
Tania yang tampak asyik menyedot minuman dingin kesukaannya menghentik sejenak kegiatannya. Pandangan mata tajam ia hunuskan pada Abraham. "Bukan urusanmu! Lagi pula kenapa aku harus memberitahumu toh di antara kita berdua tidak ada hubungan apa pun. Mau itu anak Xander ataupun bukan, kamu enggak berhak ikut campur."
Abraham menghela napas dalam. Jemari tangannya yang panjang meletakkan gelas ke atas piring kecil. "Emang sih aku tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadimu hanya saja aku sedikit penasaran kenapa kamu tidak pernah memberitahu Paman Jonathan dan sepupuku yang bodoh itu tentang kehamilanmu. Kamu menghilang begitu saja bagai ditelan bumi. Lalu setelah sekian lama kamu kembali dengan membawa anak kecil yang wajahnya mirip sekali dengan Xander."
Tania tersenyum sinis mendengar pertanyaan Abraham. "Apa aku tidak salah dengar? Memberitahu Tuan Jonathan dan Xander tentang kehamilanku? Yang ada reputasiku semakin hancur di mata mereka. Bisa-bisa mereka menuduh bahwa anak ini adalah hasil hubungan terlarang kita berdua. Memangnya kamu mau itu terjadi padamu? Kalau aku sih ogah. Daripada semakin runyam lebih baik aku rahasiakan saja dan fokus untuk membesarkan anakku."
Sudut bibir Abraham tertarik ke atas. Tanpa bersusah payah mendesak Tania akhirnya wanita itu mau berkata jujur padanya.
"Sialan! Berani-beraninya dia mengajak Tania-ku minum kopi di sini. Awas kamu, Abra, akan kuberi pelajaran karena berniat merebut Tania dari sisiku." Dada kembang kempis ketika matanya yang hazel menatap betapa dekatnya hubungan mereka.
__ADS_1
...***...