Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Mirip Aku?


__ADS_3

Tania saat ini sedang memangku kepala Arsenio yang tertidur. Setelah lelah berkeliling membuat bocah kecil itu kelelahan dan menyebabkannya tertidur dalam perjalanan pulang menuju penginapan. Xander dengan setia mengantarkan Tania dan anak tercinta ke mana pun mereka mau tanpa mengenal lelah.


"Tampaknya hari ini Arsen bahagia sekali dapat menghabiskan waktu bersama kamu. Aku jadi terharu saat melihatnya tersenyum lepas ketika kalian naik gondola. Itu benar-benar momen langka bagiku." Tiba-tiba Xander bersuara memecah keheningan yang sedari mereka rasakan.


Jemari lentik Tania mengelus helaian rambut berwarna pirang kecoklatan yang menguarkan aroma khas strawberry. "Jika tidak mengingat waktu sudah menjelang sore dia akan tetap merengek minta naik wahana lain. Terkadang dia lupa waktu jika sudah melakukan sesuatu," tutur wanita itu tanpa mengalihkan tatapan dari wajah Arsenio. Seulas senyuman tipis terlukis di sudut bibirnya.


"Mirip kamu," celetuk Xander.


Sontak perkataan itu mengalihkan perhatian Tania yang sedang memandangi ketampanan anak semata wayang. "Mirip aku bagaimana?"


Xander melirik sekilas Tania dari kaca spion yang ada di depannya. "Emangnya kamu enggak merasa jika kebiasaan Arsen hampir mirip denganmu, selalu lupa waktu kalau udah mengerjakan sesuatu? Setiap mengerjakan tugas kuliah, kamu lupa segalanya. Lupa makan, mandi dan juga melupakan janji ketemuan denganku. Untung aja aku bukan tipe kekasih yang gemar marah-marah enggak jelas karena pujaan hatinya ingkar janji. Aku justru datang ke indekosmu sambil membawa makanan kesukaan dan beberapa cemilan untuk menemanimu lembur." Pria itu terkekeh pelan saat membayangkan kenangan indah saat mereka masih pacaran.


Saat itu, dunia terasa indah seakan seisi bumi ini terdapat jutaan bunga Sakura yang sedang bermekaran. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan luas membentang, ditumbuhi pohon Sakura yang terlihat begitu sedap dipandang.


Tanpa sadar, Tania pun mengulum senyuman di sudut bibirnya. Sekelebat bayangan indah beberapa tahun lalu kembali muncul di benak wanita itu. Rasanya seisi dunia berada dalam genggaman ketika kekasih hati menunjukan perhatiannya kepada kita. Walaupun Xander terkesan dingin terhadap kaum Hawa, tidak banyak bicara dan basa basi, tapi ia begitu hangat terhadap Tania dan hal itulah yang membuat wanita berdarah Tionghoa merasa istimewa jika dibandingkan dengan yang lain.


Akan tetapi, kesadaran Tania muncul ke permukaan kala teringat bagaimana kejamnya fitnah Miranda yang menginginkan dia pergi dari sisi Xander dan bodohnya lagi lelaki yang berstatuskan sebagai suaminya justru termakan oleh fitnah itu hingga membuat pernikahan mereka hancur bagaikan kepingan vas bunga yang dilemparkan ke lantai.


Tania meremas tepian jok penumpang dengan erat, menyalurkan rasa sakit dan kekecewaan terhadap pria yang begitu ia cintai. "Enggak ada gunanya membicarakan masa lalu toh itu semua udah berlalu dan enggak akan terulang lagi. Sekarang kita harus realistis, menatap lurus ke depan tanpa harus menoleh lagi ke belakang."


Detik itu juga Xander terdiam. Ucapan bernada sindiran sukses membuat pria itu bungkam seketika.


__ADS_1


Sebentar lagi mereka tiba di sebuah penginapan bernuansa alam yang masih berada di Bogor. Sejauh mata memandang, para pengunjung villa akan disuguhi pemandangan hijau nan menyegarkan. Hampir di setiap sudut ditanami bunga cantik aneka warna dan terdapat danau mini di tengah villa, sungguh memanjakan mata. Dan jika cuaca terang maka pengunjung dapat melihat sendiri area sekitar diselimuti kabut dan betapa indahnya Gunung Pangrango dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Arsenio masih terlelap dalam pangkuan. Tampaknya bocah itu tertidur lelap sekali, terlihat dari ibu jarinya yang dihisap sambil sesekali tersenyum sendiri. Mungkin bocah kecil itu bermimpi indah hingga membuatnya tersenyum bahagia.


"Biar aku yang gendong Arsen, kamu bawa aja koper dan boneka kesayangannya." Xander membuka pintu mobil dan segera meraih tubuh anak kesayangannya. Sementara Tania menurunkan koper kecil berisi pakaian dan perlengkapan si kecil selama menginap di Bogor.


Sepasang mantan suami istri berjalan bersisian menyusuri jalan setapak menuju villa yang sebelumnya telah dipesan Tania beberapa waktu lalu.


"Xander," panggil Tania lirih.


"Apa?" jawab Xander sembari menoleh ke arah Tania. Beberapa kali membenarkan posisi dekapan lengannya di tubuh Arsenio. Tubuh Arsenio sudah besar dan berat badannya semakin bertambah karena sering mengkonsumsi susu kotak kesukaannya.


"Ehm ... aku minta maaf soal kejadian tadi siang. Maaf karena Arsen memanggilmu dengan sebutan 'om jahat'. Aku merasa enggak enak hati sama kamu, akibat perkataan Arsen, semua orang memandangmu dengan tatapan waspada. Sebagai ibu aku merasa gagal telah mendidik dia untuk menjadi anak baik dan sopan santun terhadap orang yang lebih tua darinya terlebih kamu adalah Papa kandungnya sendiri."


Tania menganggukan kepala. "Benar. Aku menyesal telah membiarkan Arsenio berperilaku begitu terhadapmu."


"Kalau boleh jujur sebenarnya aku risih dengan tatapan mereka. Sorot mata itu membuatku kesal dan ingin melampiaskan kekesalanku. Namun, aku sadar mungkin inilah balasan atas kejahatanku di masa lalu." Xander tersenyum ikhlas di hadapan Tania.


Tidak ada kekesalan seperti yang dialaminya beberapa waktu lalu. Wajah tampan itu semakin terlihat bersinar dan sangat menyejukan di saat Xander tersenyum lebar.


"Udah, jangan dipikirkan lagi. Yang penting kamu dan Arsen menikmati waktu liburan tanpa harus disibukan dengan urusan pekerjaan," sambung Xander.


Tania memindai wajah Xander dari sebelah kanan. Pria yang penah hadir mengisi hatinya itu masih sama seperti dulu. Debaran halus yang ia rasakan kembali hadir setiap kali menatap lekat salah satu keindahan ciptaan Tuhan.

__ADS_1


"Nanti aku akan menegur Arsen dan memintanya berhenti memanggilmu dengan sebutan itu. Jika memang ingin memanggilmu dengan panggilan 'om', sebaiknya tidak usah memberi embel-embel 'jahat' di belakangnya."


"Terserah kamu aja. Tapi ingat, jangan sampai Arsen tersinggung dan justru berpikiran jika aku yang memaksamu untuk berbicara dengannya. Aku enggak tahu harus dengan cara apa lagi membuat Arsen mau memaafkanku. Jadi please, jangan membuat rencanaku hancur karena masalah ini," pinta Xander dengan penuh pengharapan.


Setelah tujuh tahun, akhirnya Tania dapat melihat lagi sorot mata pengharapan terpancar di mata hazel nan indah di sebelahnya.


"Kamu tenang aja, aku enggak akan melibatkanmu dalam percakapan kami." Tania memandangi jalanan lurus di depan sana. "Oh ya, malam ini kamu menginap di mana? Apa kamu akan langsung balik Jakarta?"


Entah kenapa Tania jadi penasaran sebab sedari tadi Xander mengikuti ke mana pun mereka pergi. Padahal Tania berencana menyewa sepeda motor selama liburan. Setelah puas berkeliling, barulah meminta Edo menjemput mereka di penginapan dan mengantarkan kembali ke apartemen.


Perlahan, sudut bibir Xander tertarik ke atas. Tidak tahu harus menjawab apa.


Tania yang kebetulan menoleh ke sebelah Xander, sedikit terkesiap melihat pria itu sedang menyeringai seperti orang bodoh. Lalu, tiba-tiba saja perasaan curiga menelusup ke sanubari yang terdalam.


"Jangan bilang kalau kamu juga menginap di villa ini!" duga Tania sembari menyipitkan kedua mata yang memang pada dasarnya sudah sipit sedari bayi.


Xander tak merespon, pria itu justru terkekeh pelan hingga membuat Arsenio menggeliat dalam dekapan.


"Xander! Kamu ... kamu ...." Jari telunjuk Tania mengarah kepada Xander. "Iih ... nyebelin banget sih!" gerutu Tania sembari menghentakkan kaki di aspal. Lantas, ia segera menarik koper itu dan melangkah cepat meninggalkan Xander menuju salah satu villa di depan sana. Saking kesalnya dia bahkan lupa jika saat ini Arsenio masih dalam gendongan sang mantan suami.


Sungguh, Xander ingin tertawa kencang karena merasa gemas melihat sikap Tania yang seperti gadis remaja. Merajuk dengan bibir mengerucut dan menekuk wajah ke dalam membuat pria itu ingin mencubit gemas pipinya.


"Sudah tujuh tahun berlalu, tapi sikapmu masih sama seperti dulu," gumam Xander. "Lama-lama bisa gila jika terus melihat bibirmu yang terlihat seksi semakin menggoda iman saat sedang merajuk."

__ADS_1


...***...


__ADS_2