Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Kecelakaan


__ADS_3

"Tante Miranda!" pekik Tania histeris saat melihat tubuh Miranda terjatuh kemudian membentur aspal jalanan.


Pada saat kejadian berlangsung, Tania memang tengah tersenyum sambil memandangi punggung Miranda dari kejauhan. Namun, siapa sangka senyuman manis yang terukir di bibir wanita itu berubah menjadi isak tangis penuh kepedihan saat melihat tubuh Miranda tergeletak tak sadarkan.


Para pengunjung restoran serta security yang berjaga di depan pintu ikut terkejut akan insiden nahas yang menimpa Miranda. Suasana sekitar jalanan berubah ramai, mereka berbondong-bondong menghampiri korban kecelakaan bahkan ada sebagian dari mereka mengeluarkan telepon pintar kemudian mengabadikan kejadian itu.


Sekuat tenaga Tania berlari keluar parkiran restoran. Dia tak memedulikan ada atau tidaknya kendaraan yang lalu lalang, melintas di depannya. Saat telah menyebrang jalan, dia segera menerobos kerumunan orang hingga beberapa dari mereka saling mendorong demi memberinya jalan.


"Ya Tuhan, Tante Miranda!" Lutut Tania menyentuh aspal jalanan, tangan wanita itu gemetar hebat kala melihat darah segar mengalir di kepala mantan mertuanya. "Tante, bangun. Tante, please, jangan tinggalin aku!"


Raut kecemasan terlihat jelas di wajah cantik ibunda Arsenio. Wajahnya ikut memucat bersamaan dengan darah segar yang semakin banyak keluar dari kepala Miranda.


Jonathan yang baru saja keluar restoran, mengerutkan kedua alis melihat kerumunan orang di seberang sana. Terdengar suara teriakan orang meminta tolong, sarat akan kecemasan menggema di telinga pria berdarah Amerika.


Pria jangkung yang rambutnya mulai berubah keperakan mengedarkan pandangan, mencari keberadaan sang istri tercinta. "Ke mana Miranda? Perasaan tadi aku minta dia menunggu di sana? Apa dia ada di antar orang yang sedang berkerumun itu?" tanya Jonathan. Masih belum menyadari jika istrinya menjadi korban tabrak lari.


Rasa penasaran memaksa Jonathan menyebrangi zebra cross kemudian mendekati TKP. Ditunjang postur tubuh tinggi mencapai 2 meter, membuat pria itu dapat melihat jelas siapakah orang yang tengah terkapar tak berdaya dalam pelukan seseorang.


"Miranda! Astaga, Mama!" Jonathan ikut berjongkok di sebelah Tania. "Tania, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Miranda tertabrak?"


Tania menjawab dengan terbata. "A-aku ... hanya melihat ... t-tubuh Tante Miranda terbang sebelum terjatuh di aspal, Om. A-aku ...." Air mata wanita itu jatuh berderai saat mengingat kembali bagaimana tubuh Miranda menari dengan indah di udara kemudian luruh begitu saja di aspal.


Jonathan tersadar dari rasa panik berbalut kecemasan. Dia mengedarkan pandangan pada orang-orang yang berkerumun. "Pak, bisa tolong minta bantuan? Panggilkan ambulance atau taxi untuk membawa istri saya ke rumah sakit. Dia mengalami pendarahan. Saya takut istri nyawanya tak bisa diselamatkan karena terlalu banyak mengeluarkan darah."


Pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun menjawab, "Saya sudah panggilkan ambulance. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Mungkin sebentar lagi sampai."

__ADS_1


Usai mengucap kalimat terakhir, terdengar suara sirine mobil ambulance menggaung di telinga mereka. Mobil yang didominasi warna putih terparkir tepat di dekat tempat di mana Miranda terbaring sekarang.


Kedua petugas medis mengeluarkan brankar dari dalam mobil, kemudian mendekati tubuh korban yang berada dalam dekapan Tania. "Bu, tolong minggir sebentar. Kami akan membawa korban ke rumah sakit."


Tania dibantu salah satu warga agar bangkit dari posisinya saat ini. Tatapan mata wanita itu kosong seakan jiwanya tersesat pada dimensi lain.


Pria berseragam putih memasukan brankar itu ke dalam mobil. "Keluarga pasien ikut dengan kami sekarang!"


Mengingat betapa berharganya nyawa seseorang, salah satu dari mereka segera masuk ke dalam. Satu detik saja mereka terlambat memberi penanganan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas maka nyawa yang jadi taruhannya.


Jonathan menepuk pundak Tania dan berkata, "Om akan menemani Tante Miranda. Tolong kamu hubungi Xander dan minta dia ke rumah sakit segera. Kita ketemuan di sana, ya?"


***


"Papa, aku bosan!" keluh Arsenio seraya melipat kedua tangan di depan dada. Bocah kecil yang pernah memporakporandakan sistem pertahanan perusahaan kini berada di perusahaan bersama sang papa.


Xander tinggalkan tumpukan berkas itu. Meski semua data itu penting bagi perusahaan, tapi bagi Xander, Arsenio adalah hal terpenting dalam hidupnya kini. Dia pernah sekali melakukan kesalahan dengan meninggalkan Tania, kali ini tidak mau mengulangi kesalahan dengan menelantarkan anak tercinta.


Urat maskulin di lengan bisep terlihat menonjol ke permukaan saat dia menggendong Arsenio. "Emangnya kamu mau apa? Katakan, nanti papa minta Tante Laura membelikan sesuatu. Mainan? Buku bacaan? Atau ... es krim?"


Wajah Arsenio berubah seketika saat mendengar Xander menawarkan es krim kepadanya. "Aku mau es krim, Papa. Dua cup es krim rasa cokelat," ucapnya sambil menunjukan angka dua menggunakan jarinya yang mungil.


"Loh, kok dua? Bagaimana kalau kamu sakit perut lagi? Emang mau dirawat di rumah sakit? Dipasang jarum infus dan enggak bisa main sama temen-temen sekolah?" Xander tak langsung menolak permintaan Arsenio, dia justru mengingatkan kembali sang putera atas apa yang menimpanya beberapa waktu lalu.


Kedua jari telunjuk si kecil saling bersentuhan. Dia tampak sedang memikirkan semua perkataan Xander. "Ehm ... ya udah deh, satu aja. Aku enggak mau dirawat lagi. Kalu dirawat, aku enggak bisa main dengan Alesha dan Mama juga ngelarang nge-game padahal aku ingin sekali bertemu dengan teman-temanku di dunia maya."

__ADS_1


Xander mengulum senyum di bibir melihat tingkah laku anak kesayangannya itu. Dia mencuri ciuman di pipi Arsenio. "Oke deh, papa minta Tante Laura membeli es krim rasa cokelat untukmu, ya."


Tubuh mungil Arsenio kembali duduk di sofa panjang, sedangkan Xander menghubungi Laura menggunakan pesawat telepon yang ada di ruangan itu. Dia meminta sekretarisnya itu membelikan es krim kesukaan sang putera.


Sambil menunggu Laura tiba, Xander menemani Arsenio bermain. Keduanya terlihat sangat bahagia karena untuk kesekian kali bisa menghabiskan waktu bersama-sama.


Akan tetapi, keseruan mereka harus terhenti kala dering ponsel Xander berbunyi. Melihat nama sang mantan istri muncul di layar, pria itu bergegas menggeser tombol hijau.


"Xander, bisakah kamu menjemputku di Restoran Dining Sky sekarang? Tante Miranda baru saja mengalami kecelakaan dan dia dilarikan ke rumah sakit terdekat."


Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Xander membeku seketika. Berita yang baru saja disampaikan sukses membuat irama jantung pria itu memompa lebih cepat dari biasanya.


"Xander? Xander, apa kamu bisa mendengar suaraku? Aku-"


Tanpa membuang waktu terlalu lama, Xander bangkit dari sofa kemudian meraih jas yang disampirkan di sandaran kursi kebanggaan. Dia meraih kunci mobil dan tak lupa menggendong Arsenio untuk ikut bersamanya.


"Papa, kita mau pergi ke mana?" Arsenio keheranan karena saat ini dia tengah berada dalam gendongan sang papa.


Dengan langkah panjang, Xander menjawab, "Kita harus ke rumah sakit. Nenekmu kecelakaan, Boy."


Tatkala Xander tengah menunggu di depan pintu lift, di waktu bersamaan Laura keluar dari lift itu sambil membawa kantong plastik isi dua buah cup es krim. Satu untuknya dan satu lagi untuk Arsenio.


Alis Laura mengerut petanda bingung. "Tuan Xander, es krimnya?"


"Untukmu saja," sahut Xander singkat. Dia lantas masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lobi kantor.

__ADS_1


...***...


__ADS_2