
Sepuluh tahun yang lalu ....
"Ra, mau ikut kita nonton pertandingan basket tidak?" bisik Sela kepada seorang gadis berambut panjang dikepang dua. Kacamata minus bertengger di hidungnya yang mancung. Tatapan mata gadis itu lurus ke depan pada satu buah buku tebal berada di atas meja panjang terbuat dari kayu.
Ajakan Sela dari meja di sebelahnya membuat gadis bernama Aura Larasati mendongak dari fokusnya pada deretan huruf yang dirangkai menjadi sebuah kalimat dengan banyaknya paragraf dalam satu lembar buku tersebut. Menggeleng kepala dan menjawab, "Tidak, terima kasih. Aku mau duduk saja di sini sambil membaca materi yang baru saja diajarkan Pak Santanu."
Eva mencebikkan bibir mendengar jawaban teman sekelasnya. "Sok rajin jadi orang. Mata kuliah Pak Santanu sudah usai dan kini saatnya kita istirahat jadi untuk apa kamu fokus membaca semua materi ini, hem? Mendingan sekarang ikut kamu pergi, aku yakin kamu tidak akan merasa rugi."
"Nah, yang dikatakan Eva ada benarnya, Ra. Lebih baik kamu ikut dengan kami sekarang karena club basket Garuda hari ini sedang bertanding di lapangan." Sela menyenggol pundak Aura pelan. "Memangnya kamu tidak mau melihat Kak Abraham bermain basket bersama teman-temannya?"
Aura melirik Sela dan Eva bergantian, kemudian menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Ia tersenyum simpul kala membayangkan wajah Abraham. Wajahnya merona bak buah tomat segar yang baru saja dipetik dari perkebunan.
Sela dan Eva saling melirik lalu ikut mengulum senyum melihat sikap malu-malu kucing yang ditunjukan Aura. Kedua gadis itu tahu betul jika teman sekelasnya itu menaruh hati pada Abraham pada pandangan pertama.
"Bagaimana, Ra, mau ikut dengan kami tidak? Kami butuh kepastianmu sekarang juga." Sela mencoba memprovokasi Aura agar ikut bersamanya.
Masih menundukan wajah ke bawah, Aura berucap, "Iya, aku ikut dengan kalian. Tunggu sebentar, aku rapikan semua barang bawaanku dulu." Lantas ia segera memasukan alat tulis, laptop serta mendekap erat buku tebal di depan dada. Setelah itu barulah ia menyusul kedua teman sekelasnya yang sedang menunggu di depan pintu perpustakaan.
Setibanya di lapangan, Aura berdesakan di antara banyaknya orang yang menonton latihan basket antara tim Garuda dengan tim Merah Putih. Suasana sore hari itu cukup ramai, banyak dari para penonton didominasi kaum Hawa yang sengaja datang karena ingin menyaksikan sendiri bagaimana kepiawaian ketua basket tim Garuda saat memasukan bola ke dalam ring lawan.
__ADS_1
"Ra, duduk di sana saja, yuk! Daripada berdiri di sini yang ada nanti kepala kita jadi sasaran bola basket." Tanpa menunggu jawaban Aura dan Sela, Eva menarik kedua tangan temannya itu duduk di kursi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari arena permainan.
Suasana di lapangan cukup riuh. Sorak sorai penonton membuat pemain kedua belah tim menjadi lebih bersemangat. Satu di antara penonton tersebut adalah Aura, gadis berpenampilan sederhana dengan poni menutupi kening larut dalam suasana. Ia ikut bertepuk tangan tatkala para pemain memulai permainan mereka.
"Abraham! Semangat, ya! Kami mendukungmu dari sini!" teriak salah satu mahasiswi sastra Inggris yang kebetulan gedung Fakultas Ilmu Budaya tidak jauh dari Fakultas Ekonomi.
Abraham berhasil merebut bola dari tim lawan. Ia mendribble bola yang sempat dikuasai lawan, mengecoh dengan teknik permainan yang sangat epik. Lalu saat ada kesempatan barulah ia melempar bola tersebut hingga tercetaklah score 2-0 dengan point di tim Garuda.
"Yeah, Abraham hebat!" Para fans Abraham berteriak histeris saat melihat idola mereka berhasil menyumbangkan dua angka bagi tim.
Permainan terus berjalan hingga akhirnya score sementara dimenangkan oleh tim Abraham. Wasit meniup peluit petanda istirahat maka semua pemain meninggalkan arena permainan, duduk di kursi sambil rehat sejenak.
Abraham mengangguk. "Baik, Pak Pelatih. Saya akan lebih berhati-hati lagi saat mencetak score."
"Ya sudah, sekarang kalian boleh istirahat." Pelatih dari tim Garuda mempersilakan Abraham serta yang lainnya beristirahat sejenak sebelum memulai pertandingan.
Sela menyodorkan sebotol air minum kepada Aura. "Sana, berikan air ini untuk Kak Abraham. Aku yakin dia pasti senang menerimanya."
Aura terkesiap, tetapi tangannya tetap menerima botol air mineral tersebut. "Tapi, bagaimana kalau ternyata Kak Abraham menolaknya? Aku takut tidak malah membuang air yang kuberikan."
__ADS_1
Eva mendengkus kesal. "Kalau kamu ragu terus kapan Kak Abraham melihatmu, Ra. Sudah sana, berikan botol minuman itu kepada dia!"
Merasa gemas melihat Aura yang tak beranjak dari tempat duduknya, Eva dengan kencang mendorong teman sekelasnya itu sehingga gadis itu berada di sisi lapangan permainan. Kehadiran Aura yang secara tiba-tiba membuat semua orang menatap ke arah gadis itu.
Keringat dingin bercucuran membasahi punggung. Telapak tangan terasa dingin karena merasa gugup diperhatikan sedemikian rupa. Ingin mundur, tetapi hati kecil berkata untuk tetap memberi botol minuman kepada Abraham.
'Kamu pasti bisa, Ra!' Lantas Aura berjalan dengan penuh percaya diri di tengah lapangan. Jantung gadis itu berdegup kencang saat tanpa sengaja pandangan matanya beradu dengan pemilik iris coklat di depan sana.
"Apa yang sedang gadis itu lakukan di sini?" gumam Abraham dengan menautkan kedua alis.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Aura berhasil mendekati Abraham. Dengan gugup dan tangan gemetar ia memberi botol minuman kepada kakak seniornya itu.
"Kak Abraham, ini untukmu. Setelah meminum pemberianku, kuharap stamina Kakak kembali seperti sedia kala."
Sorak sorai terdengar melihat adegan di depan sana. Semua orang berteriak histeris karena Aura menjadi gadis pertama yang berhasil memberi minuman kepada Abraham. Para penonton yang didominasi kaum Hawa kembali menjerit histeris kala tangan kekar Abraham menerima pemberian gadis asing berambut kepang dua.
Tersenyum manis walau tak mengenal gadis di depannya. "Terima kasih, Nona ...."
"Aura Larasati. Panggil saja Aura. Selamat bertanding dan semoga kemenangan selalu berada dalam genggaman tangan Kak Abraham." Lalu Aura berlari kencang meninggalkan Abraham yang masih membeku di tempat. Hati gadis itu berbunga-bunga karena dapat memperkenalkan diri secara langsung pada sosok pria yang pernah menjadi penanggung jawab saat masa Orintasi Siswa berlangsung beberapa bulan lalu.
__ADS_1
...***...