Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu

Anak Genius : Antara Benci Dan Rindu
Perminfaan Maaf Xander


__ADS_3

Arsenio menggenggam tangan Tania dan menariknya menuju sofa ruang tamu. Di sana, di atas sofa yang biasa ia gunakan untuk merebahkan tubuhnya, Xander tengah duduk sambil menyesap kopi buatan Surti.


Melihat bagaimana tenangnya sikap Xander, kekesalan dalam diri Arsenio kembali membuncah. "Ck! Kenapa sih Om jahat itu datang ke sini sih? Mengganggu aja," dengkusnya kesal. Setiap kali melihat wajah Xander, emosi bocah kecil berusia enam tahun mendidih bagaikan air yang sedang dimasak.


Tania melirik Arsenio dan berkata, "Enggak boleh begitu, Sayang. Ingat pesan Mama tadi, harus menghormati orang yang lebih tua walaupun dia pernah melakukan kesalahan kamu wajib hormat pasanya sebab bagaimanapun Om Xander adalah Papamu."


Bocah genius pencipta virus I Hate You, Dad, menghela napas kasar. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa lelaki berengsek seperti Xander adalah ayah kandungnya.


"Om jahat mau ngomong apa? Aku enggak punya banyak waktu jadi kalau mau ngomong, ngomong aja sekarang." Arsenio berkata setelah mereka bertiga duduk bersama. Posisi duduk Xander tepat di hadapan Arsenio sehingga bocah itu dapat melihat jelas wajah rupawan sang papa.


Terdengar helaan napas bersumber dari Tania. Wanita itu hanya menggelengkan kepala, tidak tahu harus dengan cara apa lagi membujuk Arsenio agar tidak membenci Xander.


"Seperti yang Om katakan tadi, bahwa kedatangan Om ke sini ingin minta maaf sama kamu. Om enggak tahu jika saat kami berpisah, kamu ada di dalam perut Mamamu. Andai aja Om tahu, mungkin enggak akan membiarkan Mamamu pergi dengan membawamu di perutnya. Om pasti menjaga dan melindungi kalian." Tampak jelas raut penuh penyesalan di wajah Xander. Matanya yang hazel memandang sendu pada dua sosok di hadapannya.


Kedua tangan Arsenio terlipat di depan dada. "Setiap manusia yang diciptakan Tuhan pasti diberikan akal untuk bisa berpikir. Pun begitu dengan Om. Aku yakin, Om adalah orang pintar dan hebat buktinya dipercaya Kakek Jo untuk menjadi pemimpin di kantor. Namun sayang, Om enggak menggunakan kepintaran yang dimiliki untuk mencari tahu apa aku ada di perut Mama atau enggak. Om membiarkan Mama hidup menderita dan aku enggak suka itu."

__ADS_1


Tubuh mungil itu maju ke depan. "Apa Om tahu bagaimana menderitanya aku dan Mama saat Bu Zainab serta orang-orang di sekitar rumah menghina kami? Mereka mengatakan Mama bukanlah perempuan baik-baik hingga aku lahir tanpa Papa. Haikal dan si Kembar mem-bully-ku, mereka bilang kalau aku anak haram, enggak pantas sekolah dan bermain bersama yang lain hingga teman-teman jauhiku. Untungnya ada Ayra yang mau berteman sama aku walau Haikal, Arsya dan Arka sering mengerjai kami."


"Om tahu enggak bagaimana rasanya diasingkan teman-teman sekolah? Rasanya itu enggak nyaman, Om. Kita seakan berbeda dari yang lain padahal Bu Anisa selalu bilang untuk enggak membeda-bedakan manusia sebab Tuhan menciptakan kita semua sama. Baik kaya-miskin maupun cantik-miskin, kita semua makhluk ciptaan Tuhan."


Hati Xander seakan teriris mendengar setiap kata yang diucapkan Arsenio. Lelaki itu menatap buah cintanya bersama Tania dengan sendu. Terlebih saat melihat sorot mata anak semata wayangnya yang memancarkan betapa menyedihkannya kehidupan mereka sebelum bertemu dengannya.


Lantas, Xander menggigit bibir bawahnya mencoba menahan sesak yang semakin lama menghimpit dada. Ia merasa menjadi lelaki paling berengsek di muka bumi ini karena menelantarkan mantan istri dan darah dagingnya sendiri. Andai saja Miranda tidak menghasut dan membuat jebakan mungkin saat ini kehidupan mereka akan berbeda.


"Tapi untungnya semua bisa aku bersama Mama. Kami bebas dari hinaan mereka semenjak Mama bekerja di Jakarta. Bu Zainab udah enggak ngehina Mama lagi, pun begitu dengan Haikal. Anak nakal itu enggak nge-bully aku lagi seperti dulu. Teman sekolahku yang sekarang semuanya baik dan mau berteman sama aku. Itu semua berkat bantuan Kakek Akmal dan Kakek Johan. Mereka berdua baik sama aku dan Mama." Senyuman lebar tercipta di sudut Arsenio. "Kakek Jo juga baik. Aku sayang mereka semua."


Tania hanya tersenyum hambar, tidak menggelengkan kepala apalagi menganggukan kepala. Tidak sampai hati melukai hati Xander, padahal lelaki itu pernah menyakitinya dengan ucapan pedas seperti seblak level 10.


***


Sementara itu, Jonathan sudah mulai menjalankan misinya memberi pelajaran berharga kepada istrinya--Miranda. Sejak kemarin malam mereka sudah pindah ke sebuah rumah sederhana di perkampungan padat penduduk yang jaraknya antara rumah satu dengan lainnya hanya sebatas satu jengkal saja. Bahkan saat mereka membuang angin sudah bisa dipastikan tetangga sebelah mendengarnya.

__ADS_1


"Ish, ini makanan apa yang kamu masak, Salimah, kenapa rasanya aneh sekali?" keluh Miranda kepada salah satu pelayannya yang ikut terlibat dalam skenario buatan Jonathan. Melihat sepiring nasi goreng tanpa sayuran dan hanya dicampur satu buah telur membuat Miranda menatap makanan di depan sana dengan tatapan mengandung sejuta arti.


Seumur hidup Miranda belum pernah makan nasi goreng hanya dicampur satu butir telur saja tanpa adanya sayuran dan lauk pelengkap lainnya. Jadi jangan heran jika saat ini wanita itu sedikit tidak berselera makan. Terlebih saat Salimah memasaknya, pelayannya itu tidak menuangkan margarin melainkan minyak kemasan dengan merk tak terkenal.


"Tentu aja nasi goreng, Nyonya. Hanya aja versi yang berbeda," sahut Salimah. "Rasanya aneh bagaimana? Perasaan tadi semua bumbu udah saya goreng hingga matang seperti biasanya."


Miranda berdecak kesal saat melihat penampilan nasi goreng itu tidak begitu sedap dipandang. "Lihat, enggak ada sayuran hijau sama sekali di pinggiran piring. Selain itu, udang dan cumi pun enggak ada di atas nasinya. Aku enggak terbiasa makan makanan sederhana seperti ini." Miranda menyodorkan piringnya ke depan. "Buatkan nasi goreng biasanya untukku. Harus lengkap. Mengerti?"


"Tapi, Nyonya."


Belum selesai Salimah berkata jemari tangan Miranda sudah lebih dulu terangkat ke udara.


"Jangan mempersulit asisten rumah tanggamu sendiri, Ma! Ingat, sekarang kita bukan lagi orang kaya. Banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan. Sekali aja berbuat kesalahan maka menyebabkan kerugian teramat besar kepada kita." Jonathan duduk di samping Miranda, kemudian meraih satu set alat makan dan menyantap hidangan yang sudah dibuatkan Salimah.


"Udahlah, jangan banyak bicara! Sebaiknya kamu habiskan semua makanan yang diolah Salimah, enggak usah protes. Syukuri aja apa yang Tuhan berikan, daripada kelaparan." Keputusan Jonathan sudah bulat, tidak mau diganggu gugat.

__ADS_1


...***...


__ADS_2