
Tania dan Miranda berjalan bersisian dengan tangan mantan istri Xander melingkar di lengan mantan ibu mertuanya sedangkan tangan Miranda menepuk punggung tangan ibunda Arsenio. Keduanya tampak terlihat akur bagai ibu dan anak. Sesekali mereka tertawa bersama membicarakan banyak hal yang dirasa memang menggelitik perut masing-masing.
Jonathan sedari tadi memilih berjalan di belakang kedua wanita itu, memberi banyak ruang bagi mereka agar dapat saling mengenal satu sama lain. Walaupun keduanya pernah tinggal dalam satu atap yang sama tujuh tahun lalu, tetap saja mereka membutuhkan banyak waktu untuk memulai sebuah hubungan baru.
Diam-diam Jonathan mengeluarkan telepon genggam miliknya dari dalam saku celana, kemudian memotret pemandangan langka di depan sana lalu mengirimkan hasil tangkapan itu pada seseorang.
[This photo is good, isn't it?]
Itulah pesan singkat yang Jonathan kirimkan kepada anak semata wayangnya, Xander. Berharap agar pria itu mau memaafkan Miranda, sama seperti Tania yang berlapang dada menerima permintaan maaf Miranda. Jonathan hanya ingin agar keluarga kecilnya kembali rukun seperti sedia kala.
"Tania, kapan-kapan kamu main ke rumah. Nanti Tante buatkan bakwan jagung spesial untukmu," ujar Miranda tanpa melepaskan tangan Tania dari lengannya.
Miranda merasakan kedamaian dan ketenangan saat berada di dekat mantan menantunya itu. Kebencian, amarah dan dendam yang bersarang dalam dada telah sirna di saat dia memberanikan diri meminta maaf pada Tania. Awalnya memang terasa berat karena merasa merendahkan diri sendiri di hadapan seseorang yang paling dia benci di dunia ini. Namun, dengan tekad yang bulat karena ingin berubah, dia mengesampingkan egonya sendiri untuk mendapat pengampunan dari Tania.
"Wah, boleh tuh, Tan. Kapan-kapan deh aku mampir. Rumah Tante masih yang dulu, 'kan?" tanya Tania memastikan. Maklum, sudah tujuh tahun tak pernah menginjakan lagi kakinya di rumah mewah bergaya Eropa, dia khawatir jika Miranda dan Jonathan telah pindah ke rumah yang lebih mewah dari sebelumnya. Terlebih perusahaan Jonathan sekarang semakin berjaya hingga Tania berpikir rasanya mustahil jika mereka tidak mencari hunian baru yang lebih megah dari kediaman mereka sebelumnya.
__ADS_1
Ada perasaan sedih menyelimuti diri saat mendengar pertanyaan Tania. Bagaimana tidak, kini Miranda telah meninggalkan kemewahan itu semenjak Joanthan mengatakan bahwa perusahaan berada di ambang kehancuran.
Tersenyum kaku guna menyembunyikan kesakitan yang teramat dalam. "Tante sekarang sudah tidak tinggal di rumah itu lagi, Nia. Om dan Tante pindah ke rumah kontrakan yang ada di kawasan padat penduduk. Rumah kecil sih sekitar ukuran 36 meter, tapi cukup nyaman untuk ditinggali. Tidak masalah 'kan, kalau Tante mengundangmu datang ke rumah kontrakan kami yang baru?"
Tania terdiam beberapa saat, mencerna semua kalimat yang diucapkan Miranda. Hanya segelintir orang saja yang tahu jika Jonathan membuat skenario seolah-olah mereka mengalami kebangkrutan untuk memberi pelajaran hidup bagi Miranda. Jadi jangan heran jika saat ini Tania terlihat kebingungan karena tak ada satu orang pun yang memberitahunya.
Menyadari Tania yang tak merespon ucapannya, Miranda kembali berkata, "Namun, kalau kamu keberatan, tidak masalah. Tante tidak akan memaksamu untuk singgah ke gubuk reyot kami."
Raut wajah Miranda berubah sendu saat mengucap kalimat terakhir. Entah kenapa dia sedikit kecewa karena menganggap Tania sama seperti teman-teman geng sosialitanya. Akan berada di sisinya saat dia tengah berjaya. Menjauh bila dia sudah tak mempunyai apa-apa lagi untuk dibanggakan.
Tangan yang semula melingkar di lengan Miranda beralih merangkul bahu mantan mertuanya itu. Ia usap lembut bahu wanita itu dengan pelan.
"Nanti Tante kirimkan saja alamatnya di mana. Akhir pekan aku akan datang ke rumah sambil membawa makanan kesukaan Tante. Ehm ... Tante masih suka lapis legitnya buatan Bu Juhersih, 'kan? Nah, nanti aku mampir sebentar membeli lapis legit tersebut. Setelah itu, baru ke rumah Tante. Gimana?"
Miranda tertegun. Tujuh tahun berlalu, tetapi Tania masih mengingat salah satu makanan kesukaannya. Bahkan, Lidya saja yang diagung-agungkan menjadi calon menantu ideal keluarga Vincent Pramono, tak begitu hapal dengan makanan kesukaannya. Sementara Tania, wanita yang pernah dia benci justru tahu betul apa makanan kesukaannya. Benar-benar wanita idaman mertua.
__ADS_1
Ibunda kandung Xander mengangguk dan tersenyum. "Boleh. Tante tunggu kedatanganmu di rumah."
Percakapan mereka harus terhenti di saat kedua wanita itu keluar dari restoran.
"Tania, sekali lagi tante ucapkan terima kasih karena bersedia memaafkanku. Semoga hubungan kita semakin dekat layaknya mertua dan menantu."
Tania mengulum senyum di bibir. Wajahnya merah merona mendengar ucapan itu. Dengan malu-malu dia menjawab, "Aah, Tante, tidak perlu sungkan. Akan sangat berdosa sekali jika aku tidak memaafkan Tante. Tuhan saja mau memaafkan semua kesalahan hamba-Nya, masa iya aku, yang hanya manusia biasa tak mau memaafkan."
Setelah berpamitan dan mencium pipi kanan dan kiri, kedua wanita itu berpencar. Jonathan dan Miranda berjalan keluar gedung restoran, sedangkan Tania tengah menanti ojek online yang akan mengantarkanya kembali ke kantor.
"Astaga. Kenapa aku jadi pelupa begini sih! Tadi 'kan aku membawa berkas yang harus kuserahkan pada Xander. Aku malah meninggalkannya di dalam restoran," gumam Jonathan saat menyadari ada barang penting yang tertinggal.
Miranda mendengar suara sang suami segera menoleh ke samping. "Selagi masih di sini, diambil aja, Pa. Itu 'kan berkas penting, kalau hilang bahaya bisa disalahgunakan orang lain."
"Ya sudah. Kamu duluan aja. Nanti aku nyusul."
__ADS_1
Tanpa membantah sedikit pun, Miranda mengayunkan kaki melintasi zebra cross yang diperuntukan khusus bagi pejalan kaki yang hendak menyebrang. Jalanan cukup sepi untuk itulah Miranda memberanikan diri menunggu taxi di seberang restoran. Namun, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja satu unit mobil melaju dengan kecepatan tinggi mengarah kepada Miranda. Kemudian, tubuh wanita paruh baya itu melayang ke udara. Menari indah di atas awang sebelum akhirnya terjatuh menyentuh lantai dan jalanan aspal yang semula hitam berubah menjadi merah.
...***...